Mendag: Industri tekstil harus bisa penuhi pasar nasional

id tekstil,Enggartiasto Lukita,Asosiasi Pertekstilan Indonesia,industri tekstil indonesia,berita palembang,berita sumsel,produk tekstil,kebutuhan sandang

Dokumentasi- Sejumlah warga membatik. (ANTARA News Sumsel/Feny Selly)

Bandung (ANTARA News Sumsel) - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mendorong agar industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri berkemampuan memenuhi kebutuhan sandang nasional.

"Jangan pernah tidak siap memenuhi pasar dalam negeri. Saya mengajak semua industri TPT nasional penuhi ini," kata Enggar saat menghadiri Sosialisasi Roadmap TPT dan Dialog Tekstil Nasional 2018 di Bandung, Jumat.

Mendag menjelaskan, terdapat peluang besar investasi TPT di dalam negeri, mengingat pasar domestik Indonesia yang begitu besar, tetapi belum semua dimanfaatkan industri nasional, sementara serbuan impor produk asal Tiongkok sebagai dampak dari perang dagang negara itu dengan Amerika Serikat masih membayangi Indonesia.

"Justru di kondisi saat ini kita mendorong betul industri dalam negeri mengisi pasar kita. Karena pada saat kebutuhannya ada, barang dari luar masuk, itu tidak mungkin kita berhentikan," ujar Enggar. Enggar menambahkan bahwa industri TPT nasional belum saggup untuk mengisi seluruh pasar domestik, sementara di sisi lain mereka memiliki peluang ekspor yang besar.

Untuk itu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) tengah menyusun peta jalan atau roadmap agar kedua peluang tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

"Mereka melalui roadmap itu nanti menyampaikan ke pemerintah, apa yang dibutuhkan, iklim usaha seperti apa baik yang dapat mencapai target ekspor maupun memenuhi pasar domestik," ungkap Enggar.

Ia akan berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan pelaku usaha.

"Saya tidak akan sendiri, saya akan bersama kolega saya seperti Menteri Perindustrian, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal untuk mewujudkan itu," kata Enggar.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar