Prosesi ritual lepas burung di Kampung Manggis Jambi
Jumat, 16 Februari 2018 19:53 WIB
Dokumen - Sejumlah penjual burung pipit menawarkan dagangannya di halaman Klenteng Chandra Nadi 10 Ulu Palembang, Rabu (23/10). (ANTARA News Sumsel/13/Feny Selly)
Jambi (ANTARA News Sumsel) - Warga keturunan Tionghoa Kota Jambi melaksanakan ritual lepas burung ke alam liar (Fang Sen) dalam rangkaian prosesi perayaan menyambut Tahun Baru Imlek 2569 di Klenteng Shiu San Teng kawasan Kampung Manggis di kota itu, Jumat (16/2).
Seperti yang dilakukan oleh seorang warga keturunan, Levina seusai melaksanakan kegiatan doa memyambut imlek di klenteng tersebut, ia membeli burung jenis pipit yang dijual pedagang di sekitar klenteng lalu melepas liarkanya ke udara.
"Kami membeli kemudian di lepas agar burung ini bebas ke alam terbuka. Ini ritual saat perayaan imlek," katanya.
Selain Levina, sejumlah warga Tionghoa seusai melaksanakan peribadatan rata-rata membeli burung dan melepaskannya baru setelah itu meninggalkan klenteng.
Ada juga satu keluarga membeli burung jenis burung pipit 10-20 ekor kemudian melepasnya bersama-sama.
Tradisi melepas burung ini dimanfaatkan pedagang untuk menjual burung di sekitaran klenteng tertua di Kota Jambi itu.
"Setiap tahun kami berjualan burung pipit di sini, satu ekor Rp5 ribu plus sangkar. Terkadang satu keluarga itu membeli 10-20 ekor, kemudian mereka langsung melepaskannya dari sangkar," kata Amat pedagang burung di klenteng itu.
Sebelumnya ribuan warga Tionghoa melaksanakan prosesi ibadah Imlek di klenteng tertua di Kota Jambi itu sejak Jumat dini hari.
Masyarakat keturunan Tionghoa melaksanakan peribadatan di Klenteng tersebut hingga Jumat malam.
Untuk enjaga kenyamanan warga Tionghoa melaksanakan prosesi ibadah imlek, puluhan aparat keamanan dari TNI dan Polri Resort Kota Jambi terlihat berjaga-jaga di dalam dan luar Klenteng tertua di Kota Jambi .
Seperti yang dilakukan oleh seorang warga keturunan, Levina seusai melaksanakan kegiatan doa memyambut imlek di klenteng tersebut, ia membeli burung jenis pipit yang dijual pedagang di sekitar klenteng lalu melepas liarkanya ke udara.
"Kami membeli kemudian di lepas agar burung ini bebas ke alam terbuka. Ini ritual saat perayaan imlek," katanya.
Selain Levina, sejumlah warga Tionghoa seusai melaksanakan peribadatan rata-rata membeli burung dan melepaskannya baru setelah itu meninggalkan klenteng.
Ada juga satu keluarga membeli burung jenis burung pipit 10-20 ekor kemudian melepasnya bersama-sama.
Tradisi melepas burung ini dimanfaatkan pedagang untuk menjual burung di sekitaran klenteng tertua di Kota Jambi itu.
"Setiap tahun kami berjualan burung pipit di sini, satu ekor Rp5 ribu plus sangkar. Terkadang satu keluarga itu membeli 10-20 ekor, kemudian mereka langsung melepaskannya dari sangkar," kata Amat pedagang burung di klenteng itu.
Sebelumnya ribuan warga Tionghoa melaksanakan prosesi ibadah Imlek di klenteng tertua di Kota Jambi itu sejak Jumat dini hari.
Masyarakat keturunan Tionghoa melaksanakan peribadatan di Klenteng tersebut hingga Jumat malam.
Untuk enjaga kenyamanan warga Tionghoa melaksanakan prosesi ibadah imlek, puluhan aparat keamanan dari TNI dan Polri Resort Kota Jambi terlihat berjaga-jaga di dalam dan luar Klenteng tertua di Kota Jambi .
Pewarta : Dodi Saputra
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Penyidik Polri periksa istri dan anak Ismail Bolong jam 11 hari ini terkait kasus tambang ilegal
01 December 2022 14:36 WIB, 2022
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Sebanyak 17 penumpang longboat selamat, kapal mati mesin di Perairan Maluku Tenggara
27 January 2026 7:34 WIB