Teroris jangan biarkan rusak Lebaran

id teroris,berita sumsel,berita palembang,serangan bom,berita antara,terorisme,lebaran

Anggota Kepolisian bersenjata lengkap berjaga-jaga . (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/Ang/18)

Pada tanggal 15 Juni 2018 akan menjadi hari yang paling dinanti- nanti mayoritas umat Islam di Indonesia karena setelah berpuasa, muslimin dan muslimat berlebaran.

Para pengurus masjid, musala, dan surau yang jumlahnya ratusan ribu unit di Tanah Air, mulai bersiap-siap mengatur penyelenggaraan Salat Id. Mereka mulai membersihkan bagian dalam masjid, mengatur halaman yang biasanya masih tetap dipenuhi muslimin dan muslimat. Selain itu, takmir masjid juga bersiap-siap menerima zakat dari warga di sekitarnya.

Sementara itu, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang bergandengan tangan erat bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga mulai menyiapkan diri bagi pengamanan acara sakral itu agar keamanan umat tetap terjaga. Dikabarkan lebih dari 150.000 anggota Polri dan TNI dikerahkan agar muslimin dan muslimah merasa tenang menikmati Lebaran.

Pertanyaan yang menggelitik adalah, kok, repot amat, sih, Polri dan TNI? Selama beberapa bulan terakhir ini rasa aman rakyat Indonesia terusik oleh ulah segelintir "oknum" yang melancarkan tindakan teror, seperti menyerang kantor polisi, membunuh, dan menyandera polisi. Rakyat tidak akan bisa melupakan ketika sekitar 150 orang narapidana teror berulah di Markas Komando Brigade Mobil (Brimob) di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, sehingga timbul korban baik di pihak teroris maupun polisi. Seorang teroris juga kemudian dengan nekatnya berusaha masuk menerobos ke kantor satuan elite Polri itu.

Sementara itu, tiga buah gereja diserang di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu, saat umat Kristen baru saja menghadiri misa. Serangan itu dilancarkan oleh tidak hanya lelaki, tetapi juga melibatkan istri dan anak-anak mereka. Tindakan kekerasan juga terjadi dengan akan diserbunya Markas Kepolisian Resor Kota Medan, Sumatera Utara. Selain itu, juga terjadi aksi lainnya di beberapa daerah.

Bahkan, baru-baru ini di Universitas Riau, Pekanbaru ditemukan adanya warga kampus yang diduga terlibat dalam terorisme sehingga satuan Detasemen Khusus 88 Mabes Polri harus turun tangan.

Rakyat Jakarta tidak akan lupa ketika pada bulan Januari 2016, terdapat beberapa teroris yang melakukan serangan bersenjata di Jalan Mohammad Husni Thamrin, Jakarta Pusat dengan menyerang sebuah rumah di dekat pertokoan Sarinah, Jakarta Pusat, padahal lokasi ini relatif dekat dengan Istana Kepresidenan.

Belum lagi, ada penyerangan di Terminal Kampung Melayu, Jakarta yang akhirnya semua ulah itu bisa dipatahkan oleh jajaran Polri walaupun harus ada korban jiwa dan luka-luka di jajaran Polri.

Tidak heran menjelang Lebaran 2018, pimpinan Kepolisian Daerah Metro Jaya telah memerintahkan agar tidak terjadi seorang polisi hanya bertugas sendirian pada Operasi Ketupat Jaya 2018 ataupun pos-pos pengamanan lainnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Juwono pada tanggal 10 Juni 2018 menegaskan bahwa sekalipun pimpinan Polda Metro Jaya tak menginginkan adanya prajurit yang bersiaga sendirian di satu tempat, situasi kemanana tetap baik dan juga tidak terdeteksi ancaman teror.

Sementara itu, akibat adanya penemuan peralatan yang membahayakan masyarakat di Universitas Riau itu, tidak kurang dari Presiden RI Joko Widodo telah mengungkapkan bahwa sebenarnya masuknya ajaran radikalisme ke kampus-kampus sudah lama terdeteksi.

Oleh karena itu, deradikalisasi harus terus dilakukan, termasuk di kampus-kampus. Deradikalisasi harus dilakukan sebab Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah "mencium" ada sekitar 10 perguruan tinggi negeri (PTN) yang telah disusupi radikalisme.

Pengamanan Lebaran Polri yang didampingi TNI serta didukung Satuan Polisi Pamong Praja di semua provinsi, kota, dan kabupaten memang telah membuat operasi pengamanan Lebaran 2018. Namun, tentu saja tidak tertutup kemungkinan munculnya aksi teroris di Tanah Air.

Oleh karena itu, penjagaan ataupun pengamanan tidak hanya harus dilakukan oleh aparat keamanan dan pertahanan, tetapi juga masyarakat sendiri, terutama dengan banyaknya organisasi kemasyarakatan (ormas), seperti Nahdlatul Ulama alias NU, Muhammadiyah, dan Persis. Belum lagi, ada organisasi kepemudaan, seperti Pelajar Islam Indonesia (PII), Al Wasliyah, serta Forum Komunikasi Putra dan Putri TNI dan Polri Indonesia (FKPPI).

Karena hampir semua--kalau bisa dibilang seluruh teroris--adalah muslim atau membawa-bawa nama Islam, tentu saja masyarakat amat menaruh harapan agar semua ormas Islam aktif 100 persen ikut memberantas terorisme itu.

Kalau aksi-aksi ini liar dibiarkan terus-menerus terjadi, tindakan yang tak bertanggung jawab itu akan terus merusak kehormatan Islam. Padahal, seperti semua agama lainnya (Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha), Islam sama sekali tak membenarkan aksi kekerasan, termasuk terorisme. Di luar negeri dikenal istilah islamphobia, yaitu kebencian atau kemuakan terhadap Islam.

Oleh karena itu, tidak heran jika semua ormas Islam itu diharapkan aktif bergerak menekan semaksimal mungkin aksi-aksi teroris, terutama segelintir atau oknum-oknum pemuda yang gampang dihasut atau "dirayu" untuk melakukan tindak kekerasan.

Di Tanah Air, terdapat beberapa "organisasi" yang acap kali dikaitkan dengan aksi-aksi yang dilancarkan organisasi ekstrem, seperti ISIS yang bergerak di sejumlah negara, misalnya Irak dan Suriah.

Selain ormas kepemudaan, tentu saja banyak mubalig, khatib, yang bisa banyak berperan untuk mengatasi munculnya teroris-teroris, khususnya di kalangan muda. Sebut saja nama-nama kondang Profesor Quraish Shihab, Din Syamsuddin, Aa Gym alias Abdulah Gymnastiar, serta Azyumardi Azra. Nama-nama ini adalah orang atau tokoh umat Islam Indonesia yang bisa dibilang tidak diragukan lagi pengetahuannya atau ilmu keislamannya.

Jika tokoh-tokoh ini digandeng tangannya untuk menangani aksi- aksi teroris, misalnya oleh BNPT, Densus 88, Bais Mabes TNI, serta Polri, tentu masyarakat bisa berharap bahwa terorisme bisa ditekan semaksimal mungkin.

Selain itu, di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, serta di berbagai daerah lainnya di Tanah Air, begitu banyak pesantren kesohor yang bisa diajak serta untuk memberantas terorisme.

Tugas Polri, TNI, dan Kementerian Agama memang "setumpuk" atau amat banyak. Oleh karena itu, sama sekali tidak salah jika cendekiawan muslim pimpinan pesantren, pimpinan ormas-ormas pemuda Islam, bahkan tokoh-tokoh muslimat, seperti Mamah Dedeh dirangkul pemerintah secepatnya supaya Lebaran 2018 berlangsung tenang, tanpa adanya bom atau letusan senjata terdengar di seluruh Tanah Air akibat munculnya aksi-aksi teroris.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar