Kemenristek fasilitasi konsorsium riset sel surya

id kemenristek, ristek, sel surya

...Saya berharap 10 tahun lagi teknologi tersebut sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam mengatasi persoalan kelangkaan energi...
Solo (ANTARA Sumsel) - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) memfasilitasi pembentukan Konsorsium Riset Sel Surya Jenis Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) dalam rangka pemanfaatan energi matahari menjadi sumber energi untuk memenuhi energi dalam kehidupan sehari-hari.

         

Kepala Bidang Riset Iptek Energi dan Material Maju Kemenristek Dr Syafarudin mengatakan hal tersebut di sela-sela menghadiri  Launching Grup Riset Sel Surya Berbasih Pewarna Jenis DSSC di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo, Selasa.

         

Penelitian-penelitia seperti ini sebenarnya di setiap universitas sudah berjalan dan sekarang ini para pakar dikumpulkan untuk dibagi tugas dalam pengembangan teknologi tersebut agar bisa secepatnya dimanfaatkan untuk mengatasi masalah kelangkaan energi di Tanah Air.

         

"Kalau saya berharap 10 tahun lagi teknologi tersebut sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam mengatasi persoalan kelangkaan energi. Sebenarnya sekarang ini juga sudah bisa, tetapi masih perlu terus penyempurnaan," kata Syafarudin.

         

Semakin menipisnya cadangan minyak bumi, pemanfaatan sumber energi terbarukan menjadi fokus yang harus dipikirkan saat ini, dan posisi Indonesia yang berada di garis katulistiwa mempunyai potensi energi matahari yang sangat besar dengan rata-rata 4800 Wh/m2 per hari, kata Pembantu Dekan III Fakultas Teknik UNS Agus Purwanto.

         

Ia mengatakan untuk mengatasi persoalan tersebut maka perlu dikembangkan teknologi pemanfaatan energi matahari menjadi sumber energi yang dapat digunakan untuk pemenuhan energi dalam kehidupan sehar-hari.

         

Dikatakan dalam upaya mendorong penelitian sel surya jenis DSSC, Kemenristek telah berupaya secara maksimal untuk menfasilitasinya. Banyak penelitian sel surya jenis ini telah didanai dengan pendanaan lewat skema inSINAS (Insentif Riset Nasional).

         

Pendanaan yang diberikan berkisar Rp200 sampai Rp400 juta per judul, karena semakin intensifnya penelitian pada bidang ini maka Kemenristek memfasilitasi pertemuan-pertemuan peneliti guna sikronisasi penelitian.

         

Ia mengatakan, sebagai hasil dari pertemuan sebelumnya, dirasakan perlu untuk membuat kelompok peneliti bidang sel surya berbasis pewarna ini.

         

Oleh karena itu penelitia yang tersebar di berbagai universitas di Indonesia (UNS, ITB, UGM, Undip, Universitas Ma-Cung Malang dan LIPI) berkumpul di UNS untuk membuat konsorsium.

         

Dikatakan melalui cara ini diharapkan akan bisa mempercepat untuk mengatasi masalah energi di Indonesia.

         

Rahmad Hidayat peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan sebenarnya untuk sumber daya manusia (SDM) yang ada di perguruan tinggi di Indonesia mampu untuk mengembangkan teknologi ini untuk kepentingan bangsa Indonesia, asalkan pemerintah mau mendukungnya dalam menyediakan peralatan penelitian.

         

"Kami bukan apa-apa tetapi ini faktanya kita mau mengembangkan masalah ini juga terbentur alat-alat penelitian," katanya.

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar