Festival Teluk Jailolo di Ternate
Minggu, 7 April 2019 11:29 WIB
Halbar pusatkan pelaksanaan lounching Festival Teluk Jailolo (FTJ) di Kota Ternate (ANTARA/Abdul Fatah)
Ternate (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara, menggelar Festival Teluk Jailolo (FTJ) di Kota Ternate sebagai dukungan dalam program segitiga emas di daerah itu.
Bupati Kabupaten Halbar, Dani Missy di Ternate, Minggu, menyatakan, alasan dipilihnya Landmark Ternate sebagai lokasi program segitiga emas, karena Ternate, Tidore dan Jailolo, karena memiliki historis khususnya memiliki sejarah tiga kesultanan dari empat kesultanan di Malut, sehingga berkomitmen dalam mengembangkan sektor pariwisata, ekonomi dan sosial budaya.
Menurut dia, upaya perjuangan infrastruktur pariwisata di tiga daerah ini bisa beri kontribusi besar, FTJ ke-11, komitmen kerja sama dukung segitiga emas melalui rekomendasi Gubernur Malut Abdul Gani Kasuba.
FTJ merupakan promosi wisata dan FTJ masuk jajaran 100 wonderfull di Indonesia, tema pesona budaya kekayaan rempah, ritual sigofi ngolo (bersih laut), teater kuliner tujuh suku di Idamdehe khas makanan Halbar, jelajah Halbar bagi wisatawan ingin berpetualang ekspedisi burung bidadari, pesta tani, pranata adat, puncak persebahan teaterikal sasadu atas laut dan diramaikan kehadiran artis ibukota.
FTJ yang rencananya berlangsung pada 24-29 Juni 2019 akan menyuguhkan kekhasan budaya tujuh suku asli di kabupaten itu diantaranya Sahu, Tobaru, Loloda dan Gamkonora serta menampilkan berbagai budaya yang menjadi ciri khas masing-masing seperti ritual adat dan kesenian tradisional.
Dimana, setiap suku akan memperkenalkan kekhasan budayanya bukan di pusat lokasi penyelenggaraan FTJ di Jailolo, tetapi di wilayah masing-masing suku sehingga penyelenggaraan FTJ dampaknya dapat dinikmati langsung masyarakat di semua suku asli di daerah itu.
Bahkan, pelibatan tujuh suku asli di Halmahera Barat, termasuk seluruh suku pendatang dalam kegiatan FTJ 2019 merupakan salah satu upaya untuk menjaga eksistensi keragaman suku di daerah itu sekaligus memberdayakannya sebagai sumber ekonomi melalui kegiatan pariwisata.
Pada penyelenggaraan FTJ, kata Bupati, diagendakan pula perjalanan ke berbagai objek wisata di daerah itu, seperti Kaha Tola dan hutan lindung yang menjadi habitat burung bidadari, salah satu burung endemik Halmahera.
Gubernur Malut, Abdul Gani Kasuba memuji strategis Bupati Halbar untuk menjadikan Ternate sebagai tempat louching FTJ sangat beralasan, karena selain adanya program segitiga emas, Ternate merupakan pintu masuk provinsi Malut yang sangat layak untuk mempromosikan program pariwisata FTJ.
Dalam louching yang dihadiri tiga Kesultanan di wilayah Malut menampilkan tarian Cry Jailolo yang penarinya berasal dari Jailolo tersebut sudah tampil di berbagai iven mulai dari Australia, Eropa, Asia hingga benua Amerika.
Bupati Kabupaten Halbar, Dani Missy di Ternate, Minggu, menyatakan, alasan dipilihnya Landmark Ternate sebagai lokasi program segitiga emas, karena Ternate, Tidore dan Jailolo, karena memiliki historis khususnya memiliki sejarah tiga kesultanan dari empat kesultanan di Malut, sehingga berkomitmen dalam mengembangkan sektor pariwisata, ekonomi dan sosial budaya.
Menurut dia, upaya perjuangan infrastruktur pariwisata di tiga daerah ini bisa beri kontribusi besar, FTJ ke-11, komitmen kerja sama dukung segitiga emas melalui rekomendasi Gubernur Malut Abdul Gani Kasuba.
FTJ merupakan promosi wisata dan FTJ masuk jajaran 100 wonderfull di Indonesia, tema pesona budaya kekayaan rempah, ritual sigofi ngolo (bersih laut), teater kuliner tujuh suku di Idamdehe khas makanan Halbar, jelajah Halbar bagi wisatawan ingin berpetualang ekspedisi burung bidadari, pesta tani, pranata adat, puncak persebahan teaterikal sasadu atas laut dan diramaikan kehadiran artis ibukota.
FTJ yang rencananya berlangsung pada 24-29 Juni 2019 akan menyuguhkan kekhasan budaya tujuh suku asli di kabupaten itu diantaranya Sahu, Tobaru, Loloda dan Gamkonora serta menampilkan berbagai budaya yang menjadi ciri khas masing-masing seperti ritual adat dan kesenian tradisional.
Dimana, setiap suku akan memperkenalkan kekhasan budayanya bukan di pusat lokasi penyelenggaraan FTJ di Jailolo, tetapi di wilayah masing-masing suku sehingga penyelenggaraan FTJ dampaknya dapat dinikmati langsung masyarakat di semua suku asli di daerah itu.
Bahkan, pelibatan tujuh suku asli di Halmahera Barat, termasuk seluruh suku pendatang dalam kegiatan FTJ 2019 merupakan salah satu upaya untuk menjaga eksistensi keragaman suku di daerah itu sekaligus memberdayakannya sebagai sumber ekonomi melalui kegiatan pariwisata.
Pada penyelenggaraan FTJ, kata Bupati, diagendakan pula perjalanan ke berbagai objek wisata di daerah itu, seperti Kaha Tola dan hutan lindung yang menjadi habitat burung bidadari, salah satu burung endemik Halmahera.
Gubernur Malut, Abdul Gani Kasuba memuji strategis Bupati Halbar untuk menjadikan Ternate sebagai tempat louching FTJ sangat beralasan, karena selain adanya program segitiga emas, Ternate merupakan pintu masuk provinsi Malut yang sangat layak untuk mempromosikan program pariwisata FTJ.
Dalam louching yang dihadiri tiga Kesultanan di wilayah Malut menampilkan tarian Cry Jailolo yang penarinya berasal dari Jailolo tersebut sudah tampil di berbagai iven mulai dari Australia, Eropa, Asia hingga benua Amerika.
Pewarta : Abdul Fatah
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Seorang penumpang KM Sabuk Nusantara jatuh saat sandar di pelabuhan
22 December 2024 23:00 WIB, 2024
Terpopuler - Seni & Budaya
Lihat Juga
Dinas Pariwisata Palembang promosikan Ziarah Kubro menjelang 10 hari Ramadhan
17 February 2025 19:57 WIB, 2025