Tren kenaikan harga batu bara diperkirakan berlanjut

id batu bara,berita sumsel,berita palembang,antara sumsel,antara palembang,harga batu bara,pengusaha batu bara

Alat-alat berat dioperasikan di pertambangan Bukit Asam yang merupakan salah satu area tambang terbuka (open-pit mining) batu bara terbesar. (ANTARA News Sumsel/Nova Wahyudi)

Solo (ANTARA News Sumsel) - Tren kenaikan harga batu bara diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun sehingga para eksportir diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk membantu peningkatan devisa negara.

Analis Fungsi Koordinasi dan Komisi Kebijakan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Rendra Prasetya Kiswono di Solo, Jawa Tengah, mengatakan, harga batu bara naik karena peningkatan permintaan pasar dunia seiring dengan tibanya musim dingin di daratan China.

Negeri Tirai bambu itu membutuhkan pasokan batu bara yang cukup banyak untuk menghidupkan enam pembangkit listrik dalam rangka menghadapi suhu udara di bawah nol derajat Celsius.

"Harga batu bara sedang bagus-bagusnya saat ini, ya sebaiknya momen ini dipakai untuk meningkatkan volume ekspor," kata dia dalam acara "Capacity Building" wartawan ekonomi Sumsel yang diselenggarakan Bank Indonesia.

Peningkatan volume permintaan yang tinggi tahun ini, khususnya di Asia, menjadi biang keladi lonjakan harga komoditas sumber energi utama dunia ini.

Padahal batu bara sempat dikhawatirkan sudah tidak akan populer lagi, mengingat sifatnya yang tidak ramah lingkungan.

Satu hal menarik lainnya, empat importir utama di Benua Kuning meningkatkan permintaan batu baranya secara bersamaan pada tahun ini. Hal ini tidak biasanya terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

China mengimpor 104,5 juta ton batu bara pada periode Januari-Mei 2018. Jumlah ini meningkat 10,2 persen dari periode yang sama pada tahun 2017. Sementara itu, India, sang pengimpor terbesar kedua setelah Negeri Panda, mengimpor 77,4 juta ton pada lima bulan pertama tahun ini, atau naik 3,3 persen secara tahunan.

Ia mengatakan momen ini juga sebaliknya dimanfaatkan para eksportir, khususnya asal Sumatera Selatan, karena terbukti mampu mendongkrak perekonomian daerah.

Berkat adanya kenaikan harga batu bara sejak April 2018 membuat pangsa sektor pertambangan dan penggalian di Sumsel berkinerja positif yakni mencapai 19,90 persen dari PDRB, atau menjadi yang tertinggi disusul industri pengolahan 19,63 persen, dan pertanian 15,15 persen pada triwulan III.

Adanya perbaikan kinerja ekspor ini juga turut andil dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi Sumsel di triwulan III yang tercatat 6,14 persen, selain adanya faktor lain yakni konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.

"Sejauh ini dengan asumsi harga batu bara terus bertahan tinggi hingga akhir tahun, BI optimistis pertumbuhan ekonomi Sumsel di kisaran 5,8 --- 6,2 persen," kata dia.

Terkait dengan adanya aturan baru yakni pencabutan Pergub Nomor 23/2013 tentang Tata Cara Angkutan Batu Bara yang berdampak pelarangan truk batu bara melintas di jalan umum, menurutnya BI, akan berkordinasi dengan Pemprov.

"Terkait ini, BI akan berkoordinasi dengan pemprov karena jalur distribusi batu bara ini sangatlah vital. Jika tersendat maka akan berpengaruh pada sektor ini. Tapi, jika ada jalan alternatif ya tidak masalah, kami juga ingin tahu seperti apa," kata dia.

Dengan pencabutan Pergub itu, terhitung tanggal 8 November 2018 maka kendaraan batu bara yang nekat dan melintas akan dikenakan tilang Rp500.000 oleh Dishub dan pihak Lantas Polda Sumsel karena truk batu bara wajib melewati jalan khusus. Namun jalur khusus ini dinilai pengusaha terkait belum memadai.

Pada tahun 2018, total produksi batu bara Sumsel diperkirakan sekitar 48,5 juta ton atau sembilan persen produksi nasional.
 
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar