Gubernur Sumsel akui ada mafia harga komoditi jelang lebaran

id Sumsel,Komoditi,Pedagang pasar,Harga ayam,Sembako

Arsip- Jelang Ramadhan, harga ayam potong Rp.42.000/Kg di pasar tradisional. (ANTARA News Sumsel/Kiki Wulandari/Erwin Matondang/18)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mengakui ada mafia harga yang kerap memicu kenaikan harga terutama jelang lebaran. 

"Mafia nampaknya masih ada, tapi kami selalu berusaha menggerus pergerakan mereka dengan pengaturan tata niaga yang tepat," Kata Alex saat sidak ke Pasar 16 Ilir bersama tim satgas pangan di Palembang, Sabtu.

Saat sidak pihaknya menemukan ada harga komoditi yang masih tinggi dari harga acuan tim satgas pangan, seperti daging ayam dan sapi, sementara komoditi lain stabil. 
Gubernur Sumsel Alex Noerdin diwawancarai wartawan usaisidak di Pasar 16 Ilir bersama tim satgas pangan di Palembang, Sabtu (9/6/18) (ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/Erwin Matondang/18)
Menurutnya meskipun ada harga yang masih tinggi karena permainan harga, secara keseluruhan stok masih terjaga karena sumber komoditi banyak berasal dari dalam Sumsel.

"Pedagang kecil di Palembang kalau saya lihat tidak ada masalah, apalagi data BPS ekonomi Sumsel merangkak naik bahkan melebihi rata-rata pertumbuhan nasional," ujar Alex. 

Baca juga: Gubernur dan Kapolda Sumsel musnahkan narkoba senilai Rp5 miliar

Sementara Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan Yustianus khawatir harga ayam yang disampaikan saat sidak bukan harga sebenarnya. 

"Kami khawatir harga ayam tadi bukan harga benar, pedagang bilang Rp34.000, nanti akan kami cek lagi karena harga acuan Rp32.000," jelas Yustianus. 

Ia menambahkan meskipun masih ada harga diatas acuan satgas pangan, pihaknya tetap menjamin tidak akan ada kenaikan ekstrem menjelang lebaran, sebab adanya pasar murah di 15 titik dan alternatif daging beku efektif mengurangi beban belanja masyarakat.

Baca juga: Gubernur Sumsel: Keselamatan penumpang mudik jadi prioritas
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar