Nelayan Bugis gelar ritual adat larung laut
Selasa, 7 Februari 2017 7:00 WIB
Ilustrasi- Nelayan (Antarasumsel.com/Arina S.)
Koba (Antarasumsel.com) - Nelayan asal suku Bugis di Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, menggelar ritual adat "larung laut" sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Tokoh masyarakat suku Bugis, Sulawesi Selatan, Saleh Husein di Batu Belubang, Senin, mengatakan ritual demikian sudah dilakukan secara temurun oleh suku Bugis yang tinggal di Pulau Bangka.
"Ritual seperti ini dilakukan setiap tahun oleh masyarakat suku Bugis yang bekerja sebagai nelayan di daerah ini," ujarnya.
Ia menjelaskan, bentuk ritualnya yaitu dengan membuang miniatur kapal yang diarak secara bersama ke tengah laut.
"Prosesi buang kapal tersebut diiringi ratusan perahu nelayan di daerah ini dan sebelumnya digelar pembacaan doa," ujarnya.
Ia mengatakan, inti dari ritual ini hanya bentuk ungkapan syukur saja dan terus berdoa kepada sang pencipta untuk kelimpahan rezeki selama melaut.
"Tradisi khusus orang Bugis ini tetap dipertahankan dan dilestarikan hingga sekarang, dimana masyarakat asal suku Bugis ini sudah cukup lama tinggal di Pulau Bangka dan banyak bekerja sebagai nelayan," ujarnya.
Ia mengatakan, tradisi larung laut ini mendapat sambutan dari masyarakat pribumi sebagai bentuk khsanah budaya yang harus tetap dilestarikan.
"Kami sudah hidup berdampingan cukup lama hidup bermasyarakat dengan orang Bangka, kami mendapat tempat dan sangat dihargai berada di sini," ujarnya.
Tokoh masyarakat suku Bugis, Sulawesi Selatan, Saleh Husein di Batu Belubang, Senin, mengatakan ritual demikian sudah dilakukan secara temurun oleh suku Bugis yang tinggal di Pulau Bangka.
"Ritual seperti ini dilakukan setiap tahun oleh masyarakat suku Bugis yang bekerja sebagai nelayan di daerah ini," ujarnya.
Ia menjelaskan, bentuk ritualnya yaitu dengan membuang miniatur kapal yang diarak secara bersama ke tengah laut.
"Prosesi buang kapal tersebut diiringi ratusan perahu nelayan di daerah ini dan sebelumnya digelar pembacaan doa," ujarnya.
Ia mengatakan, inti dari ritual ini hanya bentuk ungkapan syukur saja dan terus berdoa kepada sang pencipta untuk kelimpahan rezeki selama melaut.
"Tradisi khusus orang Bugis ini tetap dipertahankan dan dilestarikan hingga sekarang, dimana masyarakat asal suku Bugis ini sudah cukup lama tinggal di Pulau Bangka dan banyak bekerja sebagai nelayan," ujarnya.
Ia mengatakan, tradisi larung laut ini mendapat sambutan dari masyarakat pribumi sebagai bentuk khsanah budaya yang harus tetap dilestarikan.
"Kami sudah hidup berdampingan cukup lama hidup bermasyarakat dengan orang Bangka, kami mendapat tempat dan sangat dihargai berada di sini," ujarnya.
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim SAR gabungan cari nelayan hilang di perairan Kuala Tungkal Tanjabbar
27 September 2026 12:24 WIB
Pertamina Patra Niaga perluas SPBU Nelayan di wilayah 3T melalui program BBM Satu Harga
30 April 2026 7:53 WIB
Nelayan Banyuasin dievakuasi ke Palembang gunakan ambulans apung Ditpolairud
05 April 2026 21:09 WIB
Lima ABK KM Natasya 01 selamat usai terombang-ambing 12 jam di laut Trenggalek
16 March 2026 20:07 WIB
Kisah ibu di pinggiran Singkarak, cetak anak jadi polisi dan sarjana dari ikan bilih
21 February 2026 19:33 WIB
Pertamina Lubricants Resmikan Bengkel Sahabat Nelayan di Kampung Bahari Bengkulu
14 January 2026 12:11 WIB