Kisah unik Satia melatih Timnas sepak bola putri

id pelatih sepak bola timnas putri,Satia Bagdja Ijatna,garuda pertiwi,piala aff,sepak bola wanita,timnas sepak bola putri,kisah unik tangani timnas putri

Pelatih kepala Timnas Putri Indonesia Satia Bagdja Ijatana (kiri) didampingi pesepak bola Timnas Putri Indonesia Susi Susanti (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers menjelang laga persahabatan antara Indonesia melawan Thailand di Palembang, Sumatra Selatan, Sabtu (26/5) (ANTARA News Sumsel News/Nova Wahyudi/dol/18)

....Hari ini sehat bugar, tiba-tiba besok sakit atau demam. Ini yang terkadang merepotkan. Itulah saya meminta tim dokter harus perempuan supaya penanganan bisa tepat sasaran....
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Pelatih sepak bola Tim Nasional Putri Satia Bagdja Ijatna memiliki segudang kisah unik sejak dirinya dipercaya mengarsiteki "Garuda Pertiwi" yang mungkin tidak terjadi pada tim sepak bola putra.

Satia di Palembang, Minggu, mengatakan, beberapa hal yang mengusiknya terkait kondisi kesehatan atletnya yang tak bisa diprediksi lantaran dipengaruhi siklus biologis menstruasi.

"Hari ini sehat bugar, tiba-tiba besok sakit atau demam. Ini yang terkadang merepotkan. Itulah saya meminta tim dokter harus perempuan supaya penanganan bisa tepat sasaran," kata pria paruh baya ini.

Selain itu, hal unik lainnya yakni secara psikologis sedikit berbeda dengan laki-laki karena lebih sensitif.

Oleh karena itu penanganannya tidak bisa serampangan karena jika "mood" mereka sudah hilang maka suasana di lapangan menjadi tidak mengenakkan.

"Misal ada yang dimarahi, maka nanti `baper` kenapa yang lain tidak dimarahi. Jadi saya siasati, saya kalo mau marah, ya untuk semua, tidak menyebutkan nama," kata dia.

Namun secara keseluruhan, mantan asisten pelatih Timnas Putri tahun 1997 ini mengaku amat bahagia bisa menanggani tim sepak bola putri. Apalagi di era yang berbeda dibandingkan dua dekade lalu.

Saat ini, remaja-remaja perempuan menilai sepak bola itu "keren" sehingga ada kebanggaan pada diri mereka bisa bertanding di lapangan hijau. Faktor ini dipengaruhi oleh banyaknya bintang lapangan hijau yang menjadi idola remaja.

Para orangtua juga sudah lebih terbuka dengan olahraga ini, mengingat pada era 80-an hingga 90-an masih belum diterima jika dimainkan putri mereka.

"Dulu, asalkan jangan sepak bola. Giliran olahraga yang lain dibolehkan saja seperti pencak silat dan karate. Tapi sekarang sudah berbeda. Malahan ada pemain Timnas Dannielle Daphne rela menunda kuliah di AS demi fokus dulu di Timnas," kata dia.

Akan tetapi, bagi pelatih yang mengawali karir di tim putri dengan mengarsiteki Tim UNJ ini, terdapat satu hal yang tidak berubah di tim sepak bola putri yakni sebagian besar merupakan remaja tomboy.

Bagi Satia ini sedikit memudahkan karena mereka bisa berlatih seperti laki-laki dan tidak mempersoalkan cuaca panas.

"Kan repot, jika tidak mau latihan karena takut hitam," kata asisten pelatih Rahmad Darmawan di T-Team Malaysia ini.

PSSI resmi menunjuk Satia Bagdja Ijatna sebagai pelatih Tim Nasional Wanita Indonesia sejak Februari 2018.

Pelatih berusia 57 tahun ini didampingi Alex sebagai asisten pelatih dan Beny van Breukelen yang menjadi pelatih kiper.

Pada 2018, Timnas Wanita akan menghadapi Piala AFF Wanita pada Juni-Juli dan Asian Games pada Agustus.

Terkait persiapan di dua ajang ini, Tim Nasional Putri akan menjalani pertandingan persahabatan melawan wakil Piala AFF (Kejuaraan Sepak Bola ASEAN) di Piala Dunia 2019, Thailand di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Minggu (27/5).
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar