Masa udara Khatulistiwa gangu pelayaran barat Aceh

id bmkg, masa udara, Utara Khatulistiwa, Selatan Khatulistiwa, pelayaran, Samudera Hindian, barat Aceh, mengganggu kapal belayar

Ilustrasi Data dan gambar kondisi cuaca melalui pantauan satelit. (Antarasumsel.com/BMKG)

Sabang, Aceh (Antarasumsel.com) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, masa udara yang bergerak dari Utara Khatulistiwa dan Selatan Khatulistiwa mengganggu pelayaran di Samudera Hindian bagian barat Aceh.

"Masa udara yang bergerak dari Utara Khatulistiwa dan Selatan Khatulistiwa terdapat potensi gangguan di Samudera Hidan bagian Barat Aceh," kata Kepala Stasiun BMKG  Kota Sabang Siswanto, di Sabang kepada Antara, Senin.

Siswanto menjelaskan, berdasarkan pantauan satelit BMKG dan prakiraan cuaca, masa udara yang bergerak dari Utara Khatulistiwa dan Selatan Khatulistiwa tersebut berpotensi mengganggu aktifitas nelayan serta pelayaran di provinsi paling ujung barat Sumatera sampai tiga hari ke depan.

"Prakiraan cuaca diperairan Sabang dan sekitarnya berawan, berpotensi hujan, suhunya dari 23 sampai 30 derajat celcius, kelembaban udara 75 sampai 96, kecepatan angin dari arah timur 5 sampai dengan 22 kilometer per jam dan prakiraan cuaca ini berlaku sampai sampai tiga hari kedepan," jelasnya.

Lebih lanjut Siswanto menjelaskan, masa udara akan bergerak dari pusat tekanan tinggi menuju pusat tekanan rendah atau bergerak dari posisi atmosfer yang memiliki suhu tinggi ke daerah atmosfer yang memiliki suhu rendah.

"Suhu rendah diidentifikasikan dengan kandungan masa udara yang banyak dan jika posisi di perairan barat Aceh sedang terbentuk pusat tekanan rendah maka diwilayah tersebut berpotensi cuaca buruk seperti, gelombang tinggi dan angin kencang, kemudian berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir," ujarnya.

Kepala Stasiun BMKG Kota Sabang juga menyatakan, jika ada perubahan cuaca atau terjadinya cuaca ekstrim di perairan Sabang dan sekitarnya sewaktu-waktu pihaknya akan segera merilis info tersebut melalui web resmi BMKG.

Ada pun kondisi geografis Kota Madya paling ujung barat Indonesia luasnya, 12.213,96 henkate dan meliputi lima pulau diantaranya, Pulau Weh (12.084,45 hektare), Klah (17,71 hektare), Pulau Rubiah (35,36 hektare), Seulako (4,98 hektare) dan Pulau Rondo (71,57 hektare).

Secara geografis Kota Sabang juga memiliki luasan 122,14 kilometer persegi Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Andaman, Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka dan Sebelah selatan berbatasan dangan Laut Andaman.

Kemudian topografi wilayahnya datar 71,43 hektare (0,58 %), landai 516 hektare (4,2 %), bergelombang 1.170,13 hektare (9,6 %), berbukit 2.035,76 hektare (16,6 %), bergunung 2.215,42 hektare (18,1 %) dan sangat curam 2.625,87 hektare (21,5 %).

Siswanto juga menyampaikan, geologi wilayah Sabang, batu gamping, koral, tufa, aglomerat, lava, adsit, lempung, pasir, kerikil dan kerava.

Kepala Stasiun BMKG Kota Sabang juga menyebutkan, secara umum formasi penyusun batuan wilayah Kota Sabang dapat di klasifikasi kan 70 persen dataran vulkanik, 17 persen batuan sedimen dan 13 endapan batuan aluvial.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar