Pangsa pasar bisnis cenderamata daring diperkirakan semakin besar

id Belanja online, berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang

Ilustrasi-belanja online. (Pixabay/Mediamodifier)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Pangsa pasar bisnis penjualan cenderamata produk-produk khas Indonesia yang dilakukan secara daring diperkirakan semakin membesar di masa mendatang.

Pemilik (CEO) qlapa.com Benny Fajarai di Palembang, Kamis, dalam acara BI Goes To Campus bertema "Ekonomi Digital Itu Kita Banget" di Palembang, Kamis, mengatakan sejak membuka bisnis tiga tahun lalu ternyata terjadi peningkatan pangsa pasar sekitar 15 persen.

"Saya perkirakan, di masa datang akan semakin membesar, karena kerajinan khas Indonesia mulai mendunia seiring semakin banyaknya bisnis daring sejenis," kata Benny. 

Di hadapan audiens yang sebagian besar mahasiswa itu, pria asal Pontianak (Kalimantan Barat) ini bercerita ketertarikannya berbisnis daring kerajinan tangan ini lantaran adanya disparitas harga yang cukup jauh antara kota asal produk dengan kota yang jadi market.

Selain itu, Benny juga tertantang karena pernah mendatangi sebuah pameran kerajinan tingkat nasional, justru banyak produk impor di dalamnya.

"Pelecutnya begini, saya pernah beli dompet kulit di Yogyakarta Rp80.000, tapi ketika sampai di Jakarta dengan kualitas yang sepadan harga sudah Rp300.000. Dari sini saya yakin membuka bisnis cederamata, karena melihat ada peluang di sini yang belum terjamah," ujar dia.

Awalnya, ia hanya bermodalkan Rp500.000 untuk membeli produk kerajinan tangan di Bali. Ia memulainya juga secara tidak sengaja, yakni saat berkunjung ke kota wisata itu tiga tahun lalu untuk berlibur, tepatnya di usia 25 tahun.

Lalu, Benny mencoba memasang produk yang dibeli itu di media sosial, dan mendapatkan respon positif. Lalu, usaha kemudian berkembang karena mulai banyak pesanan.

Puncaknya Benny kemudian membangun sistem belanja daring qlapa.com dengan menggandeng kalangan profesional. Saat ini, usaha Benny sudah masuk 10 besar situs belanja kerajinan tangan di Indonesia. Ia pun masuk dalam daftar "30 Under 30 Asia" yang dilansir Majalah Forbes 2016.

Menurutnya, berbisnis online ini "susah-susah gampang" karena sangat tergantung sekali dengan produk yang ditawarkan. Oleh karena itu, sangat dituntut inovasi dari pemilik untuk menemukan metode terbaik agar situs belanja mendapatkan pelanggan tetap.

"Contohnya begini, pengrajin umumnya membuat barang itu-itu saja selama bertahun-tahun. Karena memang mereka tidak pernah mendengar respon balik dari konsumen. Namun, berkat belanja online, kami bisa mensurvei pembeli kami," katanya.

Ia bisa mengetahui produk terlaris apa, dan produk yang masuk dalam kerangjang belanja itu apa, sehingga pengrajin diarahkan untuk mengikuti kehendak konsumen.

Terlepas dari kesuksesan yang sudah diraihnya itu, Benny mengatakan terdapat tantangan yang besar di masa datang karena produk-produk kerajinan Indonesia masih bersaing dengan produk asing.

"Ini tugas kita semua yakni bagiamana merayakan dan menghargai produk lokal. Dan satu lagi tipsnya bagi pemula, jangan mencoba berkompetisi dengan yang sudah ada, jangan coba untuk menyaingi Tokopedia atau Gojek karena itu sudah besar sekali. Coba cari celah lain, seperti jual kasur online, kan sekarang belum ada," kata pria 28 tahun ini.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar