Melestarikan kuliner Palembang di kedai kue 'Harum'

id kedai kue harum,kuliner khas palembang,lestarikan kue palembang,makanan khas,kue palembang,kue maksubah,engkak ketan,kue kojo

Pelaku Usaha Mardho Tillah menunjukkan sebagian kue tradisional yang ditawarkan pada pelanggannya di kedai kue 'Harum' miliknya di Palembang, (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/I016/18)

....Sebenarnya ada 30 macam kue yang disediakan di sini, namun hanya 12 yang tiap hari tersedia, karena sisanya dibuat berdasarkan pesanan....
Palembang (ANTARA News Sumsel) -  Palembang sebagai kota yang dikenal dengan makanan khas pempek ternyata juga memiliki aneka kue khas yang beraneka ragam. Sebut saja kue maksubah, engkak ketan, dan kue  kojo.

Bila biasanya kue tersebut hanya dijumpai pada kesempatan tertentu seperti lebaran dan pernikahan, namun sebuah kedai di kawasan 26 Ilir Kota Palembang bernama Kedai Kue 'Harum' menyajikannya hampir setiap hari dengan ukuran satuan yang ekonomis.

"Kami buat kue-kue Palembang yang biasa dalam loyang dengan ukuran dan kemasan yang lebih modern,” kata pemilik Kedai Kue Harum. Mardho Tillah.

Kedai Kue Harum setiap hari menyediakan sedikitnya 12 macam kue  tradisional khas Palembang antara lain kue bluder, kojo, engkak, srikayo, dan kue dadar  jiwo yang sekarang sulit ditemukan.

"Sebenarnya ada 30 macam kue yang disediakan di sini, namun hanya 12 yang tiap hari tersedia, karena  sisanya dibuat berdasarkan pesanan,” terang pemuda berkumis ini.

Kue yang ia jual biasanya dipajang di rak kayu kaca  dan pembeli tinggal memilih dengan nampan dan capit layaknya di toko roti.

Kue-kue tersebut diproduksi  sendiri dengan resep turun-temurun milik keluarga.  Keaslian rasanya sudah barang tentu tidak usah diragukan lagi.

"Ibu saya kebetulan pembuat kue dan kepada beliau saya serahkan produksi kue,” ungkapnya.

Tidak hanya kue tradisional, Kedai Harum ini  juga menyediakan aneka kudapan khas Palembang yang cukup dikenal.  Orang yang tinggal di Kota Palembang siapa yang tak kenal dengan masakan model, laksan, dan celimpungan.

Kuliner turunan dari pempek tersebut bisa dijumpai di Kedai harum ini. Menurut Mardho beberapa kudapan berani ia modifikasi dan cukup digemari pengunjung kedainya.

Salah satunya adalah model gandum, model yang terbuat dari terigu dan disiram kuah berbumbu rempah yang ia jamin menggugah selera.

Ada juga pempek tabok, pempek tabok adalah pempek kulit yang ia buat dalam ukuran lebih besar dan diformulasi dengan bumbu tertentu sehingga menjadi pempek kulit jumbo yang mampu membuat pengunjung ketagihan. Mardho juga menciptakan minuman dari susu dan gula merah yang dinamai Es Sugu.

Mardho membandrol mulai harga Rp 2.000 hingga Rp 4.000 . Sementara untuk kudapan mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 15.000 .

Suasana kedai pun dibuat mendukung menu makanan yang ada, yaitu dengan tema Palembang “tempo doeloe”.

"Sengaja disertakan foto-foto Palembang jaman dahulu plus meja kayu yang membawa kita bernostalgia dengan Kota Palembang jaman dulu,” ujar pemuda jurusan Bahasa Inggris Politeknik Sriwijaya ini.

Sebelum membuka kedai Harum Mardho mengawali usahanya sejak tahun 2012 saat ia masih di bangku kuliah. Usahanya dimulai dengan menawarkan kue tradisional melalui medsos atau online.

“Peminatnya cukup banyak, karena banyak yang bertanya akhirnya terpikir untuk membuat outlet dengan konsep kedai,” ujar  dia

Konsep kedai miliknya rupanya menarik minat tidak hanya dari warga lokal tetapi juga pendatang yang umumnya tertarik  mencicipi kue khas Palembang.

Outlet ini menurutnya menyajikan oleh-oleh alternatif selain pempek sekaligus melestarikan kuliner khas Palembang agar terhindar dari kepunahan

"Target saya ke depan bisa memperkenalkan  makananf khas ini saat pelaksanaan Asian Games 2018 di Palembang," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar