Pengamat: Pemerintah perlu bantu persiapan ekspor perikanan

id perikanan,ekspor ikan,eksportir,kkp,pengusaha ikan,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini

Dokumentasi- Hasil tangkapan ikan nelayan Indonesia. (Ist)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Pengamat sektor perikanan Abdul Halim menyatakan pemerintah perlu membantu pelaku usaha guna mempersiapkan kesiapan mereka mengekspor komoditas perikanan ke Amerika Serikat, atau mencari pasar baru di luar sasaran tradisional ekspor.

"AS (Amerika Serikat) menerapkan standar baru untuk ekspor perikanan, yakni SIMP (Seafood Import Monitoring Program)," kata Abdul Halim di Jakarta, Minggu.

Menurut Abdul Halim, penerapan standardisasi baru terkait dengan komoditas perikanan yang masuk ke negara adidaya tersebut dinilai merupakan hal yang wajar dilakukan.

Namun, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan itu juga mengingatkan bahwa permasalahannya adalah bagaimana kesiapan pemerintah dan pelaku usaha Indonesia.

"Apakah semata fokus mengejar pasar AS dengan pelbagai syarat yang ditetapkan atau berani menciptakan pasar baru dengan keunggulan produk olahan misalnya," tanyanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen meningkatkan nilai perdagangan masing-masing negara.

"Indonesia dan AS memiliki keinginan yang sama guna meningkatkan hubungan perdagangan," kata Arlinda dalam acara Business Matching Indonesia-USA yang diselenggarakan di Konjen RI di New York, Amerika Serikat, Kamis (17/1).

Arlinda ketika memberikan kata sambutan dalam acara tersebut memaparkan pada periode Januari hingga Oktober 2018, perdagangan antara kedua negara meningkat 2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menurut dia, pada saat ini juga terjadi peningkatan korporasi yang berasal dari Negeri Paman Sam yang ingin berinvestasi di dalam Indonesia.

Dirjen PEN juga mengemukakan dalam rangka menunjukkan keseriusan tersebut, dalam rangka kunjungan Mendag ke AS, 14-19 Januari, pihaknya membawa pengusaha dari sekitar 15 perusahaan.

Delegasi bisnis Indonesia yang menyertai kunjungan kerja Mendag itu terdiri dari para pengusaha yang berminat mengembangkan ekspor dan impor dengan AS, serta melakukan investasi baik di AS maupun di Indonesia. Hal ini merupakan kelanjutan dari kunjungan kerja pada bulan Juli 2018, di mana Mendag RI dan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross antara lain sepakat untuk meningkatkan perdagangan dua arah dari 28 miliar dolar AS saat ini menjadi 50 miliar dolar AS.

Sebagaimana diketahui, total perdagangan Indonesia-AS mencapai 25,92 miliar dolar AS, surplus untuk Indonesia sebesar 9,7 miliar dolar AS. Sementara total perdagangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif sebesar 0,39 persen. Pada tahun 2017, AS merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-2 setelah China dengan nilai 17,1 miliar dolar AS.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar