Hati-hati iklan produk herbal sembuhkan penyakit kanker

id bpom, obat herbal, sembuhkan penyakit, pengobatan alternativ, Badan Pengawas Obat dan Makanan, kanker, aids, hiv, dokter, penyakit keras

Ilustrasi- Obat herbal dalam kapsul (Ist)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap iklan-iklan produk herbal yang sifatnya melebih-lebihkan khasiat terutama mampu menyembuhkan kanker tanpa penanganan medis oleh dokter.

"Terdapat keprihatinan mengenai obat herbal yang penggunaannya belum sesuai. Banyak yang mengira obat herbal bisa digunakan sebagai obat kanker padahal  tidak," kata Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM Ondri Dwi Sampurno di Jakarta, Senin.

Menurut Ondri Dwi Sampurno, kanker merupakan gangguan kesehatan serius yang memerlukan penanganan medis intensif. Iklan produk herbal yang melebih-lebihkan khasiat berpotensi besar memicu penderita meninggalkan pengobatan medis sehingga penyakitnya tidak dapat ditangani dan semakin parah keadaannya.

Dalam peraturan pemerintah, kata dia, terdapat larangan obat herbal, termasuk tradisional, untuk mengabarkan khasiatnya lewat iklan untuk penyakit-penyakit tertentu seperti kanker, tuberkulosis, diabetes, lever dan lainnya.

Peraturan tersebut yaitu Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 386 Tahun 1994 tentang Pedoman Periklanan: Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Makanan-Minuman.

Obat herbal, lanjut dia, sejatinya adalah obat pendukung penyembuhan kanker bagi penderita. Dengan mengonsumsinya bukan berarti menghentikan pengobatan lewat proses medis yang ditangani oleh dokter seperti dengan operasi, radiasi dan tindakan medis lainnya.
   
Ondri mengatakan iklan obat herbal yang berlebihan harus diwaspadai masyarakat. Secara klinis, kanker akan lebih cepat diatasi jika menggunakan penanganan medis yang teratur dan intensif. Terdapat kecenderungan iklan obat herbal justru mendorong penderita kanker serta merta meninggalkan pengobatan medis karena termakan janji-janji penyembuhannya.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2013 menunjukkan prevelensi kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1.000 penduduk Indonesia. Artinya, terdapat peluang para penderita kanker terhasut untuk meninggalkan medis dan beralih ke pengobatan herbal sepenuhnya yang justru membawa mereka pada kondisi yang lebih buruk dibanding menempuh jalur medis.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar