KSSK simulasi krisis keuangan

id Komite Stabilitas Sistem Keuangan , kssk, simulasi krisis keuangan, bank indonesia, krisis ekonomi, krisis moneter, uang, moneter

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO)

Palembang  (ANTARA Sumsel) - Komite Stabilitas Sistem Keuangan akan menggelar simulasi krisis keuangan sebagai salah satu upaya untuk menemukan pola ideal dalam penangganan jika terjadi situasi sulit dalam perekonomian dalam negeri yang mengancam kelangsungan negara.

Asisten Direktur Divisi Pengembangan Pengaturan Pengelolaan Moneter Fungsi Rupiah Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Huria, di Jakarta, Jumat, mengatakan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menggagendakan simulasi krisis keuangan sesuai Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK).

KSSK terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana akan menggelar suatu simulasi layaknya terjadi krisis ekonomi di Indonesia pada akhir tahun ini.

"Akan sengaja dibuat situasi seperti krisis ekonomi moneteri, seperti nilai rupiah jatuh, ada perbankan yang mengalami kejatuhan sehingga berdampak sistemik, dan beberapa indikator lain yang dibuat tidak seperti biasanya," kata Huria pada kegiatan edukasi bersama wartawan ekonomi asal Palembang.

Ia mengatakan pada simulasi ini akan ditemukan pola terbaiknya, mengenai langkah-langkah yang paling efektif dan siapa yang layak mengambil keputusan.

"Intinya saat krisis terjadi, setiap institusi sudah tahu apa yang harus dilakukan," kata dia.

Ia mengatakan upaya simulasi ini merupakan cara terbaik mengingat tidak ada suatu negara pun di dunia yang bisa lepas dari acaman krisis.

Menurutnya, secara fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih kuat. Selain itu, jika dibandingkan dengan negara lain di Kawasan Regional Asia Tenggara, nilai tukar rupiah lebih stabil.

"Meskipun demikian, kita tetap harus waspada oleh karena itu perlu simulasi manakala terjadi ancaman krisis," ujarnya.

Bank sentral, kata dia, terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah secara berkala. Selain itu, BI juga melakukan operasi moneter dan menjaga likuiditas di Tanah Air.

"Pada akhirnya, tugas tersebut berkenaan dengan peran kami dalam mengendalikan inflasi selain menjaga nilai tukar rupiah agar tidak bergejolak," katanya.

Diketahui, bank sentral terus berbenah untuk kondisi moneter Indonesia. Salah satunya melalui perubahan suku bunga kebijakan dari semula BI Rate menjadi BI 7 Days Reverse Repo. Kebijakan tersebut membuat suku bunga lebih mudah ditransaksikan.

Tak hanya itu, bank sentral juga mengubah kebijakan giro wajib minimum (GWM) menjadi rata-rata (avaraging) dari sebelumnya harian. Tujuannya, supaya pasar uang antar bank (PUAB) lebih fleksibel.

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar