Festival Lanskap Sumsel 2018 usung semangat kemitraan

id lingkungan,lanskap,festival lanskap,lanskap ekoregion,cifor,ikraf,sembilang dengku

Festival Lanskap Sumsel  2018 usung semangat kemitraan

Dokumen - Papan deklarasi nota kesepahaman (MOU) kemitraan pengelolaan Lanskap (KELOLA) di Griya Agung Palembang,Sumsel, Kamis (26/5) (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/16)

....Pendekatan lanskap adalah pendekatan holistik yang mempersatukan, mewadahi kerja sama para pihak....
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Festival Lanskap Sumatera Selatan 2018 di Palembang, 24 hingga 26 Juli, mengusung semangat kemitraan dalam pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Festival yang digagas para pemangku kepentingan tergabung dalam Kemitraan Pengelolaan Lanskap Ekoregion (Kolega) Sumatera Selatan merupakan festival yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia, kata Direktur Eksekutif Kolega Sumsel Najib Asmani di Palembang, Selasa.

Dia mengatakan festival yang mengusung tema "Dari Sumsel untuk Indonesia" ini diselenggarakan untuk mempromosikan pendekatan lanskap sebagai sebuah cara baru dalam pengelolaan sumber daya alam secara holistik dan terpadu.

Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu pelopor dalam implementasi pendekatan lanskap, sebagai contoh adalah Proyek Kemitraan Pengelolaan Lanskap Sembilang-Dangku (Kelola Sendang).

Festival Lanskap Nusantara berisi rangkaian acara diantaranya adalah seminar nasional kebakaran hutan dan lahan yang didukung oleh Badan Litbang Kehutanan Provinsi Sumsel, seminar internasional pendekatan lanskap yang didukung oleh WRI, ICRAF, Wetlands Indonesia, dan ZSL Indonesia.

Kemudian, sarasehan Lanskap Nusantara yang didukung oleh Proyek Kelola Sendang-ZSL dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), serta kunjungan lapang (site-visit) yang didukung oleh Yayasan Belantara dan Mongabay Indonesia.

"Festival ini untuk mewadahi pembelajaran dan tukar pengalaman dari berbagai pihak, mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, kalangan organisasi masyarakat sipil, lembaga internasional, sektor swasta, perguruan tinggi, perwakilan masyarakat, terkait dengan penerapan pendekatan lanskap di Indonesia," kata dia.

Bagi Sumsel, pendekatan lanskap berkelanjutan dalam berbagai bentuk penerapan telah dimulai sejak tahun 2015.

Proyek Kelola Sendang merupakan salah satu model pendekatan lanskap di Sumsel. Proyek ini mendorong dan memfasilitasi pemerintah dan para-pihak di tingkat provinsi maupun lokal untuk secara kolaboratif melakukan pengelolaan lingkungan berbasis lanskap, dengan melihat kepentingan pembangunan dan perlindungan alam secara holistik.

Deputi Direktur Proyek Kelola Sendang David Ardhian mengatakan proyek ini telah mendukung terbangunnya sistem, kelembagaan dan praktik-praktik terbaik pada tingkat tapak melalui kerja sama publik-swasta-masyarakat.

"Pendekatan lanskap adalah pendekatan holistik yang mempersatukan, mewadahi kerja sama para pihak, melihat bentang alam secara utuh dan terpadu," ujar dia.

Seminar internasional diselenggarakan tanggal 24 Juli 2018 di sebuah hotel di Palembang, dengan mengundang berbagai pembicara dari lembaga-lembaga internasional seperti CIFOR dan ICRAF, perguruan tinggi seperti IPB dan UNSRI, serta dari berbagai LSM internasional seperti WRI, IDH, ZSL dan lain sebagainya. Seminar ini akan mengungkap berbagai pemikiran dan hasil-hasil penelitian berbasiskan sains terkait dengan pendekatan lanskap di Indonesia.

Sedangkan seminar nasional karhutla yang diselenggarakan tanggal 25 Juli 2018 di Palembang merupakan acara untuk mendiskusikan inisiatif berbagai pihak dalam pencegahan karhutla dan pengelolaan lahan gambut di Indonesia.

Acara yang digagas Badan Litbang Kehutanan Provinsi Sumsel ini sangat penting dan relevan dengan upaya-upaya yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumsel dalam rangka pencegahan karhutla, terutama dikaitkan dengan arahan Gubenur Sumsel untuk Sumsel bebas asap dalam rangka Asian Games 2018.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar