Pupuk Sriwijaya optimistis pabrik II-b operasi 2017
Selasa, 6 Desember 2016 9:41 WIB
Pengantongan pupuk urea di pabrik PT.Pusri Palembang. (FOTO ANTARA/Yudi Abdullah/11)
Palembang (Antarasumsel.com) - PT Pupuk Sriwijaya Palembang optimistis pabrik baru Pusri II-B akan beroperasi pada awal 2017 setelah pembangunan fisik telah memasuki tahapan finalisasi atau mencapai 94 persen per Desember 2016.
Direktur Utama PT Pusri Palembang Mulyono Prawiro di Palembang, Senin, mengatakan dalam waktu dekat proyek pembangunan pabrik baru ini akan akan memasuki tahap uji kinerja (performance test) yang dilakukan oleh kontraktor.
"Proses pembanguan sudah memasuki tahap akhir sebelum benar-benar beroperasi. Perusahaan optimistis bisa mulai jalan di 2017," kata dia di sela-sela acara tanam pohon di Komplek Pusri Palembang.
Menurut Mulyono, uji kinerja itu akan berlangsung selama dua pekan hingga tiga pekan, sehingga diharapkan target beroperasi awal tahun depan dapat terwujud.
Dia melanjutkan performance test adalah tahapan penting karena kontraktor proyek harus menyerahkan pabrik sesuai spesifikasi, baik itu menyangkut kapasitas maupun efisiensi.
"Perusahaan berharap pabrik andal dan berkualitas bagus," kata dia.
Terkait molornya pengoperasian pabrik baru ini jika merujuk target awal yakni akhir 2016, Mulyono beralasan karena banyak sejumlah persoalan teknis dan nonteknis selama pembangunan pabrik senilai Rp7 triliun ini.
Hal ini terkait dengan keinginan Pusri membuat pabrik baru dengan menggunakan teknologi canggih. "Jadi tidak bisa sembarangan harus bagus presisinya," kata dia.
Pabrik baru ini selain menerapkan teknologi baru juga dapat menghemat bahan baku gas, yakni dengan rasio pemakaian gas per ton produk 31,49 MMbtu per ton amonia dan 21,18 MMbtu per ton urea.
Jika dibandingkan dengan Pabrik Pusri II (existing) yang memiliki rasio pemakaian gas per ton produk 49,24 MMBTU per ton amonia dan 36.05 MMBTU per ton urea maka akan dihemat pemakaian gas sebesar 14,87 MMBTU per ton urea.
Pusri-IIB memiliki kapasitas produksi urea sebesar 907.500 ton per tahun dan amonia sebesar 660.000 ton per tahun.
Terkait pemanfaatan gas, Mulyono mengatakan bahwa perusahaannya masih mengharapkan pemerintah bisa menurunkan harga gas untuk industri pupuk di bawah US$5 per MMBTU karena di Tiongkok sudah tembus US$4 per MMBTU.
Selama ini, Mulyono mengatakan, perusahaan melakukan efisiensi di segala bidang di tengah harga gas yang masih berkutat di atas US$6 per MMBTU.
Direktur Utama PT Pusri Palembang Mulyono Prawiro di Palembang, Senin, mengatakan dalam waktu dekat proyek pembangunan pabrik baru ini akan akan memasuki tahap uji kinerja (performance test) yang dilakukan oleh kontraktor.
"Proses pembanguan sudah memasuki tahap akhir sebelum benar-benar beroperasi. Perusahaan optimistis bisa mulai jalan di 2017," kata dia di sela-sela acara tanam pohon di Komplek Pusri Palembang.
Menurut Mulyono, uji kinerja itu akan berlangsung selama dua pekan hingga tiga pekan, sehingga diharapkan target beroperasi awal tahun depan dapat terwujud.
Dia melanjutkan performance test adalah tahapan penting karena kontraktor proyek harus menyerahkan pabrik sesuai spesifikasi, baik itu menyangkut kapasitas maupun efisiensi.
"Perusahaan berharap pabrik andal dan berkualitas bagus," kata dia.
Terkait molornya pengoperasian pabrik baru ini jika merujuk target awal yakni akhir 2016, Mulyono beralasan karena banyak sejumlah persoalan teknis dan nonteknis selama pembangunan pabrik senilai Rp7 triliun ini.
Hal ini terkait dengan keinginan Pusri membuat pabrik baru dengan menggunakan teknologi canggih. "Jadi tidak bisa sembarangan harus bagus presisinya," kata dia.
Pabrik baru ini selain menerapkan teknologi baru juga dapat menghemat bahan baku gas, yakni dengan rasio pemakaian gas per ton produk 31,49 MMbtu per ton amonia dan 21,18 MMbtu per ton urea.
Jika dibandingkan dengan Pabrik Pusri II (existing) yang memiliki rasio pemakaian gas per ton produk 49,24 MMBTU per ton amonia dan 36.05 MMBTU per ton urea maka akan dihemat pemakaian gas sebesar 14,87 MMBTU per ton urea.
Pusri-IIB memiliki kapasitas produksi urea sebesar 907.500 ton per tahun dan amonia sebesar 660.000 ton per tahun.
Terkait pemanfaatan gas, Mulyono mengatakan bahwa perusahaannya masih mengharapkan pemerintah bisa menurunkan harga gas untuk industri pupuk di bawah US$5 per MMBTU karena di Tiongkok sudah tembus US$4 per MMBTU.
Selama ini, Mulyono mengatakan, perusahaan melakukan efisiensi di segala bidang di tengah harga gas yang masih berkutat di atas US$6 per MMBTU.
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mitra binaan Pusri "Roemah Jumpoetan" raih sertifikat SNI, jadi yang pertama di Indonesia
26 January 2026 15:33 WIB
Semarak Kampung Sehati: Pusri Bangun Kebersamaan dan Harmoni dengan Warga
06 December 2025 19:56 WIB
Perkuat keandalan operasional, Pusri tandatangani MoU dengan PLN UID S2JB
29 November 2025 19:36 WIB
Pusri terima penghargaan pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia 2025
27 November 2025 16:49 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB