Umat Islam Magelang gelar shalat Idul Adha

id shalat idul adha,idul adha,wukuf

Arsip- Shalat ID berselimut kabut asap Ribuan warga Muhammadiyah melaksanakan shalat Idul Adha di Pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) dengan latar belakang jembatan Ampera yang diselimuti asap di Palembang, Sumsel, Rabu (23/9). Sebagian umat muslim di Indonesia merayakan Idul Adha pada Rabu (23/9). (Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/15/den)

Magelang, (ANTARA News Sumsel) - Sebagian umat Islam di Kota Magelang, Jawa Tengah melaksanakan shalat Idul Adha 1439 Hijriah di halaman Rumah Sakit Islam Magelang, Selasa.

Pelaksanaan shalat Idul Adha dengan imam dan khatib Solichin yang juga Ketua Yayasan Kesejahteraan Islam Kota Magelang.

Solichin mengatakan alasan shalat Idul Adha di lingkungan RSI Magelang dilaksanakan Selasa ini, karena sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW, yakni shalat Idul Adha dapat dilaksanakan setelah jamaah haji prosesi wukuf di Padang Arafah pada 9 Zulhijah.

"Para jamaah haji yang sedang menjalankan rukun Islam kelima di Tanah Suci, mereka telah melaksanakan wukuf di Padang Arafah, kemarin (20/8) waktu Arab," katanya.

Ia mengatakan pelaksanaan shalat Idul Adha untuk mematuhi perintah hukum, seperti diperbolehkan menjalankan salat Idul Adha setelah wukuf.

Namun, katanya, pada pelaksanaan shalat Idul Adha itu tidak dilanjutkan penyembelihan hewan kurban.

Rencana pemotongan hewan kurban pada Rabu (22/8), bertepatan dengan hari libur nasional, karena untuk melakukan penyembelihan hewan kurban memerlukan banyak orang yang kebetulan merupakan hari libur nasional.

"Selain itu, penyembelihan hewan kurban bisa dilakukan selama tiga hari Tasrih," katanya.

Pada Idul Adha kali ini, pihaknya akan menyembelih tiga ekor sapi dan empat ekor kambing. Hewan kurban tersebut akan dibagikan kepada masyarakat di sekitar Rumah Sakit Islam di Kampung Sanden, Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang.

Dalam khutbahnya, Solichin mengingatkan tentang agungnya ikatan pernikahan dan berharap agar para suami untuk berlaku amanah terhadap isrtinya.

Selain itu, dia juga mengingatkan para istri untuk tidak membawa orang lain ke dalam rumah yang tidak diridai suaminya.

"Namun sayang, di era digital seperti saat ini, sering dijumpai para istri membawa ke ruang pribadinya, lelaki yang bukan muhrimnya, yakni melakukan `chatting` melalui media sosial dengan laki-laki yang bukan muhrimnya," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar