10 helikopter disiagakan menjelang Asian Games

id karhutla,helikopter,kebakaran hutan,pemadaman kebakaran hutan,hutan,kebakaran

Dokumen - Helikopter MI-8 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemadaman kebakaran lahan dari udara ''water boombing'' di Ogan Ilir (OI), Sumatra Selatan, Kamis (17/8). (ANTARA Sumsel/Nova Wahyudi/17)

....Sumatera Selatan meningkatkan kesiagaan untuk mengantisipasi kejadian karhutla yang diperkirakan ancamannya semakin membesar memasuki bulan Agustus....
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Posko Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Sumatera Selatan, menyiagakan 10 unit helikopter pembom air menjelang perhelatan akbar ajang multicabang olahraga yang diikuti 45 negara Asia, Asian Games XVIII tahun 2018 di Palembang pada Agustus mendatang.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sumatera Selatan, Willem Rampangilei di Palembang, Jumat, mengatakan ke-10 helikopter sudah berada di posko pada pekan pertama bulan Agustus untuk mengantisipasi kejadian karhutla yang dikhawatirkan bakal menimbulkan kabut dan asap.

"Bukan saja Sumsel yang disiagakan helikopter, tetapi provinsi sekitar Sumsel juga disiagakan helikopter pembom air seperti, Riau itu 6 helikopter, Jambi 2 helikopter. Hal ini merupakan perintah langsung dari presiden agar bencana asap tidak melanda pada saat perhelatan Asian Games," kata dia usai memimpin rapat koordinasi pelaksanaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kantor BNPB Provinsi Sumsel.

Ia menjelaskan, penyiagaan helikopter tersebut bertujuan menjamin apabila ada kebakaran ada pencegahan awal, selain melakukan pemadaman melalui jalur udara.

"Jadi untuk mencegah bencana asap tersebut dengan adanya helikopter bisa diperketat patroli, melaksanakan pemadaman dini, pada saat api tersebut masih kecil segera di padamkan, serta  meyakinkan bahwa lahan yang sudah terbakar tersebut dipastikan padam," ujar dia.

Ia menambahkan, dari 10 helikopter yang akan disiagakan di wilayah Sumsel semuanya milik Indonesia, belum ada bantuan dari negara tetangga.

"Untuk saat ini sudah ada empat helikopter yang disiagakan, dan satu helikopter dari perusahaan APP Sinar Mas, semua helikopter tersebut sudah beroperasi untuk memadamkan api di wilayah OKI dan sekitarnya," kata dia

Kebakaran lahan terjadi di Desa Cinta Jaya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) setidaknya telah menghanguskan lahan seluas 105 hektare, dan di Desa Kayu Labu, Kecamatan Pedamaran Timur seluas 75 hektare, selama empat hari dari 17-20 Juli 2018.

Lahan di Desa Cinta Jaya Kecamatan Pedamaran diketahui merupakan milik konsesi perusahaan perkebunan PT Rambang Agro Jaya. Sementara lahan di lokasi Desa Kayu Labu Kecamatan Pedamaran Timur merupakan lahan kosong.

Satgas bergerak cepat untuk memadamkan api dengan melakukan operasi udara dengan mengerahkan tiga helikopter pembom air yang dua di antaranya berkapasitas 4.000 liter, dan satu unit helikopter patroli.

Selain itu, dilakukan juga operasi darat dengan menyisir langsung desa-desa yang terbakar untuk memastikan hal serupa tidak terjadi lagi.

Pada Jumat (20/7), titik hotspot terpantau 26 titik di tujuh kabupaten. Sementara di Kabupaten OKI dari semula tiga hotspot menjadi lima hotspot.

Sumatera Selatan meningkatkan kesiagaan untuk mengantisipasi kejadian karhutla yang diperkirakan ancamannya semakin membesar memasuki bulan Agustus. Adanya 1,4 juta lahan gambut di daerah ini menjadi ancaman tersendiri.

Berdasarkan pantauan BMKG, sejumlah daerah rawan karhutla diketahui sudah tanpa hujan lebih dari enam hari dengan suhu rata-rata 32-34 derajat celcius (suhu ekstrem 35 derajat celcius).

Kasus karhutla ini menjadi perhatian karena di periode genting itu akan dilaksanakan Asian Games XVIII pada 18 Agustus - 2 September 2018 di Palembang. Untuk itu Sumsel menetapkan status siaga merah pada 20 Juli - 5 Agustus 2018.      

Dalam satu atau dua hari ini, BNPB Pusat akan mendatangkan tiga unit helikopter jenis pembom air dengan kapasitas 4.000 liter ke Palembang.

    


 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar