Menristek harapkan unicorn dan perusahan besar bina startup baru
Jumat, 1 November 2019 8:12 WIB
Menteri Riset dan Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro pada acara bertajuk "The 11th Joint Workshop Group on Higher Education, Research, Innovation, and Entrepreneurship" di Unhas Makassar, Kamis (31/10/2019). ANTARA/HO/Humas Unhas/pri. (ANTARA/HO/Humas Unhas)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengharapkan unicorn, decacorn, dan perusahaan besar di Indonesia dapat membina perusahaan rintisan (startup) yang baru muncul untuk menjadi perusahaan yang lebih besar.
Hal itu, menurut Bambang kepada wartawan dalam peluncuran Asosiasi Alumni University of Washington di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (31/10) malam, dalam rangka mendorong terwujudnya upaya pemerintah dalam menghasilkan lebih banyak startup.
"Kita harapkan kalau perusahaan yang besar ini maju terus,dia bisa membina dan mengangkat (startup) yang masih baru karena saya percaya yang baru-baru ini punya ide yang bagus cuma mungkin mereka kurang modal atau 'exposure' kepada pemodal ini yang bisa diangkat," katanya.
Bambang mengatakan pemerintah ingin lebih banyak startup muncul dan tumbuh menjadi besar termasuk penguatan perusahaan pemula berbasis teknologi yang berada di bawah Kementerian Riset dan Teknologi.
"Kita juga harapkan perusahaan yang sudah besar, startup yang sudah besar yang sudah unicorn dan segala macam mulai mengedepankan RnD (research and development/penelitian dan pengembangan) yang kuat sehingga dengan RnD yang kuat dia akan terus bersaing secara global dan bisa menjaga Indonesia sebagai satu negara yang akan jadi yang terkemuka di bidang digital," katanya.
Untuk mendukung tumbuh kembang startup baru, kata dia, pemerintah Indonesia dapat berfungsi sebagai fasilitator untuk mempertemukan perusahaan besar dengan startup yang baru.
Dengan fasilitasi itu diharapkan perusahaan besar dapat memberikan pembinaan kepada startup baru atau perusahaan kecil. Perusahaan besar juga bisa melihat prospek bisnis menjanjikan dan ide kompetitif dari startup baru sehingga mulai menginvestasikan modal untuk keberlangsungan penelitian dan pengembangan serta keberlanjutan bisnis.
"Selama mereka (perusahaan besar dan kecil) ketemu, ada exposure dan apalagi kalau idenya (perusahaan kecil) sudah benar-benar solid harusnya perusahaan besar pun tertarik karena ini kan bagian dari RnD mereka, daripada mencari terus yang barangkali mereka belum ketemu, kenapa tidak mengambil ide yang sudah jadi atau yang sudah siap (dari perusahaan kecil)," ujarnya.
Indonesia saat ini memiliki empat perusahaan yang bertitel unicorn yaitu Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan OVO.
Gojek sudah bergelar decacorn, satu tingkat di atas unicorn.
Hal itu, menurut Bambang kepada wartawan dalam peluncuran Asosiasi Alumni University of Washington di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (31/10) malam, dalam rangka mendorong terwujudnya upaya pemerintah dalam menghasilkan lebih banyak startup.
"Kita harapkan kalau perusahaan yang besar ini maju terus,dia bisa membina dan mengangkat (startup) yang masih baru karena saya percaya yang baru-baru ini punya ide yang bagus cuma mungkin mereka kurang modal atau 'exposure' kepada pemodal ini yang bisa diangkat," katanya.
Bambang mengatakan pemerintah ingin lebih banyak startup muncul dan tumbuh menjadi besar termasuk penguatan perusahaan pemula berbasis teknologi yang berada di bawah Kementerian Riset dan Teknologi.
"Kita juga harapkan perusahaan yang sudah besar, startup yang sudah besar yang sudah unicorn dan segala macam mulai mengedepankan RnD (research and development/penelitian dan pengembangan) yang kuat sehingga dengan RnD yang kuat dia akan terus bersaing secara global dan bisa menjaga Indonesia sebagai satu negara yang akan jadi yang terkemuka di bidang digital," katanya.
Untuk mendukung tumbuh kembang startup baru, kata dia, pemerintah Indonesia dapat berfungsi sebagai fasilitator untuk mempertemukan perusahaan besar dengan startup yang baru.
Dengan fasilitasi itu diharapkan perusahaan besar dapat memberikan pembinaan kepada startup baru atau perusahaan kecil. Perusahaan besar juga bisa melihat prospek bisnis menjanjikan dan ide kompetitif dari startup baru sehingga mulai menginvestasikan modal untuk keberlangsungan penelitian dan pengembangan serta keberlanjutan bisnis.
"Selama mereka (perusahaan besar dan kecil) ketemu, ada exposure dan apalagi kalau idenya (perusahaan kecil) sudah benar-benar solid harusnya perusahaan besar pun tertarik karena ini kan bagian dari RnD mereka, daripada mencari terus yang barangkali mereka belum ketemu, kenapa tidak mengambil ide yang sudah jadi atau yang sudah siap (dari perusahaan kecil)," ujarnya.
Indonesia saat ini memiliki empat perusahaan yang bertitel unicorn yaitu Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan OVO.
Gojek sudah bergelar decacorn, satu tingkat di atas unicorn.
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Abdee "Slank" masuk jajaran komisaris PT Telkom, berikut susunan dewan komisaris dan direksi
28 May 2021 23:52 WIB, 2021
Mantan Menristek Bambang Brodjonegoro diangkat sebagai Komisaris Utama Bukalapak
01 May 2021 14:16 WIB, 2021
Menteri: Teknologi tepat guna harus relevan kebutuhan masyarakat Indonesia
23 February 2021 16:07 WIB, 2021
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB