Pertamina dan transportir lanjutkan program K3
Selasa, 15 Januari 2019 15:33 WIB
Pertamina lanjutkan budaya K3 (Antara/Susilawati)
Palembang, (ANTARA News Sumsel) - Pertamina Marketing Operation Region II Sumbagsel dan transportir melanjutkan budaya kesehatan dan keselamatan kerja untuk kelangsungan bisnis energi di wilayah Sumatera bagian Selatan.
"Bagi Pertamina, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta aspek-aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) sudah menjadi budaya yang diprioritaskan, dan juga selalu dilakukan penyegaran untuk memastikan budaya itu tetap dijalankan," kata Pjs. General Manager MOR II Sumbagsel, Aji Anom di Palembang, Selasa.
Memasuki bulan K3, Pertamina Marketing Operation Region II Sumbagsel kembali melakukan berbagai kegiatan untuk mengevaluasi kejadian yang terjadi pada tahun 2018 dan juga memastikan kejadian itu tidak terjadi di kemudian hari.
Dengan tema bulan K3 PT Pertamina (Persero) Wujudkan HSSE Beyond Culture untuk Business Sustainibility, rangkaian kegiatan di MOR II Sumbagsel dari hari ini hingga penutupan 8 Februari dipastikan untuk mengingatkan kembali HSSE adalah budaya.
"Aspek HSSE menjadi fokus dan prioritas utama seluruh insan Pertamina, menjadi pondasi untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia serta kunci mewujudkan kemandirian energi nasional. Zero Fatality harus bisa dicapai," katanya.
Rangkaian kegiatan bulan K3 di MOR II Sumbagsel dibuka dengan awareness bagi transportir dalam masalah keselamatan transportasi darat.
Menurut Hendrix Eko Vebriono, HSSE Manager Region II Sumbagsel, transportasi darat yakni mobil tanki menjadi moda transportasi utama dalam bisnis Pertamina untuk mengirimkan energi bagi masyarakat, hingga ke pelosok negeri.
"Ada 11 Corporate Life Saving Rules di Pertamina sebagai bentuk implementasi budaya HSSE, saat ini ditambahkan satu (1) jadi 11 + 1, yakni safety driving. Berdasarkan pengalaman kami, kecelakaan lalu lintas bisa sangat merugikan, dan kami ingin memastikan insiden terkait laka lantas bisa terus diminimalisir, dan kami merangkul para transportir untuk mewujudkan hal tersebut," ujarnya.
Materi penyegaran tentang keselamatan transportasi darat ini diisi salah satunya oleh Berno Syamsul, HSSE PT Pertamina (Persero) di bidang safety management.
Menurut Berno, insiden terkait laka lantas mobil tanki mayoritas disebabkan oleh faktor manusia, baru disusul oleh faktor eksternal dan faktor teknis.
Perilaku saat mengemudi, kelelahan, dan kompetensi pengemudi itu sendiri biasanya penyebab utama laka lantas mobil tanki. Karenanya, kita bersama-sama dengan transportir harus terus mengevaluasi dan melakukan penyegaran berkala memastikan budaya HSSE juga tertanam di masing-masing awak mobil tanki (AMT), jelasnya.
Selain itu, ia juga terus mengingatkan perusahaan transportir untuk mengawasi baik AMT maupun kendaraannya. Pengawasan yang baik menurutnya akan meminimalisir insiden karena sifatnya dapat mencegah. "Jangan diawasi dan dievaluasi setelah terjadi insiden, tapi berkala," tuturnya.
Salah satu transportir di wilayah Lampung, Ujang, juga mengikuti kegiatan awareness ini. Baginya, kegiatan seperti ini dapat mempererat budaya HSSE Pertamina dengan transportir sehingga akan tercipta sinergi yang makin baik.
"Selama ini Pertamina memang mewajibkan aturan K3 yang ketat, dan kami mengerti bahwa itu demi keselamatan bersama. Dengan kegiatan seperti ini, kami bisa melihat penyebab besar laka lantas, dan dengannya kami bisa evaluasi, membuat inovasi, dan bahu membahu untuk selalu mengingatkan pentingnya HSSE dalam bekerja," katanya.
"Bagi Pertamina, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta aspek-aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) sudah menjadi budaya yang diprioritaskan, dan juga selalu dilakukan penyegaran untuk memastikan budaya itu tetap dijalankan," kata Pjs. General Manager MOR II Sumbagsel, Aji Anom di Palembang, Selasa.
Memasuki bulan K3, Pertamina Marketing Operation Region II Sumbagsel kembali melakukan berbagai kegiatan untuk mengevaluasi kejadian yang terjadi pada tahun 2018 dan juga memastikan kejadian itu tidak terjadi di kemudian hari.
Dengan tema bulan K3 PT Pertamina (Persero) Wujudkan HSSE Beyond Culture untuk Business Sustainibility, rangkaian kegiatan di MOR II Sumbagsel dari hari ini hingga penutupan 8 Februari dipastikan untuk mengingatkan kembali HSSE adalah budaya.
"Aspek HSSE menjadi fokus dan prioritas utama seluruh insan Pertamina, menjadi pondasi untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia serta kunci mewujudkan kemandirian energi nasional. Zero Fatality harus bisa dicapai," katanya.
Rangkaian kegiatan bulan K3 di MOR II Sumbagsel dibuka dengan awareness bagi transportir dalam masalah keselamatan transportasi darat.
Menurut Hendrix Eko Vebriono, HSSE Manager Region II Sumbagsel, transportasi darat yakni mobil tanki menjadi moda transportasi utama dalam bisnis Pertamina untuk mengirimkan energi bagi masyarakat, hingga ke pelosok negeri.
"Ada 11 Corporate Life Saving Rules di Pertamina sebagai bentuk implementasi budaya HSSE, saat ini ditambahkan satu (1) jadi 11 + 1, yakni safety driving. Berdasarkan pengalaman kami, kecelakaan lalu lintas bisa sangat merugikan, dan kami ingin memastikan insiden terkait laka lantas bisa terus diminimalisir, dan kami merangkul para transportir untuk mewujudkan hal tersebut," ujarnya.
Materi penyegaran tentang keselamatan transportasi darat ini diisi salah satunya oleh Berno Syamsul, HSSE PT Pertamina (Persero) di bidang safety management.
Menurut Berno, insiden terkait laka lantas mobil tanki mayoritas disebabkan oleh faktor manusia, baru disusul oleh faktor eksternal dan faktor teknis.
Perilaku saat mengemudi, kelelahan, dan kompetensi pengemudi itu sendiri biasanya penyebab utama laka lantas mobil tanki. Karenanya, kita bersama-sama dengan transportir harus terus mengevaluasi dan melakukan penyegaran berkala memastikan budaya HSSE juga tertanam di masing-masing awak mobil tanki (AMT), jelasnya.
Selain itu, ia juga terus mengingatkan perusahaan transportir untuk mengawasi baik AMT maupun kendaraannya. Pengawasan yang baik menurutnya akan meminimalisir insiden karena sifatnya dapat mencegah. "Jangan diawasi dan dievaluasi setelah terjadi insiden, tapi berkala," tuturnya.
Salah satu transportir di wilayah Lampung, Ujang, juga mengikuti kegiatan awareness ini. Baginya, kegiatan seperti ini dapat mempererat budaya HSSE Pertamina dengan transportir sehingga akan tercipta sinergi yang makin baik.
"Selama ini Pertamina memang mewajibkan aturan K3 yang ketat, dan kami mengerti bahwa itu demi keselamatan bersama. Dengan kegiatan seperti ini, kami bisa melihat penyebab besar laka lantas, dan dengannya kami bisa evaluasi, membuat inovasi, dan bahu membahu untuk selalu mengingatkan pentingnya HSSE dalam bekerja," katanya.
Pewarta : Susilawati
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pertamina EP periksa kesehatan mata gratis 140 siswa SD di PALI dan Muara Enim
26 August 2026 15:45 WIB
Kilang Plaju gelar asesmen pengamanan ruang udara dan audit Sistem Manajemen Pengamanan
26 August 2026 15:33 WIB
PEP Ramba Field bergerak bersama warga padamkan karhutla di Muba dan Banyuasin
26 August 2026 15:22 WIB
Jaga ekosistem laut, Pertamina Trans Kontinental tanam 512 terumbu karang di Sulawesi Utara
20 August 2026 7:24 WIB
Terpopuler - Info Sumsel
Lihat Juga
Bulog targetkan groundbreaking pabrik padi Banyuasin dimulai September 2026
31 August 2026 18:51 WIB
Bulog Sumsel Babel serap 127 ton gabah hingga Agustus 2026, capai 73 persen target
28 August 2026 19:53 WIB
Polda Sumsel salurkan 5.000 buku hijaiyah untuk bebaskan santri dari buta aksara Alquran
28 August 2026 7:56 WIB