Musirawas Utara (ANTARA Sumsel) - PT Seleraya Merangi Dua, salah satu perusahaan pertambangan Minyak dan Gas Bumi di Kabupaten Musirawas Utara, Sumatera Selatan, mendatangkan tiga tenaga ahli dari Amerika Serikat untuk memadamkan kobaran api pasca meledaknya sumur bor minyak milik perusahaan itu, Senin (7/7).
"Kobaran api pada salah satu sumur bor minyak dan gas di West 8, Kecamatan Rawas Ilir PT Seleraya Merangin Dua (SRMD) itu hingga saat ini belum bisa dipadamkan, sehingga masyarakat Desa Belani yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari lokasi mulai mengungsi," kata Penjabat Bupati Musirawas Utara (Muratara) Akisropi Ayub melalui Kabag Humas Sunardin, Sabtu.
"Kami mengharapkan lokasi semburan api itu bisa diamankan oleh perusahaan dari segala resiko yang melibatkan masyarakat, apa lagi warga mulai resah sejak terjadinya ledakan besar awal pekan lalu," katanya.
Berdasarkan informasi dari perusahaan tim ahli dari luar negeri itu akan melakukan konservasi metode apa yang bisa digunakan untuk menghentikan semburan, bila nantinya metode yang akan diterapkan tim ahli itu tidak berhasil, maka akan dilakukan alternatif lain.
Metode untuk mengatasi semburan api tersebut antara lain, melakukan pengeboran ulang dengan cara miring untuk mengurangi tekanan gas yang memerlukan waktu tetapi sifatnya sementara, namun diharapkan tim ahli yang diturunkan bisa menghentikan gas liar (Blow Out) tersebut.
Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Muratara Hendriyansah mengharapkan perusahaan dapat menghentikan semburan api tersebut dengan menggunakan berbagai teknologi canggih, sehingga tidak terjadi bencana besar seperti pengeboran minyak di Jawa Timur.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan kobaran api di lokasi ledakan hingga saat ini masih menyala, sedangkan warga Desa Belani mulai mengungsi karena desa mereka yang padat penduduk itu dilintasi pipa gas dan minyak perusahaan itu.
Salah seorang warga Desa Ahmad dihubungi mengaku mulai membawa peralatan seadanya mengungsi ke lokasi lebih aman dan jauh dari saluran pipa minyak perusahaan, untuk menghindari kemungkinan terjadi meluasnya kobaran api tersebut.
"Kami bersama warga lainnya sejak dua hari lalu berangsur mengangkut barang-barang kebutuhan sehari-hari dan mengungsi anak-anak, karena bertahan di desa juga tidak nyaman dan selalu rasa ketakutan, di samping menuju ibu kota kabupaten harus menggunakan jalan lama, jalan yang ada ditutup karena melewati lokasi bencana tersebut," ujarnya.
Pasca ledakan sumur bor perusahaan itu kegiatan masyarakat sebagian besar terhenti, terutama kebun yang ada di sekitar sumur tidak berani menggarapnya dan harga bahan pokok naik akibat sulitnya menjangakau desa Belani, tambahnya.
"Kobaran api pada salah satu sumur bor minyak dan gas di West 8, Kecamatan Rawas Ilir PT Seleraya Merangin Dua (SRMD) itu hingga saat ini belum bisa dipadamkan, sehingga masyarakat Desa Belani yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari lokasi mulai mengungsi," kata Penjabat Bupati Musirawas Utara (Muratara) Akisropi Ayub melalui Kabag Humas Sunardin, Sabtu.
"Kami mengharapkan lokasi semburan api itu bisa diamankan oleh perusahaan dari segala resiko yang melibatkan masyarakat, apa lagi warga mulai resah sejak terjadinya ledakan besar awal pekan lalu," katanya.
Berdasarkan informasi dari perusahaan tim ahli dari luar negeri itu akan melakukan konservasi metode apa yang bisa digunakan untuk menghentikan semburan, bila nantinya metode yang akan diterapkan tim ahli itu tidak berhasil, maka akan dilakukan alternatif lain.
Metode untuk mengatasi semburan api tersebut antara lain, melakukan pengeboran ulang dengan cara miring untuk mengurangi tekanan gas yang memerlukan waktu tetapi sifatnya sementara, namun diharapkan tim ahli yang diturunkan bisa menghentikan gas liar (Blow Out) tersebut.
Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Muratara Hendriyansah mengharapkan perusahaan dapat menghentikan semburan api tersebut dengan menggunakan berbagai teknologi canggih, sehingga tidak terjadi bencana besar seperti pengeboran minyak di Jawa Timur.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan kobaran api di lokasi ledakan hingga saat ini masih menyala, sedangkan warga Desa Belani mulai mengungsi karena desa mereka yang padat penduduk itu dilintasi pipa gas dan minyak perusahaan itu.
Salah seorang warga Desa Ahmad dihubungi mengaku mulai membawa peralatan seadanya mengungsi ke lokasi lebih aman dan jauh dari saluran pipa minyak perusahaan, untuk menghindari kemungkinan terjadi meluasnya kobaran api tersebut.
"Kami bersama warga lainnya sejak dua hari lalu berangsur mengangkut barang-barang kebutuhan sehari-hari dan mengungsi anak-anak, karena bertahan di desa juga tidak nyaman dan selalu rasa ketakutan, di samping menuju ibu kota kabupaten harus menggunakan jalan lama, jalan yang ada ditutup karena melewati lokasi bencana tersebut," ujarnya.
Pasca ledakan sumur bor perusahaan itu kegiatan masyarakat sebagian besar terhenti, terutama kebun yang ada di sekitar sumur tidak berani menggarapnya dan harga bahan pokok naik akibat sulitnya menjangakau desa Belani, tambahnya.