"Lelaki Harimau" dalam bahasa Perancis diluncurkan

Pewarta : id novel, Lelaki Harimau, novel, Balai Budaya, buku sastra

Penulis buku Lelaki Harimau (L'homme-tigres) dan Cantik itu Luka (Les Belles de Halimunda), Eka Kurniawan (tiga kiri), dalam peluncuran bukunya, di Kedutaan Besar Indonesia di Paris, baru-baru ini. (ANTARA/Zeynita Gibbons)

London (ANTARA Sumsel) - Dua novel karya sastrawan Indonesia, Eka Kurniawan, Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka, diluncurkan dalam edisi bahasa Perancis, masing-masing L'homme-tigre dan Les belles de Halimunda,  di Balai Budaya Kedutaan Besar Indonesia di Paris.

Atase Pendidikan Kedutaan Besar Indonesia di Paris, Rosa S Putra, Minggu, mengatakan, acara peluncuran dan konferensi pers untuk media di Perancis itu juga dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Perancis, Kepangeranan Monaco dan Andora, Hotmangaradja Pandjaitan, serta Sabine Wespieser, Penanggungjawab Editorial Folio-Gallimard Magali Langlade, dan para wartawan sastra Perancis dan distributor buku sastra.

Putra mengatakan, sebelumnya Wespieser juga sudah menerbitkan L'homme-tigre dalam edisi buku standar. Penerbitan dalam bentuk buku saku oleh Gallimard-Folio (salah satu Penerbit besar Perancis) akan menjangkau masyarakat Perancis yang lebih luas.

Kedua buku tersebut diterjemahkan Etienne Naveau, staf pengajar Institut Nationale des Langues et des Civilisations Orientales (INALCO)

Dalam sambutannya, Pandjaitan mengatakan, sastra sebagai bagian budaya adalah alat efektif dalam rangka menguatkan kemitraan Indonesia-Perancis saat ini.

Karena itu ia sangat mengapresiasi karya satrawan Indonesia ini dan sangat berterimakasih kepada kedua penerbit.

Wespieser tertarik mempublikasikan karya Kurniawan, setelah membaca edisi bahasa Inggris Lelaki Harimau beberapa tahun yang lalu. Menurut dia, baik cerita dan bahasa dalam roman tersebut akan memberikan pengetahuan dan cara pandang baru terhadap kultur Indonesia, dan masyarakat Perancis perlu itu.

Sementara, Magali melihat karya Kurniawan disampaikan dengan bahasa misterius sehingga menarik untuk dieksplorasi lebih jauh.

Naveau tertantang dengan menerjemahkan karya-karya Kurniawan ini, karena bahasa Indonesianya yang klasik. Kesulitan terbesar adalah memasukkan konsep waktu dalam bahasa Perancis, karena tidak dikenal dalam bahasa Indonesia.

Dalam diskusi, Kurniawan menjelaskan karya-karyanya dipengaruhi cerita dalam novel-novel picisan Indonesia, terutama tentang balas dendam dalam cerita silat dan cerita hantu yang sering dia baca waktu kecil.

Cerita ini kemudian dikombinasikan dengan tragedi-tragedi universal dari karya-karyanya sastrawan barat. Eka menambahkan bahwa konflik-konflik personal tokoh-tokoh dalam karyanya adalah refleksi kondisi masyarakat Indonesia pada saat itu.

Seorang pengunjung mengaku tertarik dengan karya dia karena misteri hantunya yang unik. Sementara seorang pemilik toko buku dari Neully-Sur-Seine, dekat kota Paris, menilai karya Kurniawan adalah referensi untuk masyarakat Perancis yang selama ini tidak pernah tahu dengan kultur Indonesia

Masih ada novel ke tiga yang menurut rencana akan diterbitkan Wespieser, yang sudah terbit dalam bahasa Inggris.
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar