Masyarakat tidak sadar sistem pangan mengancam alam

id buang makanan,sampah makanan,penelitian WWF,beria sumsel,berita palembang

Membuang makanan (Greeners.Co)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Hasil penelitian WWF terbaru menyebut 91 persen masyarakat tidak paham bahwa cara mereka mengonsumsi, memproduksi dan membuang makanan menjadi ancaman terbesar bagi planet bumi.

Dalam hasil penelitian yang dirilis bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia tersebut, menurut Direktur Komunikasi WWF-Indonesia Elis Nurhayati di Jakarta, Rabu, kelompok masyarakat usia 18 hingga 24 tahun tidak mengetahui kaitan antara makanan dengan keberlangsungan bumi.

Pangan menghabiskan sumber daya alam paling besar sekaligus menghasilkan emisi gas rumah kaca paling besar. Produksi pangan menggunakan 34 persen lahan dan 69 persen air tawar.

Inilah yang menurut hasil penelitian menjadi penyebab utama deforestasi dan hilangnya habitat lainnya. Namun sepertiga dari semua makanan yang dihasilkan tidak pernah dikonsumsi.

Sistem pangan bertanggung jawab atas sekitar seperempat emisi gas rumah kaca dunia, sepertiganya berasal dari makanan yang terbuang, ujar Elis mengutip hasil penelitian tersebut.

Survei ini menemukan hal yang mengkhawatirkan di kalangan anak muda, di mana 11 persen remaja berusia 18 hingga 24 tahun tidak menganggap sistem pangan menimbulkan ancaman apa pun terhadap alam. Sementara lebih dari 40 persen menganggap ancamannya kurang signifikan.

Hanya kelompok masyarakat berusia di atas 55 tahun yang memiliki kesadaran yang lebih besar terhadap masalah ini.

"Kabar baiknya kita dapat membuat sistem pangan yang bermanfaat untuk manusia dan alam. Jika makanan diproduksi lebih berkelanjutan, didistribusikan secara adil, dan dikonsumsi lebih bertanggung jawab, kita dapat memberi makan semua orang tanpa merusak lebih banyak hutan, sungai, dan lautan," kata Elis.

Lebih lanjut, ia mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dari mana makanan berasal, dan mengubah perilaku untuk memastikan berfungsinya sistem pangan yang baik.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar