Kluster produk lokal Sumatera Selatan perlu diperbanyak

id pengrajin songket dan ukiran, kuliner, momen Asian Games, Kluster produk lokal, ekonomi masyarakat

Seniman lukisan ukiran palembang tengah mempraktekkan pembuatan lukisan pada ukiran Palembang di sentra Ukiran palembang pada kawasan 19 ilir dekat Masjid Agung Palebang (Foto antarasumsel.com/Feny Selly)

....Pemkot Palembang sudah membuat kluster songket di kawasan Tanga Buntung, kluster ukiran khas Palembang di kawasan Masjid Agung, dan kluster kain tenun tajung dan blongsong....
Palembang (Antarasumsel.com) - Kluster produk lokal perlu diperbanyak di Palembang untuk menjaga kegiatan ekonomi masyarakat tetap eksis dalam jangka panjang, sekaligus memanfaatkan momen Asian Games XVIII tahun 2018, kata pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya Prof Didik Susetyo.

"Apa yang dikembangkan di kota-kota lain yakni membangun kluster seharusnya juga dikembangkan di Palembang. Saat ini memang sudah ada kluster pengrajin songket dan ukiran, dan kuliner seperti pempek dan kemplang, tapi belum benar-benar mencapai tujuan," kata Didik di Palembang, Rabu.

Menurutnya, kluster ini hanya sebatas berada dalam satu lokasi atau belum mencapai tujuan seperti menjaga kepastian tenaga kerja, stok, dan kestabilan harga.

"Saat ini masih seperti sendiri-sendiri padahal dibuatkan di satu tempat itu gunanya untuk menjaga keberlangsungan. Jika tidak, seperti cerita kampung sepatu Cibaduyut di Bandung yang saat ini sudah tidak eksis lagi," kata dia.

Dalam kluster produk ekonomi lokal ini diharapkan barang dapat diproduksi dengan jumlah banyak sehingga dapat menekan biaya, dan harga jual bisa lebih murah.

Dengan begitu, maka produk ekonomi lokal Sumsel dapat memiliki daya saing.

Selain dapat juga dimanfaatkan untuk lokasi pariwisata.

Apalagi pada 2018 Sumsel akan menjadi tuan rumah Asian Games ke-18.

"Saat banyak wisatawan datang ke Palembang, apakah sektor ekonomi lokal ini sudah siap untuk memenuhi permintaan. Ini menjadi pertanyaan, karena jika tidak, sama saja membuang peluang yang ada," kata dia.

Ketua Komunitas Wirausahawan Muda Kain Tenun, Athoillah mengatakan dengan terbentuknya komunitas maka harga di pasaran dapat terjaga dan stok juga tersedia untuk permintaan dalam jumlah besar.

"Pengrajin sudah sepakat dengan harga jual, sehingga tidak ada yang menjual lebih rendah atau lebih tinggi dari kesepakatan bersama. Dengan begitu, harga jual dapat terjaga di pasaran," kata Athoillah.

Namun, ia tidak menyangkal bahwa masih banyak pedagang kain tenun yang tidak bergabung dalam komunitas karena membuka usaha di lokasi berbeda.

Sementara ini, Pemkot Palembang sudah membuat kluster songket di kawasan Tanga Buntung, kluster ukiran khas Palembang di kawasan Masjid Agung, dan kluster kain tenun tajung dan blongsong di kawasan Tuan Kentang.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar