Asian Games - Mengenal lebih dekat kompleks "Jakabaring Sport City"

id jakabaring sport city,jsc,asian games,lipsus,asian games 2018,gelora sriwijaya,mengenal jakabaring

Sejumlah atlet dayung Thailand berlatih di arena Jakabaring Rowing and Canoes di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (15/8). Selama pelaksanaan Asian Games 2018 Tim dayung Thailand menargetkan untuk mempertahankan dua medali perunggu seperti di Asian Games 2014 Korea Selatan. (ANTARA News Sumsel/Nova Wahyudi/dol/18)

....Kini, Jakabaring Sport City bukan hanya kebanggaan warga Palembang, Sumsel, tapi juga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia....
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Nama Kompleks Olahraga "Jakabaring Sport City" sejatinya sudah diperkenalkan saat Kota Palembang, Sumatera Selatan, menjadi tuan rumah SEA Games XXVI tahun 2011.?

Namun ketika itu, kalangan media masih banyak yang menggunakan nama Kompleks Olahraga Jakabaring.

Seiring dengan perubahan yang terjadi di kawasan tersebut membuat penamaan Kompleks Jakabaring Sport City (JSC) ini semakin mengena, terlebih saat Palembang dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games XVIII tahun 2018 bersama Kota Jakarta.

Penggunakan nama Kompleks JSC tentunya memberikan kesan berbeda jika dibandingkan sekadar menggunakan penamaan Kompleks Olahraga Jakabaring, seperti dikatakan Ketua DPP REI Soelaeman Soemawinata.

"Belum ada provinsi lain yang bisa seperti ini, konsepnya seperti konsep kota-kota di dunia. Pengunjung dari bandara bisa langsung naik LRT (kereta api dalam kota) dan berhentinya persis di Jakabaring Sport City. Jadi dengan nama ini seolah-olah menuju kawasan kota mandiri," kata dia.

Uniknya, penamaan Jakabaring Sport City ini sudah ada saat Palembang menjadi tuan rumah SEA Games 2011, padahal ketika itu belum terbayang bakal jadi penyelenggara Asian Games 2018.?

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin yang menjadi pencetus nama tersebut mengatakan sejak lama dirinya sudah membayangkan JSC ini nantinya menjadi kota olahraga yang mandiri yang didalamnya bukan hanya terdapat venue olahraga dan apartemen atlet, tapi juga hotel, mal, gedung doping, gedung sport sience, dan lainnya.

Benar saja, karena Palembang konsisten menjaga eksistensi JSC akhirnya penamaan kota olahraga itu terasa demikian sesuai.?

"Dengan luas sekitar 335 hektare, dan masih tersisa sekitar 160 hektare, tentunya ke depan masih bisa ada pengembangan. Sumsel sudah punya perencanaannya, seperti bakal dibangun lapangan golf, Sirkuit Moto GP, dan kebun binatang," ujar Alex Noerdin.

Berdasarkan pengalaman Alex di Asian Games Incheon tahun 2014, dirinya tidak menyangka bahwa atlet dayung terpaksa melakukan perjalanan darat hingga tiga jam untuk menggapai arena pertandingannya di bagian utara kota. ?

"Coba bedakan dengan Palembang, arena dayung di JSC hanya berjarak lima kilometer dari pusat kota," kata dia.

Kini, Jakabaring Sport City bukan hanya kebanggaan warga Palembang, Sumsel, tapi juga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia seperti yang selalu diucapkan Presiden Joko Widodo dalam setiap kunjungannya ke JSC.

Tak ayal negara melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga telah membuat kerangka agar Kompleks JSC ini tetap berkesimbungan dan terjamin eksistensinya di masa datang. ?

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengatakan Kompleks JSC direncanakan bakal menjadi tempat pemusatan latihan nasional (pelatnas) dari berbagai cabang olahraga, serta tidak menutup kemungkinan digunakan juga negara asing yang ingin berlatih paruh waktu dengan sistem sewa.

"Blueprint (kerangka) sudah ada, tinggal dibuatkan payung hukumnya supaya benar-benar terlaksana," kata Imam.?

Potensi pengembangan kawasan JSC ini sangat terbuka karena areal terbuka hijau yang masih tersisa terbilang cukup luas yakni sekitar 160 hektare.?

Provinsi Sumatera Selatan yang sebelumnya juga dipercaya menjadi tuan rumah Moto GP tahun 2019, saat ini sudah memiliki lokasi pembangunan sirkuit internasional di JSC. Begitu pula untuk dua perencanaan lainnya yakni pembangunan Kebun Binatang dan Lapangan Golf.

                                                 Titik balik
Jika mengingat asal muasal Kompleks JSC, maka sama sekali tidak terbayangkan jika akhirnya kawasan ini bakal bertukar wajah. Lokasi ini disebut masyarakat dengan sebutan Jakabaring sebagai sebutan untuk menyatakan tempat yang kosong dan luas yang mulai dimasuki warga di tahun 50-an. Sungguh berbeda dengan makna yang ada di Jawa, yang terkadang dikaitkan dengan nama tokoh-tokoh seperti Jaka Sembung, Jaka Tingkir, dan lainnya.

Hingga akhir tahun 90-an, kawasan ini masih menjadi lokasi yang sepi dan ditakuti masyarakat Palembang karena rawan kejahatan, bahkan tak jarang sering ditemukan mayat korban pembunuhan.?

Selain itu permukaan/kontur wilayahnya yang sebagian besar rawa membuat ratusan hektare lahan di Jakabaring selama puluhan tahun hanya menjadi lahan tidur, meski hanya beradius 5 kilometer dari pusat kota.

Titik balik terjadi, ketika Kota Palembang, Sumatera Selatan dipercaya sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional XVI tahun 2004.

Karena tugas itu, dibutuhkanlah suatu kawasan yang luas untuk dibangun beberapa venue sehingga ketika itu Pemerintah Kota Palembang memilih kawasan Jakabaring meski konsekwensinya harus menimbun rawa.

Kemudian dibangunlah tiga arena di sana, yakni Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring berkapasitas 40 ribu penonton, Gedung Olahraga Dempo, Gedung Olahraga Ranau. Sementara untuk venue lainnya oleh PON XVI masih menyebar di titik-titik lain Kota Palembang.
Sejumlah atlet dayung Thailand berlatih di arena Jakabaring Rowing and Canoes di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (15/8). Selama pelaksanaan Asian Games 2018 Tim dayung Thailand menargetkan untuk mempertahankan dua medali perunggu seperti di Asian Games 2014 Korea Selatan. (ANTARA News Sumsel/Nova Wahyudi/dol/18)

Setelah PON 2004 itu, bisa dikatakan tidak banyak yang berubah dari kawasan olahraga Jakabaring ini. Keramaian hanya sesekali saja terjadi, seperti saat pertandingan Sriwijaya FC di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ).

Perubahan signifikan baru terasa saat Palembang dipercaya menjadi tuan rumah SEA Games XXVI tahun 2011 bersama Jakarta,11-22 September 2018 yang diikuti 11 negara Asia Tenggara. Palembang menggelar 22 cabang olahraga dari 44 cabang olahraga yang dipertandingkan SEA Games 2011.?

Sebanyak 10 venue baru dibangun yakni Stadion Lapangan Tenis Bukit Asam, Stadion Atletik, Stadion Akuatik, Arena Baseball dan Softball, Arena Ski Air, Arena Voli Pantai, Arena Panjat Dinding, Stadion Menembak, Arena Sepatu Roda, Arena Petanque. Sehingga dari semula hanya tiga venue melesat menjadi 13 venue. Selain itu juga dibangun lima tower Wisma Atlet dan Gedung Sport Science.

Setelah penambahan berbagai fasilitas untuk menyambut SEA Games XXVI 2011, kompleks ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 November 2011.

Untuk penambahan 10 venue ini, pemerintah setempat harus `berdarah-darah` untuk menyelesaikannya karena hanya diberikan waktu 11 bulan. Kondisi tanah yang berawa dan cuaca ekstrem menjadi tantangan tersendiri ketika itu. Bahkan tiga pekan sebelum pelaksanaan SEA Games baru bisa dipastikan Stadion Akuatik siap digunakan.

                                                   Daya pikat
Namun,terdapat keunggulan dari apa yang dikerjakan di tahun 2011 itu. Keseluruhan venue yang dibangun ini sebagian besar berstandar internasional sehingga menjadi daya pikat tersendiri federasi internasional berbagai cabang olahraga di dunia.

Hal ini kemudian berdampak positif dengan dipercayanya Palembang menjadi tuan rumah sejumlah kejuaraan dunia, salah satunya yang sangat bergengsi yakni Kejuaraan Dunia Skate Board dan Wakeboard tahun 2012 yang diikuti atlet-atlet top dunia

Kemudian menjadi tuan rumah multievent Islamic Solidarity Games tahun 2014 yang diikuti 47 negara peserta, dan ASEAN University Games 2014 yang diikuti 11 negara Asia Tenggara.

Rupanya lompatan tidak terhenti di situ. Keberadaan JSC ini ternyata menjadi penolong Indonesia ketika menyatakan minat menggantikan Vietnam sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Dewan Olimpiade Asia akhirnya memberikan restu Indonesia menjadi tuan rumah dengan menyelenggarakan di dua kota sekaligus, yakni Jakarta dan Palembang.

JSC pun kembali berbenah, tapi kali ini hanya ditambah tiga venue baru yakni Venue Boling Center, Jakabaring Rowing dan Canoeing Regatta Course, Skate Board. Kemudian dilakukan renovasi dan perluasan di Stadion Menembak untuk nomor skeet dan trap, dan perluasan Venue Panjat Tebing, perluasan Venue Voli Pantai, dan penambahan delapan lapangan tenis di Stadion Lapangan Tenis Bukit Asam.

Dengan begitu, sebanyak 15 arena berstandar internasional sudah eksis di Kompleks JSC dengan jarak antararena hanya lima menit dengan cukup berjalan kaki.

Decak kagum akan kebedaan JSC ini, salah satunya disampaikan Presiden Federasi Kano Asia Shoken Narita saat menggunjungi arena dayung dan kano Jakabaring Rowing dan Canoeing Regatta Course.

Perluasan arena dayung dari panjang hanya 1.200 meter 2.200 meter membuat venue ini demikian megah dan menjadi yang terbaik di dunia. Bahkan venue dayung di Jakabaring ini menjadi referensi Jepang untuk membangun di Tokyo untuk gelaran Olympic Games 2020.

Terkait sarana dan prasarana pendukung, lokasi JSC merupakan lokasi yang dilalui jalur transfortasi massal kereta api dalam kota Light Rail Transit (LRT). LRT memiliki stasiun keberangkatan dari Bandara SMB II hingga ke Depo Jakabaring dengan memiliki stasiun persis berada di depan gerbang utama Jakabaring Sport City.

Bukan hanya transportasi, kehandalan listrik dari JSC juga sudah terjamin karena PT PLN sudah mengoperasikan Gardu Induk New Jakabaring berkapasitas 2x60 mVA.

"Kebutuhan Jakabaring Sport City hanya 20 mVA sedangkan support dari GI New Jakabaring sebesar 120 MVA, artinya baru terpakai 10 persen," kata General Manager PT PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu Daryono.
Foto udara komplek olahraga Jakabaring Sport City (JSC) di Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (12/4). Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin menyatakan delapan arena yang ada di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang sudah rampung dan siap digunakan untuk perhelatan Asian Games 2018. (ANTARA News Sumsel/Nova Wahyudi/dol/18)

Kehandalan itu juga dicover empat penghantar yakni Mariana 1 (150 kV), Mariana 2 (150 kV), PLTG Jakabaring (150 kV) dan Keramasan (150 kV). Selain itu, kawasan JSC juga dijamin keandalannya menggunakan teknologi "zero down time" yang juga digunakan di kawasan Senayan, Jakarta. Jika terjadi gangguan maka perpindahan ke penghantar pendukung sama sekali tidak ada kedip karena kecepatannya 0,1 detik. ? ?

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana tetap membuat Kompleks JSC ini eksis yakni dalam arti selalu digunakan untuk pertandingan-pertandingan internasional selain menjadi pemusatan latihan nasional.?

Rupanya, Pemerintah Sumsel sudah mendirikan BUMD PT Jakabaring Sport City yang khusus menjaga eksistensi kawasan ini hingga membuat jaringan ke federasi interasional olahraga.

Saat ini saja, Sumsel telah memiliki tiga agenda kejuaraan dunia pada 2019 yakni Kejuaraan Dunia dayung, boling dan voli pantai berkat keberadaan Kompleks JSC. Sungguh kawasan ini kini menjadi kebanggaan bukan warga setempat saja, tapi juga Indonesia. (D019/b/a011)
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar