Kurir barang terdesak naikkan tarif ongkos kirim

id jne,kurir,kargo,paket,kiriman,tiki

Aktifitas di kantor JNE Cabang Utama Palembang, Selasa (8/1). (ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/Erwin Matondang/18)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Kurir barang mengaku terdesak menaikkan tarif ongkos kirim paska kenaikan biaya Surat Muatan Udara atau kargo beberapa maskapai penerbangan. 

Salah satunya jasa kurir JNE Cabang Utama Palembang yang setiap harinya rata-rata mengirim 4,6 ribu kiriman dari Kota Palembang ikut terdampak dengan kenaikan tarif cargo maskapai. 

"Satu bulan terakhir sudah tiga kali naik SMU itu, sementara sampai sekarang kami belum menaikkan tarif ongkir, akibatnya dari sisi (biaya) cost kami bisa dibilang merugi, kondisi ini tentu mendesak untuk merubah tarif ongkir," kata Branch Manager JNE Cabang Utama Palembang Muhammad Daud, Selasa. 

Menurutnya kenaikan yang dikenakan salah satu maskapai bahkan sampai 200 persen, hal tersebut dikhawatirkan memicu inflasi serta mengancam keberlangsungan pelaku bisnis Usaha Kecil dan Menengah yang mengandalkan pengiriman barang lewat kurir. 

Dia menerangkan kenaikan biaya cargo mulai terasa sejak Desember 2018, awalnya masih dirasa cukup terjangkau dengan kenaikan SMU tidak sampai 20 persen, namun pada awal 2019 SMU naik hingga 40 persen, akibatnya pihak JNE Palembang mengklaim rugi Rp 5.000 perkilogram tiap barang kiriman.

"Dari sisi biaya (cost)  sudah banyak minus, tidak mungkin bertahan dengan tarif ongkir yang sekarang, mengenai tarif terbaru sedang di kaji oleh pihak pusat, kemungkinan awal Februari ada tarif baru," ujar Muhammad Daud. 

Kondisi tersebut dikeluhkan banyak pengelola jasa kurir lain, namun menurutnya pihak maskapai tidak menggubris dan tetap bertahan dengan menaikkan SMU, padahal barang yang dikirim JNE Palembang menggunakan maskapai setiap hari rata-rata mencapai 90 persen, 10 persen sisanya jalur darat. 

Meskipun nanti jasa kurirnya akan menaikkan tarif ongkir, ada beberapa alternatif lain telah disiapkan untuk mengantisipasi pembiayaan berlebih, misalnya memaksimalkan pengiriman barang via jalur darat mengingat sudah tersedianya jalan tol Palembang - Lampung. 

"Sekarang kan belum selesai tolnya, kalau misalnya sudah selesai pengiriman barang yang sifatnya tidak urgent akan pakai mobil, jarak tempuhnya 8 jam kurang lebih, jadi pagi nganter malamnya sudah ada di Jakarta. Tapi untuk paket makanan yang cepat basi seperti pempek atau paket ke wilayah Indonesia Timur itu tetap pakai maskapai," tambah Muhammad Daud.

 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar