Kurs dolar menguat di Asia
Senin, 2 Juni 2014 15:59 WIB
Tokyo (Antara/AFP) - Kurs dolar menguat di Asia pada Senin, karena data manufaktur Tiongkok yang bergairah mengangkat sentimen investor menjelang rilis data penting ketenagakerjaan AS akhir pekan ini, sementara data ekonomi Jepang yang lemah menekan yen
Pada perdagangan sore hari di Tokyo, dolar diambil 102,02 yen dibandingkan dengan 101,75 yen di New York pada Jumat sore.
Euro naik menjadi 139,01 yen dari 138,75 yen, sementara itu melemah menjadi 1,3626 dolar terhadap 1,3630 dolar di perdagangan AS menjelang pertemuan dewan Bank Sentral Eropa (ECB) minggu ini yang banyak memperkirakan akan melihat sebuah pelonggaran kebijakan moneter.
Pada Minggu, pemerintah Tiongkok merilis data yang menunjukkan kegiatan manufaktur menguat ke posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir pada Mei, sebuah tanda optimis di tengah merosotnya pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua dunia itu.
Indeks pembelian manajer (PMI) resmi mencapai 50,8 pada Mei,
Biro Statistik Nasional (NBS) mengatakan dalam sebuah pernyataan, naik dari 50,4 pada Maret.
Indeks melacak aktivitas manufaktur di pabrik dan bengkel kerja Tiongkok dan merupakan indikator yang diawasi dengan ketat dari kesehatan perekonomian. Sebuah angka di atas 50 mengindikasikan pertumbuhan.
Sementara itu, sebuah laporan pada Jumat lalu menunjukkan bahwa belanja konsumen AS sedikit menyusut pada Februari, tetapi angka tersebut sebagian besar menepis perkiraan para ekonom yang menunjuk ke sebuah lompatan besar pada bulan sebelumnya.
Dengan sedikit isyarat perdagangan langsung lainnya, para investor sedang mencari petunjuk dari data-data yang akan dirilis minggu ini -- termasuk angka ketenagakerjaan AS -- serta pertemuan Bank Sentral Eropa.
"Pertemuan ECB pada Kamis dan laporan data penggajian AS pada Jumat mendominasi cakrawala internasional," kata National Australia Bank.
Pasar keuangan bertaruh pada penurunan suku bunga dari ECB karena kekhawatiran atas deflasi di 18 negara zona euro mendorong pembuat kebijakan untuk bertindak, yang cenderung akan menekan euro.
Pada Jumat lalu, belanja rumah tangga dan produksi pabrik Jepang yang lemah menyoroti dampak negatif dari kenaikan pajak penjualan pada bulan lalu, meningkatkan kemungkinan tindakan lebih lanjut dari bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), untuk melawan setiap penurunan di ekonomi nomor tiga dunia itu.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan pada Jumat bahwa BoJ mungkin perlu untuk mempertahankan kakinya pada pedal stimulus lebih lama daripada banyak diperkirakan.
"Langkah agresif pelonggaran moneter saat ini mungkin perlu dipertahankan untuk jangka waktu yang panjang," kata laporan tahunan IMF tentang ekonomi Jepang, yang diterbitkan Jumat pekan lalu.
Dolar menguat terhadap mata uang Asia-Pasifik lainnya.
Unit AS naik menjadi 1.024,15 won Korea Selatan dari 1.020,56 won pada Jumat, menjadi 30,05 dolar Taiwan dari 29,98 dolar Taiwan, menjadi 1,2560 dolar Singapura dari 1,2547 dolar Singapura dan menjadi 43,86 peso Filipina dari 43,83 peso.
Greenback juga menguat menjadi 59,09 rupee India dari 58,99 rupee, menjadi 32,87 baht Thailand dari 32,77 baht dan menjadi 11.757,50 rupiah Indonesia dari 11.632,50 rupiah.
Dolar Australia jatuh menjadi 92,59 sen AS dari 93,25 sen, sedangkan yuan Tiongkok dibeli 16,35 yen terhadap 16,24 yen.
Pada perdagangan sore hari di Tokyo, dolar diambil 102,02 yen dibandingkan dengan 101,75 yen di New York pada Jumat sore.
Euro naik menjadi 139,01 yen dari 138,75 yen, sementara itu melemah menjadi 1,3626 dolar terhadap 1,3630 dolar di perdagangan AS menjelang pertemuan dewan Bank Sentral Eropa (ECB) minggu ini yang banyak memperkirakan akan melihat sebuah pelonggaran kebijakan moneter.
Pada Minggu, pemerintah Tiongkok merilis data yang menunjukkan kegiatan manufaktur menguat ke posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir pada Mei, sebuah tanda optimis di tengah merosotnya pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua dunia itu.
Indeks pembelian manajer (PMI) resmi mencapai 50,8 pada Mei,
Biro Statistik Nasional (NBS) mengatakan dalam sebuah pernyataan, naik dari 50,4 pada Maret.
Indeks melacak aktivitas manufaktur di pabrik dan bengkel kerja Tiongkok dan merupakan indikator yang diawasi dengan ketat dari kesehatan perekonomian. Sebuah angka di atas 50 mengindikasikan pertumbuhan.
Sementara itu, sebuah laporan pada Jumat lalu menunjukkan bahwa belanja konsumen AS sedikit menyusut pada Februari, tetapi angka tersebut sebagian besar menepis perkiraan para ekonom yang menunjuk ke sebuah lompatan besar pada bulan sebelumnya.
Dengan sedikit isyarat perdagangan langsung lainnya, para investor sedang mencari petunjuk dari data-data yang akan dirilis minggu ini -- termasuk angka ketenagakerjaan AS -- serta pertemuan Bank Sentral Eropa.
"Pertemuan ECB pada Kamis dan laporan data penggajian AS pada Jumat mendominasi cakrawala internasional," kata National Australia Bank.
Pasar keuangan bertaruh pada penurunan suku bunga dari ECB karena kekhawatiran atas deflasi di 18 negara zona euro mendorong pembuat kebijakan untuk bertindak, yang cenderung akan menekan euro.
Pada Jumat lalu, belanja rumah tangga dan produksi pabrik Jepang yang lemah menyoroti dampak negatif dari kenaikan pajak penjualan pada bulan lalu, meningkatkan kemungkinan tindakan lebih lanjut dari bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), untuk melawan setiap penurunan di ekonomi nomor tiga dunia itu.
Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan pada Jumat bahwa BoJ mungkin perlu untuk mempertahankan kakinya pada pedal stimulus lebih lama daripada banyak diperkirakan.
"Langkah agresif pelonggaran moneter saat ini mungkin perlu dipertahankan untuk jangka waktu yang panjang," kata laporan tahunan IMF tentang ekonomi Jepang, yang diterbitkan Jumat pekan lalu.
Dolar menguat terhadap mata uang Asia-Pasifik lainnya.
Unit AS naik menjadi 1.024,15 won Korea Selatan dari 1.020,56 won pada Jumat, menjadi 30,05 dolar Taiwan dari 29,98 dolar Taiwan, menjadi 1,2560 dolar Singapura dari 1,2547 dolar Singapura dan menjadi 43,86 peso Filipina dari 43,83 peso.
Greenback juga menguat menjadi 59,09 rupee India dari 58,99 rupee, menjadi 32,87 baht Thailand dari 32,77 baht dan menjadi 11.757,50 rupiah Indonesia dari 11.632,50 rupiah.
Dolar Australia jatuh menjadi 92,59 sen AS dari 93,25 sen, sedangkan yuan Tiongkok dibeli 16,35 yen terhadap 16,24 yen.
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Moneter
Lihat Juga
Pemkab Muara Enim dan Kapolda Sumsel tanam bawang putih serentak di Semende Darat Tengah
19 August 2026 11:18 WIB