Kenapa musti ajak China ramaikan perfilman nasional ?

id film,kerja sama perfilman indonesia china,berita palembang,perfilman indonesia,berita sumsel,berita antara,film china

Film. (ANTARA News Sumsel/Ist)

Manakah ceruk pasar terbesar perfilman itu? Tentu saja jawabannya di China yang memiliki penduduk dengan jumlah hampir 2,5 miliar jiwa.
Tidak perlulah membandingkan perfilman China dengan Hollywood karena levelnya bukan "apple to apple".

Jangankan dengan Hollywood. Dengan Bollywood saja juga bukan tandingannya, meskipun India dan China sama-sama memiliki budaya dan tradisi yang sangat kuat dan mengakar hingga saat ini.

Bahkan, dengan Hong Kong pun aktor dan aktris China masih kalah tenar. China boleh memiliki akar budaya yang sangat kokoh, tapi sejak dulu kala Hong Kong lah yang bisa mengonversikan budaya tersebut dalam film-film komersial yang digemari masyarakat dari berbagai negara.

Jacky Chan (Cheng Long), Andy Lau (Liu De Hua), dan Jet Li (Li Yang Zhong) sebagian dari nama-nama aktor asal daratan Tiongkok yang meraih kesuksesan setelah berhijrah ke Hong Kong.

Mereka menyadari bakatnya tidak akan menghasilkan apa-apa kalau hanya berdiam pasrah di kampung halamannya yang saat itu masih tertutup dari dunia luar.

Mereka baru bisa merasakan buahnya dengan menjadi bintang film di kepulauan yang saat itu masih berada di bawah administratur Inggris.

Lalu timbul pertanyaan, kenapa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir "keukeuh" ingin mengajak kerja sama di bidang perfilman dengan China? Bukankah perfilman nasional kita lebih bagus atau setidaknya "lebih terbuka" dibandingkan dengan China yang sampai saat ini masih "agak terbuka"? Pasar perfilman kita juga sudah bagus dan lebih bervariasi dengan banyaknya aliran atau "genre" yang disuguhkan kepada konsumen.

Kemuskilan tersebut akan tetap singgah di pikiran kita kalau memandang perfilman dari sudut "box office" saja sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah karya film komersial.

Sama tidak fairnya kalau melihat kemajuan perekonomian China dari sudut pandang kekinian saja tanpa menoleh sejarah panjang yang terbangun sejak 5.000 tahun yang lalu.

Hulu Hilir Bicara kualitas sinema, China memang kalah dengan Amerika Serikat, India, dan Hong Kong yang lebih dulu berjaya di pasaran.

Namun, jangan lupa, di manakah ceruk pasar terbesar perfilman itu? Tentu saja jawabannya di China yang memiliki penduduk dengan jumlah hampir 2,5 miliar jiwa.

China boleh terlambat dibandingkan negara-negara produsen film dunia seperti di atas. Tapi jangan lupa pula, bahwa di Chinalah film-film tersebut bisa meraih keuntungan berlimpah.

Abaikan dulu perang dagang AS-China, karena senyata-nyatanya saat ini AS bisa meraih keuntungan terbesar film-film Hollywood-nya yang laku keras di China.

China Film Group Corporation (CFGC) sebagai satu-satunya importir film asing di China menjadi "supplier" profit terbesar bagi Hollywood.

Pada tahun lalu saja film "box office" Hollywood telah menghasilkan 1,5 miliar dolar AS di China. Angka itu melampaui pendapatan "box office" di wilayah Amerika Utara dan Eropa. Jadi, bukan mengalahkan pasar AS saja! Yang mengejutkan, dari 36 film "box office" di China tersebut, tiga di antaranya hasil kerja "keroyokan" atau "co-production" Hollywood-China.

Itu dalam tempo dua atau tiga tahun terakhir. Bagaimana dengan dua atau tiga tahun mendatang? Bukan mustahil kalau pada akhirnya China lah yang akan menguasai pasar film dunia pada masa-masa yang akan datang.

Sudah barang tentu dengan menguasai pasar, China bisa melakukan apa saja, apalagi teknologi dan infrastruktur, mereka sudah punya.

AS dan India sudah ada di genggaman China dengan menjadi "co-production". Di luar itu ada Korea Selatan, Jepang, Singapura, Kazakhstan, dan Vietnam yang telah melakukan kerja keroyokan dengan CFGC, salah satu BUMN China yang bergerak di bidang industri dan distribusi perfilman.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? "Saya yakin kerja sama film antara kami dengan Indonesia akan kelihatan hasilnya kalau segera dibuatkan MoU (nota kesepahaman)," kata Direktur Utama CFGC Le Kexi.

Pihaknya tidak hanya menunjukkan minatnya untuk berinvestasi dalam skema "co-production" satu atau dua film saja, melainkan juga keinginannya membangun infrastruktur dan memboyong teknologi di Indonesia serta mendistribusikan film-film Indonesia di seluruh daratan Tiongkok.

Bagaimana tidak menggiurkan kesempatan menjual film di negara yang memiliki 55.000 unit layar bioskop komersial. Bandingkan dengan kita yang hanya punya 1.500 layar komersial.

Kalau pun tidak bisa masuk dalam jajaran antrean di 55.000 layar, China masih punya 2.000 layar lagi yang khusus disediakan untuk negara-negara kolega.

Apalagi setiap tahun Indonesia mendapat kesempatan memutar empat filmnya atas inisiatif Red and White China, sebuah lembaga yang khusus menjalankan misi pertukaran budaya dengan Indonesia.

Pada tahun ini saja, empat judul film Indonesia, yakni "Cek Toko Sebelah", "Kartini", "Sweet 20", dan "Galih dan Ratna" tayang di gedung-gedung bioskop Beijing dan tentu saja dengan "subtitle" Mandarin.

Belum lagi kesediaan CFGC untuk memboyong teknologi "mobile cinema" demi memenuhi kebutuhan hiburan film bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan Nusantara.

Perangkat yang lebih canggih daripada layar tancap itu sudah pernah dipinjamkan ke Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Indonesia juga memberikan kesempatan kepada produsen film di China untuk melakukan pengambilan gambar di beberapa daerah yang telah memberikan insentif khusus untuk produksi film, seperti Kota Bandung, Kota Yogyarakta, Kabupaten Siak, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Banyuwangi.

"Kalau bisa pada bulan November nanti ketika saya memenuhi undangan WCCE (Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia) di Bali sudah bisa menandatangani MoU tersebut," kata Le kepada Joshua PM Simandjuntak dan Dimas Jayasrana, dua pejabat dari Badan Ekonomi Kreatif RI dan Badan Perfilman Indonesia, di Beijing, Selasa (18/9).
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar