Mentan tinjau lahan pasang surut di Banyuasin

id mentan,berita sumsel,berita palembanga,antara sumsel,antara palembang

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman didamping Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru (kanan) dan Bupati Banyuasin Askolani Jasi (Kiri) meninjau pilot project lahan rawa di Desa Telang Rejo Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin. Menteri Amran mengembangkan lahan rawa di seluruh Indonesia yang belum termanfaatkan termasul di Sumatera Selatan. (ANTARA News Sumsel/18)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pilot proyek lahan rawa di Desa Telang Rejo, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis.

Dalam kunjungannya itu, Mentan melihat lahan sawah rawa di Sumsel yang berpotensi untuk ditingkatkan produksinya, baik produktivitas maupun indeks pertanaman sebagai lumbung pangan masa depan Indonesia. Luas pilot proyek lahan rawa pasang surut di Muara Telang, Banyuasin mencapai 25.000 hektare yang tersebar di 16 desa, yang dikelompokkan dalam empat korporasi.

Sementara lahan rawa pasang surut di kabupaten ini mencapai 161 ribu hektare lebih.

Dari luasan lahan ini, produksi padi Muara Telang sebanyak 212 ribu ton lebih, sedangkan jagung sekitar 3.700 ton. "Kita lakukan optimasi lahan pasang surut di sini. Dengan teknologi yang mengatur sistem pengairan. Harapannya produktivitas akan lebih meningkat lagi sehingga nilai ekonominya tinggi", ujar Mentan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyambut baik program ini, karena diyakini akan secara nyata meningkatkan kesejahteraaan petani. "Ini sesuai dengan visi gubernur, "Sumsel maju untuk semua", terutama misi pertama yaitu membangun Sumsel berbasis ekonomi kerakyatan yang didukung sektor pertanian, industri dan UMKM yang tangguh untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan", kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumsel Erwin Noorwibowo.

Lahan rawa pasang surut Banyuasin merupakan salah satu potensi rawa yang dimanfaatkan Kementan sebagai lahan pertanian dalam program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi). Pada tahap awal tercatat 550.000 hektare lahan rawa di enam provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Jambi dan Lampung.

Catatan Pusdata Daerah Rawa dan Pasang Surut, Indonesia memiliki potensi lahan rawa 33,4 juta hektare yang terdiri atas lahan pasang surut 20,1 juta hektare dan rawa lebak 13,3 juta hektare. Dari jumlah tersebut, diperkirakan seluas 9,3 juta hektare sesuai untuk pengembangan kawasan budidaya pertanian.

Pilot proyek yang pertama kali diekspos ke publik ada di Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan seluas 4.000 hektare. Optimasi lahan rawa dilaksanakan melalui tata kelola air dan lahan, seperti kegiatan rehabilitasi dan atau penyempurnaan infrastruktur pintu air irigasi, penguatan pematang, tanggul, drainase, tabat, surjan dan lainnya. Penerapan teknologi budidaya tanaman ini disesuaikan dengan tipologi lahan. Menteri Pertanian Amran Sulaiman tidak ingin pengelolaan lahan rawa biasa-biasa saja, karena itu dalam pengelolaannya proyek optimalisasi lahan rawa ini akan membangun koperasi yang terkorporasi, sehingga lebih profesional.

Nantinya bisnis model korporasi berbasis usaha tani padi ini terdiri dari direktur utama, manajer, supervisor dan staf.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar