Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjelang Simposium Jackson Hole karena investor memperkirakan pernyataan hawkish dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

"Perkiraan tersebut didukung oleh pernyataan beberapa pejabat The Fed dan data US Jobless Claims. Salah satu pejabat Fed, Susan Collins, menyatakan bahwa The Fed perlu menaikkan suku bunga sambil menegaskan bahwa Federal Funds Rate (FFR) mendekati puncaknya," ujar dia ketika dihubungi di Jakarta, Jumat.

Sementara itu, US Initial Jobless Claims turun menjadi 230 ribu dari sebelumnya 240 ribu, menandakan pasar tenaga kerja yang ketat.

Pada Kamis (24/8), Bank Indonesia (BI) turut mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) dan mempertahankan suku bunga di angka 5,75 persen.


Selain pengumuman suku bunga kebijakan, BI juga mengumumkan instrumen moneter baru yaitu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam rangka pendalaman pasar keuangan.

“BI juga memberi isyarat bahwa BI akan memprioritaskan stabilisasi rupiah melalui monetary policy mix,” ungkapnya.

Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) karena data menunjukkan bahwa pengajuan tunjangan pengangguran kembali turun pada pekan lalu.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis (24/8), bahwa jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran turun pekan lalu sebesar 10 ribu menjadi 230 ribu untuk pekan yang berakhir 19 Agustus 2023.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi melemah 0,17 persen atau 26 poin menjadi Rp15.272 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.246 per dolar AS.


Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Uploader : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2024