Kelekatan orang tua-anak sangat penting

id anak,orang tua,berita sumsel,berita palembang,berita antara,Rohika Kurniadi Sari,Menteri Pemberdayaan Perempuan

Dokumentasi- Seorang Anak yang ditemani orang tuanya memberi makan burung . (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/Ang)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rohika Kurniadi Sari mengatakan kelekatan antara orang tua dan anak sangat penting bagi tumbuh kembang anak.

"Kelekatan itu tidak akan bisa dilakukan bila orang tua masih berusia 15 tahun. Dia masih belum siap menjadi orang tua karena seharusnya masih bermain," kata Rohika dalam bincang-bincang dengan media yang diadakan di Jakarta, Jumat.

Rohika mengatakan bahwa perkawinan tidak bisa hanya berdasarkan pada ukuran anak tersebut sudah melewati masa balig. Pasalnya, banyak faktor, anak-anak sekarang makin cepat mengalami masa balig.

Oleh karena itu, sejak 2017, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mencanangkan gerakan menolak perkawinan anak.

"Indonesia sudah darurat perkawinan anak. Bukan saat ini yang akan terasa karena ini akan seperti bom waktu. Bila tidak ditangani, kita tidak akan bisa mendapatkan generasi emas 2045," tuturnya.

Rohika mengatakan bahwa perkawinan anak harus dicegah karena dapat melanggar hak-hak anak, baik hak anak yang dikawinkan maupun anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut.

Selain itu, perkawinan anak dapat menimbulkan berbagai permasalahan yang disebabkan ketidaksiapan mereka dalam berumah tangga.

"Dengan menikah, mereka dipaksa menjadi dewasa. Padahal, reproduksi mereka masih berkembang, belum siap. Begitu pula dengan psikologis mereka. Bila terjadi pertengkaran dengan pasangannya, anak-anak mereka bisa menjadi korban," katanya.

Indonesia berada di urutan ketujuh dengan angka absolut perkawinan anak tertinggi di dunia, dan tertinggi kedua setelah Kamboja di Asia Tenggara.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar