Penenun songket muda yang kian langka

id songket, pengrajin songket, penenun, kain tenun songket. kain songket, songket palembang, songket sumsel, umkm, ikm, ukm

Penenun kain khas Palembang Muhammad Muzakir (Foto Antarasumsel.com/15/Dolly Rosana)

....Seriusnya sejak masuk kuliah....
Palembang, (ANTARA Sumsel) - Kebanggaan terhadap sang kakek buyut Haji Kamami menjadi motivasi Muhammad Muzakir (21) mau meneruskan bisnis keluarga menjadi pembuat kain tenun songket.

Meski usianya masih muda dan sudah menjadi karyawan bank swasta terkemuka di Palembang, tak menyurutkan keinginannya untuk terus menjadi penenun songket yang kini mulai ditinggalkan kaum muda.

"Sejauh ini aman-aman saja, masih bisa membagi waktu. Saya mulai menenun setelah shalat shubuh hingga pukul 08.00 WIB, kemudian mulai lagi setelah sholat magrib hingga pukul 21.00 WIB. Hasilnya lumayan, bisa dapat satu lembar kain dan selendang," kata Muzakir yang dijumpai di kediamannya di Kelurahan 13 Ulu.

Muzakir merupakan generasi kelima keluarga Haji Kamami yang secara turun temurun menggeluti usaha tenun kain khas Palembang sejak tahun 60-an.

Haji Kamami dikenal oleh kalangan penenun Palembang sebagai pencipta mesin tenun kain (khusus tidak berbenang emas) yang saat ini banyak digunakan penenun songket.

Sebagai keturunan asli, Muzakir sempat ragu ketika pertama kali ditawari untuk memulai usaha sendiri, empat tahun lalu.

Maklum saja, dalam keluarga besarnya, tinggal tiga orang yang bisa membuat kain tenun ini, yakni dirinya dan dua sepupunya, sementara sisanya lebih memilih menjadi pekerja perusahaan, PNS atau guru.

Namun, berkat dukungan kedua orang tua dan pamannya, Zaki, sapaan akrabnya, akhirnya percaya diri untuk melestarikan usaha keluarga ini berbekal kepandaian membuat kain tenun dari sang ibunda yang mulai diperkenalkan pada saat duduk di bangku SMP.

"Seriusnya sejak masuk kuliah, kira-kira usia 17 tahun, saya ditantang paman untuk usaha sendiri, mulai dari membuat hingga memasarkan. Sebab selama ini sekadar bantu-bantu ibu saja. Karena saya berminat, jadi diberikan pinjaman mesin tenun oleh ibu," katanya.

Pada awalnya, Zaki tidak mengalami kesulitan karena memanfaatkan jaringan orang tua untuk memasarkan produk.

Menurutnya, jaringan kedua orang tuanya cukup terjaga karena mendapatkan dukungan produksi pada cabang di Cirebon yang dikelola salah seorang kerabat.

Ia menceritakan, asal muasal membuka usaha di Cirebon itu, karena kakek buyut Haji Kamami berasal dari daerah itu dan menikah dengan nenek buyut Zaki berketurunan Palembang. Lantaran itu pula, sang kakek buyut bisa menciptakan mesin tenun karena selama tinggal di Jawa juga mempelajari teknik pembuatan kain tenun.

"Usaha di Cirebon tetap dipertahankan, karena di sana cukup mudah mendapatkan tenaga kerja. Ada sekitar 12 orang penenun dengan 12 mesin, sementara di Palembang, kesulitan untuk mencari orang yang mau belajar menenun. Ini bisa dimaklumi karena butuh waktu satu bulan untuk belajar, dan setelah bisa, upahnya hanya Rp30 ribu per kain," kata dia.

Tak heran, pada generasi kelima keluarganya, hanya tiga orang yang pandai membuat tenun songket.

Kondisi itu justru membuat dia semakin tertantang untuk maju. Anak pertama dari tiga bersaudara ini memulai dengan memperkerjakan diri sendiri tanpa merekrut tenaga kerja dengan menggunakan mesin tenun pinjaman ibunda. 

Dalam satu pekan, Zaki mampu memproduksi 23 kain tajung dengan harga Rp180 ribu per lembar, dan 14 selendang blongket (kain kreasi bermotif songket karya sang paman) dengan harga Rp250 ribu per lembar. Sementara biaya produksi yang pasti dikeluarkan yakni membeli satu bal benang untuk dua bulan seharga Rp30 juta.

"Sejak memulai bisnis sendiri ini, saya pun tidak pernah meminta uang kuliah dari orang tua," kata pria kelahiran Palembang, 13 Desember 1993 ini.

Setelah menggeluti selama tiga tahun sembari kuliah, Zaki mulai memikirkan bagaimana cara mengembangkan usaha karena jika hanya mengandalkan dirinya sendiri sebagai tenaga kerja maka akan sulit.

Lantaran itu, ia berniat menambah tenaga kerja. Sementara untuk kebutuhan mesin tenun, kedua orang tuanya bersedia memberikan bantuan dua unit.

Bantuan ini diberikan karena harga satu unit mesin untuk menenun selendang tergolong mahal, yakni seharga Rp30 juta, sementara untuk menenun kain seharga Rp60 juta.

"Akhirnya, muncul keberanian untuk meminjam uang ke bank, setelah tanya sana-sini, saya mengajukan ke Bank Sumsel Babel dan diterima. Sejak bulan ini sudah masuk angsuran ketiga," kata dia.

Zaki mendapatkan kucuran kredit khusus UMKM sebesar Rp20 juta dengan bunga 15 persen per tahun, selama dua tahun masa pengembalian.

Dengan dana pinjaman itu, Zaki berniat menambah tenaga kerja dan menambah stok produk supaya bisa memenuhi permintaan dadakan (semisal ada ajang nasional di Palembang).

"Yang saya suka, akan ada pendampingan dari Bank Sumsel Babel dengan diikutkan dalam beberapa pelatihan dan diajak pameran. Inilah kesempatan saya untuk membuka jaringan," kata pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikan strata satu jurusan informatika di Universitas Bina Darma Palembang ini.



Butuh Pendampingan 

Ketua Komunitas Wirausahawan Muda Kain Tenun Athoillah mengatakan kehadiran Muzakir dalam usaha tenun kain khas Palembang ini memberikan angin segar karena semakin sedikit kalangan muda yang mau menekuni bidang ini.

Saat ini di sentra kain tenun kain tajung dan blongsong di kawasan Tuan Kentang, Kertapati, hanya terdapat tujuh usahawan dengan total 13 orang tenaga kerja.

Sebagian besar pekerja sudah berusia tua, sementara yang berusia muda hanya tiga orang.

"Jika dilihat perkembangan sejauh ini, bisa jadi orang Palembang asli hanya kebagian pemasaran saja, sementara penenunnya dari luar, karena sudah sangat sedikit yang mau belajar. Kehadiran Muzakir ini, menumbuhkan harapan baru karena ia bisa menenun juga sekaligus sebagai usahawannya," kata dia.

Hanya saja, Zaki membutuhkan pendampingan dari keluarga untuk tetap bertahan karena menjalankan bisnis kain tenun ini tidak mudah jika tidak paham rahasianya. 

Setiap pelaku harus memiliki modal hingga tiga lapis yakni untuk bahan benang, untuk stok, dan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Modal bahan ini harus karena membuat kain butuh waktu, kemudian harus bisa menyetok agar bisa memenuhi permintaan. Dua modal ini saja tidaklah cukup, harus ada juga uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata dia.

Biasanya, kejadian yang berujung kebangkrutan uang untuk kebutuhan sehari-hari mengambil dari modal stok dan benang sehingga jika sudah terdesak terpaksa menjual kain dengan harga murah. Jika sudah begini maka akan rugi dan tidak ada lagi uang untuk membeli benang.

"Usaha kain ini sebenarnya, susah-susah gampang. Jika tidak pandai mengatur maka akan bangkrut, belum lagi kesulitan untuk mencari orang yang mau belajar menenun. Alhasil, pemilik sendiri yang menenun. Jika sudah begini maka energi terkuras dan tidak ada waktu untuk mengembangkan usaha lagi," kata dia.

Untuk itu, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan pelaku usaha muda kain tenun, seperti dari komunitas untuk menjaga harga dan kualitas, serta perbankan untuk tambahan modal.

Pengamat ekonomi Hendry Saparini dalam sebuah seminar di Palembang beberapa waktu lalu mengatakan perbankan perlu mendampingi pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya.

Menurutnya, pelaku usaha ini bukan hanya membutuhkan suntikan modal tapi pendampingan dari lembaga terkait untuk mampu menembus pasar.

"Sebagian besar, masih takut meminjam uang di bank. Ini karena kurang edukasi saja, tapi jika diberikan pengertian manfaat dari menambah modal, saya rasa mereka akan mau asalkan bunga yang ditawarkan sangat rendah," kata dia.

Setelah mendapatkan modal, yang tak kalah penting yakni didampingi oleh kalangan perbankan tersebut.

"Ini yang sering disayangkan. Setelah mendapatkan suntikan modal, mereka jadi terjebak karena tidak ada yang mengajari bagaimana memaksimalkan dana yang tersedia. Akhirnya, pelaku UMKM akan hanya memikirkan bagaimana cara mengembalikan utang, bulan per bulan," kata dia.

Bisnis kain khas Palembang sangat menjanjikan karena cenderamata buatan tangan ini masih menjadi buruan di pasar dalam negeri hingga ekspor.

Meski sangat berpotensi tapi untuk menggeluti usaha pembuatan kain songket, tajung, dan blongsong ini bukan perkara mudah, karena pelaku usaha dihadapkan kesulitan mendapatkan tenaga kerja dan modal.

Muzakir merupakan potret usahawan muda yang baru bertunas yang sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga kalangan perbankan untuk menjadi usahawan kuat yang tahan terhadap krisis.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar