Telaah - Sains sepakbola

id piala dunia,sepak boal sains sepak bola,penelit sepak bola,berita sumsel,berita palembang,permainan sepak bola,sepak bola dunia

Pertandingan sepakbola Piala Dunia. (ANTARA/REUTERS) (ANTARA/REUTERS/)

Pemain sudah pasti memiliki pengetahuan bukan saja sekedar memadai tapi harus mengetahui secara utuh dan konprehensif sebelum pemain terjun ke lapangan hijau untuk berlaga.
Sepakbola piala dunia 2018 sudah hampir melangkah ke babak semi final yang sedang berlangsung di Rusia. Para tim kesebelasan dari berbagai Negara telah menunjukkan kebolehan mereka masing-masing sekaligus menyuguhkan teknik pertandingan yang bermutu dan memuaskan para penonton sepakbola.

Bahkan, bukan saja menunjukkan pertandingan yang bermutu melainkan juga telah memeragakan pertandingan yang berbasis pada sains (ilmu).

Disadari, ternyata sains bukan hanya dikenal dalam dunia ilmu alam dan yang serumpun dengannya (natural science) dan ilmu sosial (social science) tetapi juga dalam dunia pertandingan sepakbola.

Lihatlah misalnya ketika Neymar meliuk-liukkan bola serta menggiring bola menuju daerah lawan yang sesekali mengover bola ala "terrible zigzag" (zigzag maut) membuat gerak bola sulit ditebak sehingga pertahanan lawan pun porak poranda sekaligus memuluskan bola masuk ke gawang lawan.

Atau ingatlah Rusia melawan Spanyol yang ketika itu Rusia mencoba bereksperimen dengan sistem bertahan tanpa membabi buta menyerang Spanyol yang pada akhirnya membuahkan hasil melalui adu finalti.

Contoh kedua fenomena pertandingan tersebut sangat kental terlihat betapa spirit sains sudah merambah dalam dunia pertandingan sepakbola. Artinya para pemain sudah mengadopsi kaedah-kaedah sains dan bukan lagi hanya mengandalkan stamina dan otot yang kuat.

Itu terlihat ketika pemain menerapkan sejumlah metodologi dalam setiap berhadapan dengan lawan sebagaimana yang ada pada metodologi keilmuan.

Jika penerapan metode keilmuan (sains) bertujuan untuk memperoleh butir-butir ilmu baru, maka penerapan metode ilmiah dalam olah raga khususnya dalam pertandingan sepakbola tentu bertujuan untuk memperoleh score yang sebanyak-banyaknya alias memenangkan pertandingan.

Meski konteks telaahannya berbeda secara ontologis, epistemologis dan aksiologis, namun bisa ditarik garis lurus persamaannya dalam hal pekerjaan akhir metodologi tersebut yakni hasil yang dicapai. Jika objek ontologi ilmu (science) berbasis pada penomena alam (natural phenomenon) dan penomena sosial (social phenomenon) maka ontologi pada pertandingan sepakbola adalah realitas pertandingan itu sendiri.

Jika makna epistemologi dalam dunia riset adalah berbagai cara untuk memperoleh ilmu, maka dalam pertandingan sepakbola merupakan sejumlah metode, cara, teknik, eksperimen atau strategi dalam mengolah bola demi mulusnya bola bersarang di jaring gawang lawan.

Demikian juga dalam hal aksiologi, jika dalam dunia keilmuan dimaknai sebagai manfaat ilmu itu sendiri, maka di dalam sepakbola merupakan nilai hasil kerja metodologi permainan tak terkecuali moral fair play yang dijunjung tinggi dan keindahan bola yang masuk ke gawang lawan sehingga menyebabkan para penikmat sepakbola merasa puas.

Dalam konteks ini kita harus mampu membedakan pengetahuan sepakbola (football knowledge) dengan ilmu pertandingan sepakbola (science of soccer match). Hal yang pertama adalah pengetahuan tentang aturan main dalam sepakbola.

Sebagaimana dirilis oleh FIFA, ada 17 peraturan permainan sepakbola terbaru yang harus dikuasai oleh setiap pemain, misalnya pelanggaran dan hukuman, throw in (lemparan ke dalam), goal kick (tendangan gawang), corner kick (tendangan sudut) dan lain-lain sebagainya.

Hal yang demikian itu tentu setiap pemain sudah pasti memiliki pengetahuan bukan saja sekedar memadai tapi harus mengetahui secara utuh dan konprehensif sebelum pemain terjun ke lapangan hijau untuk berlaga.

Berbeda dengan sains pertandingan sepakbola, ia bukan materi pengetahuan sepakbola yang sudah hapal di luar kepala (memorized by heart) melainkan suatu metode dan strategi memanej bola hingga tercipta sebuah gol. Metode itu dilakukan para pemain dengan berbagai macam tindakan (action), percobaan (experiment) dan perlakuan (treatment).

Pada saat yang bersamaan para pemain dituntut berpikir kritis karena kondisi mental mereka diperhadapkan kepada sebuah problem pertandingan yang menuntut untuk dipecahkan menuju tujuan yang diharapkan yakni memperoleh kemenangan.

Dalam konteks ini perlu para pemain yang smart dan intelligent yang dapat mengadopsi apa yang terdapat dalam metode ilmiah yakni mengkombinasikan pendekatan penalaran deduktif (deductive reasioning) dan penalaran induktif (inductive reasioning) dalam menghadapi situasi yang kompleks dan rumit apalagi jika terjadi kemelut di depan gawang.

Penalaran deduktif bisa berupa teori rasional pertandingan yang sering diuji coba dan membuahkan hasil, sedang penalaran induktif bertitik tolak dari sejumlah penomena individual dalam situasi pertandingan.

Dari observasi pemain akan melahirkan kesimpulan atas proses permainan yang sedang berlangsung untuk selanjutnya dijadikan sebagai dasar melakukan treatment dan eksperimen berulang-ulang hingga pertandingan berakhir.

Tentu sebelum bertanding pada awalnya para pemain sudah memiliki kerangka berpikir dan hipotesis dengan rumusan pertanyaan seperti berikut ini: apakah dengan treatment X yang bersumber dari teori dan strategi rasional dapat melahirkan gol. Jawaban ilmiahnya bisa saja "ya" atau "tidak".

Namun apabila teori itu sudah kuat dan para pemain "manut" dengan teori dan strategi yang sudah ada biasanya akan mampu menembus pertahanan lawan yang pada akhirnya menghasilkan yang terbaik.

Akan tetapi jika hasilnya tidak memuaskan, mungkin ada sesuatu yang eror dalam proses pertandingan tersebut atau bisa saja teori dan strategi yang disusun sebelumnya tidak sesuai atau tidak ampuh dalam melawan tim kesebelasan lawan.

Perbedaan strategi dan pola permainan sebuah tim akan dicounter dengan antitesis permainan tertentu yang danggap lebih efektif. Berbeda tim yang dilawan tentu berbeda strategi yang diturunkan. Terkadang sukses, terkadang apes.

Itulah fakta emperis yang boleh saja hasilnya tidak berkorespondensi dengan guide teori yang disusun sebelumnya. Atau dengan kata lain tidak selamanya das sollen (teori) berkesusaian dengan kenyataan di lapangan (das sein).

Kombinasi kedua kerja berpikir itulah sebenarnya metodologi sepakbola yang sistem kerjanya diawali dengan analisis realitas penomena permainan yang selanjutnya menyusun kerangka berpikir metode dan strategi apa yang "mujarrab" dilakukan para pemain untuk mengimbangi strategi yang dilakukan lawan.

Meminjam pemikiran Hegel, strategi permainan itu ibarat sebuah tesis yang senantiasa diuji selama permainan berlangsung, apakah efektif atau tidak atau apakah tesis (strategi) yang berbasis sains itu dapat melahirkan tesis baru setelah proses antitesis dan sintesis permainan antara kedua kesebelasan.

Di dalam tesis pertandingan itu selalu ada olahan bola (tindakan, eksperimen, perlakuan) yang senantiasa muncul dalam situasi pertandingan secara berulang-ulang menuruti arahan teori permainan yang ditawarkan sebelumnya.

Menyerang dan bertahan adalah contoh sebuah tesis-antitesis dalam pertandingan. Kedua-duanya tetap perpeluang untuk meraih kemenangan, namun tetap bergantung kepada kecerdasan dalam memanfaatkan peluang.

Namun jika kedua kesebelasan sudah beradu tesis secara bergantian namun tidak membuahkan hasil, berarti mereka sudah beradu ilmu (sains). Inilah yang akan membuahkan sintesis yang dapat diibaratkan terciptanya "kedamaian dan kesejukan" dalam pertandingan sepakbola alias monoton seolah tak ada nafsu untuk mencari antitesis baru sehingga permainan itupun terkesan kurang indah untuk ditonton.

Memang di dalam menyusun, menelaah dan menerapkan teori dan strategi pertandingan sepakbola bukanlah tergolong kajian "pure science" (sains murni) dalam perspektif filsafat ilmu, namun paling tidak menjadi keharusan bagi pelatih dan pemain mengerahkan segala kemampuan yang ada termasuk mengaplikasikan metodologi berfikir dalam pertandingan sepakbola.

Hanya yang berpikir kritis, kreatif dan ilmiahlah seseorang dapat memecahkan persolan termasuk persoalan yang dihadapi ketika lawan menyuguhkan teori dan praktek permainan yang menyulitkan.

Bukan seperti pemain sepak bola kita Indonesia yang ketika dihadapkan kepada sebuah problem aksi olahan bola lawan di daerah sendiri malah kebingungan dan kelimpungan. Hampir tidak ada nalar mengatasi segala gerak bola lawan untuk diapakan.

Di dalam sebuah permainan sudah pasti tidak ada zero science (tanpa sains) atau nihil sains. Pekerjaan menyepak bola memang mudah karena hanya kerja fisik. Berbeda dengan menerapkan sains dalam sepakbola yang memadukan tindakan mengolah bola dengan pekerjaan berpikir.

Artinya, bermain sepakbola secara sains tidak cukup dengan andalan otot yang kekar melainkan harus dipandu pemikiran yang rasional.

Dalam konteks ini psikologi olah raga khususnya psikologi pertandingan sangat diperlukan bagi para pemain terutama dalam hal kemampuan membaca gejala psikologi lawan agar dapat menciptakan perang urat saraf (psywar), memanfaatkan kondisi kekosongan jiwa (emptiness of the soul) lawan misalnya, sehingga dianggap layak untuk dilakukan spekulasi tendangan yang tak terduga.

Kontribusi psikologi bukan saja dibutuhkan pada saat bermain tetapi juga dalam hal seleksi pemain dan penempatan pemain. Tipologi dan karakter psikologi pemain seperti tidak mudah gugup dan tenang harus disesuaikan dengan tuntutan posisi yang diperlukan.

Misalnya, tipe psikologi penyerang tentu tidak dibolehkan ditempatkan di posisi back dan demikian juga sebaliknya. Bukan itu saja, rekomendasi sains psikologi juga berperanan dalam menentukan pemain yang ber IQ (tingkat kecerdasan) tinggi. Pemain yang memiliki IQ tinggi akan lebih mudah menerjemahkan teori permainan di lapangan dibandingkan dengan ber IQ sedang apalagi rendah.

Lihatlah para pemain Jepang dan Korea Selatan, meski dari segi postur tubuh tidak sepadan dengan para pamain Eropa dan Amerika Latin, tapi mereka dapat mengimbangi di setiap laga dan bahkan Korea Selatan mampu mengkandaskan kesebelasan German yang berpostur tinggi itu pada babak penyisihan.

Itu tak lebih karena mereka rata-rata punya tingkat kecerdasan intigensi (Intelligence Quotient) dan kecerdasan emosi (Emotional Quotient) yang tinggi, displin dan stamina yang tinggi disamping memiliki kemampuan menerapkan sains sepakbola.

Penerapan sains dalam sepakbola memang tidak bisa dihindarkan. Kalau tidak akan digilas permainan lawan yang lebih canggih dan modern.

Semoga sajian sepakbola piala dunia 2018 kali ini dapat memperkaya wawasan para pemain dan pelatih sepakbola khususnya di Tanah Air kita. Selamat menikmati babak selanjutnya.

*) Penulis adalah adalah Guru Besar pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara.



 
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar