Mendag minta Rusia tidak lirik CPO lain

id Enggartiasto Lukita, cpo, minyak sawit, rusia, beli, indonesia

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kanan) dan Ketua Umum KADIN Indonesia Rosan Roeslani (kiri) (ANTARA FOTO/IORA SUMMIT 2017/Widodo S. Jusuf)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta agar Pemerintah Rusia tidak melirik impor minyak kelapa sawit (CPO) dari negara selain Indonesia sebagai imbal dagang pembelian 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia senilai 1,14 miliar dolar AS.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyampaikan Pemerintah Indonesia dan Rusia sepakat melakukan imbal beli dalam pengadaan alat peralatan pertahanan keamanan (Alpalhankam) berupa pesawat tempur Sukhoi SU-35.

"Saya akan bujuk Menhan kami untuk tidak melirik alutsista dari negara lain. Saya juga mohon anda tidak melirik ke negara lain untuk CPO dan lainnya," kata Menteri Enggar pada konferensi pers di Kementerian Pertahanan Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan Rusia menjadi pasar potensial bagi ekspor komoditas Indonesia dan memiliki kemampuan ekonomi yang besar untuk produk seperti karet olahan dan turunannya, CPO dan turunannya, mesin dan kopi.

Saat melakukan Misi Dagang ke Rusia pada 10 Agustus lalu, Enggar mengatakan pangsa pasar produk CPO dan turunannya dari Indonesia terganggu akibat isu negatif dampak perkebunan sawit.

Ia pun meyakinkan kepada asosiasi kelapa sawit di Rusia bahwa produk CPO dan turunannya dari Indonesia higienis sehingga bisa mengembalikan pasar di Rusia dan mengendalikan harga.

"Saya yakinkan produk kita tidak kotor, sekarang sedang ditindaklanjuti agar mengembalikan market share kita. Kalau bisa sampai posisi itu, secara relatif harga bisa kami kontrol lebih terkendali," kata Enggar.

Selain CPO, Mendag juga menawarkan komoditas lainnya yang menjadi imbal dagang dari pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35.

Saat pelaksanaan Misi Dagang ke Rusia yang dipimpin oleh Mendag pada 10 Agustus 2017, Pemerintah Rusia dan Indonesia sepakat menunjuk Rostec dan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebagai pelaksana teknis imbal beli.

Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor, dengan pilihan berupa karet olahan dan turunannya, CPO dan turunannya, mesin, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, kopra, plastik dan turunannya, resin, kertas, rempah-rempah, produk industri pertahanan, dan produk lainnya.

Pihak Rostec diberikan keleluasaan untuk memilih calon eksportir sehingga bisa mendapatkan produk ekspor indonesia yang berdaya saing tinggi.
     
Selain itu, Rostec juga meminta agar pengiriman komoditas tidak hanya menuju Moscow saja, tetapi juga ke beberapa tempat bahkan Eurasia. Kementerian Perdagangan pun menyatakan tidak keberatan sejauh bisa memberi nilai tambah perdagangan Indonesia.

Ppembelian 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia senilai 1,14 miliar dolar AS memberikan potensi ekspor ke Rusia bagi Indonesia sebesar 50 persen dari pembelian tersebut atau senilai 570 juta dolar AS.

Ada pun pembelian pesawat ini untuk menggantikan pesawat F-5 guna meningkatkan pertahanan dan keamanan di dalam negeri.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar