Wilder harus melakukan pelayanan masyarakat karena kepemilikian ganja

id Deontay Wilder,atlet tinju

Deontay Wilder (ANTARA Sumsel/Reuters)

Washington (Antara/Reuters) - Juara tinju kelas berat Deontay Wilder diharuskan melakukan pelayanan masyarakat pada Kamis, setelah dinyatakan bersalah karena kejahatan ringan yakni kepemilikan ganja.

Petinju 32 tahun asal AS itu, yang terakhir kali bertarung pada November ketika ia menaklukkan petinju Haiti-Kanada Bermane Stiverne dengan knockout di babak pertama untuk mempertahankan gelar kelas berat WBCnya, ditangkap di Alabama Juni silam.

Wilder, yang mendapatkan hukuman kurungan 30 hari dan dua tahun masa percobaan, diharuskan menjalani pelayanan masyarakat di Asosiasi Pemuda Kristen (YMCA) setempat.

"Kami menghormati peraturan pengadilan. Tentu saja kami berhadap akan mendapat pembebasan," kata pengacara Wilder, Paul Patterson, saat diwawancarai melalui telepon. "Kami akan melihat opsi-opsi banding kami dan kemudian beranjak dari sana."

Ketika Wilder diminta menepi pada Juni silam karena kaca film mobilnya lebih gelap dari yang diizinkan peraturan, para petugas mencium bau ganja dari mobil Cadillac Escaladenya.

Patterson saat itu mengatakan bahwa ganja tersebut bukan milik kliennya, yang telah keluar negara bagian selama beberapa hari dan pulang dari Georgia dengan mobil Rolls Roycenya sebelum menggantinya dengan Cadillac Escalade untuk bekerja.    

Patterson mengatakan Wilder memiliki banyak kendaraan yang dapat diakses oleh teman-temannya, dan memilih menggunakan Cadillac untuk bekerja karena kaca film yang gelap memberikan lebih banyak privasi.

"Hal yang dapat diambil pelajaran bagi Tuan Wilder adalah untuk tidak meninggalkan kendaraan-kendaraannya dalam perawatan banyak orang atau mengizinkan mereka menggunakannya ketika ia sedang keluar kota," tutur Patterson.

Wilder, yang memenangi medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008, dijadwalkan untuk mempertahankan gelarnya pada 3 Maret melawan petinju Kuba Luis Ortiz.
Penerjemah: A.R.A Adipati/T. Handoko

Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar