Pelatih sekolah olahraga Ssumsel belum terapkan TI

id Ramel ,koni sumsel,SONS,teknologi untuk olahraga,pelatih Sekolah Olahraga Negeri Sriwijaya

Arsip- Kepala pelatih basket menyampaikan materi pelatihan kepada sejumlah pelajar. (ANTARA Sumsel/Nova Wahyudi/dol/17) ()

Palembang (Antaranews Sumsel) - Sejumlah pelatih di Sekolah Olahraga Negeri Sriwijaya (SONS) Sumatera Selatan belum menerapkan teknologi informasi dalam menjalankan program pelatihan.

Koordinator Tim Evaluasi KONI Sumsel Samsu Ramel di Palembang, mengatakan bahwa hal itu tergambar dari paparan 43 pelatih SONS Sumsel di ruang rapat KONI, Jumat.

"Hasilnya ternyata banyak pelatih yang belum menerapkan IT dalam pembelajaran. Padahal hal ini sangat penting karena disesuaikan dengan `sport science`," kata dia.

Menurutnya, para pelatih seharusnya bisa menggunakan data analisis berbasis TI untuk memaksimalkan pelatihan.

"Salah satu contohnya `polar test`. Itu tes denyut nadi dan jantung menggunakan alat. Jadi lebih akurat, tidak lagi seperti dulu, pelatih masih meraba secara manual," kata dia.

Karena itu, KONI Sumsel siap memfasilitasi para pelatih untuk meningkatkan kemampuan IT.

"Bisa saja mengirimkan mereka ke penataran atau pendidikan. Selain itu kita akan mengadakan `coaching clinic` seperti sebelum-sebelumnya," kata dia.

Standar TI ini dibenarkan Kepala SONS Sumsel Mitrisno. Ia mengatakan, saat ini tidak boleh lagi pelatih yang buta akan teknologi karena hal itu akan berpengaruh terhadap prestasi atlet yang dibinanya.

"Saya setuju sekali soal pelatih harus bisa TI. Zaman sekarang ini memang manual itu sudah tertinggal sekali," kata Trisno.

Trisno sepakat jika penguasaan IT menjadi faktor penentu apakah pelatih tersebut diperpanjang kontraknya atau tidak karena untuk tahun 2018 kuota pelatih SONS akan dikurangi.

"Kemampuan anggaran kita hanya maksimal 35 orang. Artinya ada pengurangan," kata dia.

Terkait dana untuk kepelatihan ini, ia mengungkapkan bahwa SONS memberikan honor Rp2 juta per bulan bagi pelatih.

"Memang soal anggaran ini berat. Tapi 2019 mendatang saya yakin bisa naik jadi Rp3,5 juta per bulan," kata dia.
(T.D019/A013)
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar