Media Sosial belum cerminkan kepribadian bangsa

id media sosial,peniliti media sosial,berita palembang,netizen indonesia

Media sosial (Flickr/ATLAS Social Media)

Jakarta (Antaranews Sumsel) - Peneliti senior dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Profesor Siti Zuhro menilai media sosial di tanah air belum mencerminkan kepribadian dan nilai luhur bangsa.

Mengaku serius mengamati media sosial tanah air sejak 2013, Siti Zuhro mengatakan di Jakarta, Jumat, media sosial dipenuhi dengan hujatan, dengan bahasa-bahasa yang tidak senonoh dan kasar, tidak ada penghormatan kepada orang lain.

"Tutur kata ini kan ungkapan dari kepribadian kita mengenai apa yang ada di sanubari kita," katanya.

Menurut dia, ini persoalan serius yang memerlukan perhatian semua pihak karena menyangkut harkat dan martabat bangsa.

"Dimensi sila kedua Pancasila sudah tidak lekat dengan kita. Nilai-nilai yang ada di sila kedua ini sudah sama sekali tidak melekat lagi di masyarakat kita," katanya.

Media sosial semakin jauh dari mencerahkan seiring dengan meluasnya berita palsu atau hoaks dan aksi saling merusak.

Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menyehatkan media sosial. Yang pertama adalah mendidik masyarakat cerdas dan santun dalam beraktivitas di media sosial.

"Ada rasa malu kalau bertutur kata yang berlebihan," ujar pemegang gelar doktoral bidang  ilmu politik dari Curtin University  Australia ini.

Selanjutnya, kata Siti Zuhro, perlu ada aturan hukum yang jelas dan tegas serta penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten tanpa pandang bulu.

Menurut dia, masyarakat melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji di media sosial, seperti menghujat maupun menyebarkan hoaks,  karena penegakan hukum masih dirasa lemah,  hukum dinilai runcing ke bawah tumpul ke atas.

"Mereka ini seperti semakin menghina karena mereka berasumsi hukum di negeri ini santai saja karena aturannya kurang tegas. Jadi, mereka merasakan tidak ada kepastian hukum, masyarakat kita tidak merasakan ada keterikatan hukum," ujarnya.

Yang tidak kalah penting, menurut Siti Zuhro, masyarakat butuh keteladanan. Menurut dia, sulit berharap masyarakat mempraktikkan nilai luhur bangsa apabila pada saat yang sama tokoh-tokoh yang diharapkan bisa memberikan keteladanan justru bersikap dan berperilaku sebaliknya.

"Saya berulang kali mengatakan bahwa kita butuh suri teladan, baik itu  pemimpin kita di birokrasi, di politik, di dunia usaha, dari para tokoh yang ditokohkan itu. Nah itu tidak muncul," ujar dia.
(T.S024/A. Lazuardi)

Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar