Menteri Perdagangan ajak mahasiswa kembali ke tanah air

id Enggartiasto Lukita,Menteri Perdagangan,berita sumsel,berita palembang,berita antara,EFTA,Johann Schneider,negosiasi Indonesia-EFTA CEPA

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/Ang/ama)

London (ANTARA News Sumsel) - Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita mengajak para mahasiswa Indonesia yang sedang tugas belajar di Swiss dan menyelesaikan tugas agar dapat kembali ke tanah air karena negara membutuhkan tenaga terampil untuk membangun Indonesia.

Ajakan Mendag itu disampaikan dalam pertemuannya dengan diaspora Indonesia yang berada di Swiss dan Liechtenstein yang diadakan di Zurich.

Pensosbud KBRI Bern Sasanti Nordewati dalam keterangannya kepada Antara London, Jumat, mengatakan kehadiran Mendag di Swiss dalam rangkaian kunjungan kerjanya pada 1 - 2 Oktober 2018 untuk menghadiri pertemuan yang diadakan di Swiss.

Dalam pertemuan yang dihadiri 70 orang perwakilan diaspora Indonesia terdiri dari berbagai unsur, di antaranya, perwakilan dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Swiss dan Liechtenstein, kalangan profesional, wiraswasta dan ketua kelompok masyarakat Indonesia di Swiss. "Diaspora yang ada di Swiss adalah Duta Indonesia yang yang membawa nama baik Indonesia di manapun berada,"tutur Mendag dan menyerukan kepada mahasiswa Indonesia agar dapat kembali ke tanah air karena negara membutuhkan tenaga terampil untuk membangun Indonesia.

Dubes RI, Muliaman Hadad mengatakan jumlah diaspora Indonesia di Swiss dan Liechtenstein saat ini mencapai 2.760 orang, termasuk lima orang warga yang tinggal di Liechtenstein.

Mayoritas populasi warga Indonesia di Swiss bekerja di sektor formal, seperti di Perserikatan Bangsa-Bangsa, di perusahaan swasta asing yang berafiliasi dengan Indonesia, seperti Nestle, Philipps Morris, maupun di berbagai bank-bank internasional, dan perusahaan jasa dan industri besar lainnya, seperti di Google, Abott, Swisscom, dan lain sebagainya.

"Suatu prestasi membanggakan bahwa banyak dari dispora Indonesia yang memegang peran penting di perusahaannya," ujar Muliaman.

Selain berprofesi di berbagai perusahaan Swiss, meskipun hanya segelintir, terdapat juga diaspora Indonesia yang membuka usaha di Swiss, di antaranya di bidang ekspor impor, jasa boga, jasa estetika dan jasa perjalanan/transportasi.

Sebanyak 12 bidang usaha Indonesia tersebut telah terdaftar di Kamar Dagang Swiss.

Dubes RI Bern menghimbau agar perusahaan lainnya yang belum terdaftar di Kamar Dagang Swiss, untuk segera mendaftar, agar tercatat sebagai badan usaha resmi di Swiss.

Selain aktif di bidang profesinya masing-masing, diaspora Indonesia di Swiss dan Liechtenstein juga aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Di Swiss dan Liechtenstein terdapat 14 organisasi kemasyarakatan yang aktif mengadakan berbagai kegiatan dan fora seni budaya, yang melibatkan warga lokal dan bertujuan untuk mempromosikan seni budaya dan produk Indonesia.

Di Swiss juga terdapat enam perkumpulan agama dari berbagai kepercayaan, yang saling menjaga kerukunan dan toleransi antara umat beragama.

Diaspora Indonesia sangat antusias mengajukan pertanyaan kepada Mendag terutama berkaitan dengan kebijakan ekspor impor barang dari Swiss ke Indonesia.

Dalam sambutannya, Mendag memaparkan mengenai perkembangan kerja sama perdaganan Indonesia-Swiss, yang memasuki babak baru, sehubungan dengan finalisasi negosiasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Swiss dalam kerangka EFTA.

Perjanjian perdagangan bebas tersebut akan membuka akses pasar bagi produk Indonesia ke Swiss, yang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh diaspora Indonesia di Swiss dan Liechtenstein, maupun pengusaha asal Indonesia, ujar Mendag. Sebelumnya, Mendag mengikuti bisnis forum, yang dihadiri perwakilan ekonomi dan pemerintah Swiss.

Sementara pada 1 Oktober 2018, Mendag sukses mengadakan pertemuan Menteri Ekonomi Swiss Johann Schneider-Ammann, salah satunya membahas kelanjutan negosiasi Indonesia-EFTA CEPA. Pertemuan Mendag RI dan Swiss mendapat pemberitaan positif di media setempat.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar