"Merajut Indonesia" kuak kesenjangan pulau-pulau terdepan

id indonesia

"Merajut Indonesia" kuak kesenjangan pulau-pulau terdepan

Indonesia (Antarasumsel.com)

Rote (ANTARA Sumsel) - Gelaran "Merajut Indonesia" yang merupakan program peningkatan rasa nasionalisme yang digagas Kementerian Pemuda dan Olahraga ternyata juga sukses menguak kesenjangan pulau-pulau terdepan Indonesia dengan wilayah lain.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau ini berada di barisan terdepan wilayah Indonesia bagian selatan atau berbatasan langsung dengan Australia.

Kabupaten yang baru berusia 11 tahun ini sebenarnya tidak begitu jauh dari ibukota Provinsi NTT, yaitu hanya sekitar dua hingga tiga jam perjalanan laut dengan kapal cepat atau setengah jam dengan menggunakan pesawat udara.

Memang, jika dilihat secara langsung terutama di pusat kota kabupaten, peradapan masyarakat berjalan normal seperti yang ada di daerah lain. Pasar, aktivitas di dermaga maupun sekolah-sekolah berjalan seperti biasa.

Tetapi, jika dilihat lebih mendalam, sebagai pulau terdepan di bagian selatan dan berbatasan langsung dengan negara lain banyak hal yang kurang memadai. Seperti halnya infrastuktur yang belum menyeluruh, keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun listrik.

"Di sini belum ada SPBU. Makanya kita hanya bisa beli bensin eceran. Harganya pun cukup tinggi. Satu liternya Rp8.000," kata salah satu warga Kabupaten Rote Ndao, Rusli.

Meski harga premiun cukup tinggi dibandingkan dengan harga resmi dari pemerintah yaitu Rp6.500 per liter, namun keberadaannya masih mudah didapat meski dengan harganya berbeda-beda. Seperti halnya di perjalanan dari Baa menuju Pantai Nemberala. Banyak kios penjual bensin eceran berdiri.

Menjadi tempat terdepan dan jauh dari pusat pemerintahan provinsi maupun pusat tidak hanya bahan bakar minyak yang menjadi kendala. Begitu juga dengan pemenuhan akan listrik. Belum semua masyarakat mendapatkan pelayanan dari PLN.

Masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan dari PLN melalui  Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), ternyata banyak yang mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta generator milik pribadi.

"Listrik mati di sini sudah biasa. Pohon tumbang juga bisa sebabkan listrik mati," kata salah satu warga Pulau Rote, Indra.

Selain bahan bakar dan listrik, jalan di kabupaten yang berpenduduk kurang lebih 123 ribu jiwa ini belum sepenuhnya mulus. Banyak jalan yang masih berlobang, dan contohnya jalur menuju pantai di sepanjang Nemberala. Padahal, daerah tersebut adalah salah satu tujuan kunjungan wisata.

Kondisi yang dinilai kurang maksimal juga bisa dilihat dari sisi pertahanan. Ternyata masih ada satu pulau lagi yang dinilai sebagai yang terdepan yaitu Pulau Ndana. Pulau ini berada di arah selatan Rote.

"Selama ini kita hanya kenal jika Pulau Rote yang berbatasan dengan Australia. Padahal masih ada Pulau Ndana," kata Dandim 1604/Kupang, Letkol (Inf) Ricky Lumintang di sela kegiatan "Merajut Indonesia", Jumat (27/6).

Sebagai pulau yang jauh terdepan, kata dia, Pulau Ndana perlu penjagaan khusus. Apalagi pulau ini berbatasan langsung dengan negara lain. Saat ini pulau ini baru dijaga sekitar 40 personel dari TNI AD dan TNI AL.

"Demi keamanan dan pertahanan pulau terdepan, sudah saatnya pulau ini diperkuat dengan sistem radar dan persenjataan yang lebih memadai. Khusus Pulau Rote dan sekitarnya selama ini dipantau dari Kupang," katanya dengan tegas.  

Keinginan untuk lebih memperkuat lini ketahanan dan pertahanan juga disampaikan oleh Bupati Kabupaten Rote Ndao Leonard Haning. Menurut dia, jalur yang berada di sekitar Pulau Rote dan Ndana merupakan jalur Zona Ekonomi Ekslusif sehingga harus mendapatkan pantauan khusus.

"Banyak kapal asing tujuan Australia yang melintas di sini. Kapal asing itu banyak membawa orang yang mencari suaka. Makanya kita harus mewaspadai itu," katanya Leonard Haning dengan tegas.  

Menurut dia, dengan adanya kegiatan "Merajut Indonesia" yang digagas oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga diharapkan semua masyarakat terutama dari Kabupaten Rote Ndao memperkuat nilai kebangsaan demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada "Merajut Indonesia", pemuda dan pramuka terutama dari Pulau Rote dan sekitarnya telah membulatkan tekad demi persatuan NKRI dengan mengumandangkan "Deklarasi Daun Lontar dari Selatan Nusantara".

Deklarasi ini berisi, Satu: Kami pemuda dan Pramuka Indonesia peserta "Merajut Indonesia" di Pulau Rote NTT bersaksi bahwa Indonesia adalah negara yang besar dan kuat karena kemajemukannya. Kemajemukan yang ditandai oleh bentang luas wilayah dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Kedua: Kemajemukan Indonesia yang meliputi keragaman suku, agama, adalah kekayaan bangsa yang harus dirawat dijaga dan ditegakkan untuk menghindarkan Indonesia dari benih ancaman disintegrasi yang tidak dikehendaki.

Ketiga:  Atas dasar fakta semakin tergerusnya nilai-nilai kebangsaan pada generasi muda khususnya, kami sepakat mencanangkan "Deklarasi Daun Lontar" yaitu komitmen bersama pemuda Indonesia untuk bersatu, berbakti, beraksi untuk negeri, meneguhkan kecintaan pada Tanah Air serta menjunjung tinggi falsafah Bhinneka Tunggal Ika dalam rangka menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.    

Sementara itu Menpora Roy Suryo sangat mengapresiasi gerakan pemuda dan pramuka dari Kabupaten Pulau Rote Ndao dan sekitarnya yang sangat menjunjung tinggi nilai kebangsaan.

"Mempertahankan keutuhan NKRI bukan hanya tugas Menteri tetapi tugas seluruh masyarakat Indonesia. Melalui "Merajut Indonesia" kita kobarkan lagi semangat nasionalisme kita," katanya dengan tegas.

"Merajut Indonesia" merupakan program dari Kemenpora dengan tujuan untuk meningkatkan nasionalisme pemuda Indonesia. Kegiatan ini dengan mendatangi langsung pulau-pulau terdepan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan mulai hal kepemudaan, kepanduan, olahraga serta kesenian. Namun, ada beberapa kegiatan yang batal dilakukan di antaranya peletakan batu pertama pembangunan stadion olahraga di Kabupaten Rote Ndao.

Kunjungan ke Pulau Rote merupakan rangkaian "Merajut Indonesia" yang kedua. Sebelumnya rombongan pemuda dan didampingi langsung oleh Menpora mengunjungi Pulau Miangas yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Di Mianggas, infrastruktur termasuk listrik untuk masyarakat juga belum maksimal. Begitu juga dengan aparat keamanan. Saat ini pulau yang dulunya diklaim milik Filipina hanya dijaga 10 orang anggota TNI.  

Setelah ke Pulau Rote, "Merajut Indonesia" akan melakukan perjalanan ke Merauke. Kota ini berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Selanjutnya menuju Sabang yang berada di Pulau Weh Naggroe Aceh Darussalam dan ditutup di Samarinda bersamaan denga Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang.

Pewarta :
Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar