PT Pusri modernisasi pabrik hadapi persaingan global
Senin, 23 September 2013 19:12 WIB
Pabrik PT Pusri Palembang (Foto Antarasumsel.com/Aw)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Perseroan Terbatas Pupuk Sriwidjaja yang saat ini memiliki pabrik tertua di dunia--dibangun pada 1974--berupaya melakukan modernisasi pabrik agar bisa eksis dan mampu menghadapi persaingan global.
Upaya tersebut mendapat dukungan manajemen PT Pupuk Indonesia selaku perusahaan holding pupuk di Tanah Air dengan secara bertahap merealisasikan revitalisasi pabrik tua yang sudah tidak efisien lagi.
Proyek revitalisasi pabrik tua itu direalisasikan dengan dilakukannya pemancangan konstruksi pertama (groundbreaking) pabrik baru proyek revitalisasi Pusri II-B di Palembang, pada hari Senin (8/4/2013).
Acara "groundbreaking" proyek revitalisasi pabrik tua tersebut dilakukan langsung Menteri BUMN Dahlan Iskan didampingi Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Arifin Tasrif dan Direktur Utama PT Pusri Musthofa.
Menteri BUMN Dahlan Iskan memuji direksi Perseroan Terbatas Pupuk Sriwidjaja (PT Pusri) yang mampu merealisasikan pembangunan proyek revitalisasi pabrik tua dengan nilai investasi Rp7,4 triliun.
"Revitalisasi pabrik Pusri II dengan pabrik baru Pusri II-B yang dibiayai tujuh bank lokal dan asing, yaitu BCA, BNI, BRI, Bank Mandiri, Bank Jawa Barat, Bank Sumsel Babel, dan Bank UOB Indonesia dengan menggunakan skema 'club deal' merupakan sebuah trobosan luar biasa," ujar Dahlan Iskan.
Langkah BUMN pupuk ini akan terus didukung dan diharapkan beberapa tahun ke depan tidak ada lagi pabrik tua dan bisa menjadikan PT Pusri lebih maju dan berkembang pesat menjadi perusahaan yang mampu bersaing di dunia internasional, katanya.
Dukungan itu diungkapkan pula oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Arifin Tasrif pada kesempatan menghadiri acara "groundbreaking" pabrik baru proyek revitalisasi itu.
Menurut Arifin, seluruh anak perusahaan akan didorong membangun pabrik baru yang lebih modern dan efisien seperti yang dilakukan PT Pusri.
Pabrik baru Pusri II-B akan menggunakan teknologi KBR Purifier Technology untuk pabrik amonia dan teknologi Aces 21 milik Toyo dan Pusri sebagai co-licencor untuk pabrik urea.
Pabrik baru tersebut memliki kapasitas produksi amonia mencapai 2.000 ton per hari atau 660.000 ton per tahun dan kapasitas pabrik urea 2.750 ton per hari atau 907.500 ton per tahun.
Pabrik dengan teknologi baru itu, selain ramah lingkungan juga menghemat bahan baku gas, dengan rasio pemakaian gas per ton produk 31,49 MMBTU per ton amonia dan 21,18 MMBTU per ton urea.
Jika dibandingkan dengan pabrik Pusri II yang memiliki rasio pemakaian gas per ton produk 49,24 MMBTU/ton amonia dan 36.05 MMBTU/ton urea, akan dihemat pemakaian gas sebesar 14,87 MMBTU/ton urea.
Untuk mengoptimalkan pemakaian gas sebagai bahan baku pabrik maka bahan bakar pembangkit steam dan listrik yang sebelumnya pada pabrik lama menggunakan gas kini pabrik baru Pusri II-B diganti dengan batu bara.
Dengan terus dilakukannya revitalisasi pabrik tua dan dibangun pabrik baru yang lebih modern diharapkan peningkatan permintaan pupuk dalam negeri dapat diimbangi dan jumlah pupuk yang bisa diekspor lebih banyak lagi, katanya.
Kondisi pabrik pupuk dan amonia di Indonesia sebagian besar sudah berusia tua dan kurang efisien dari sisi operasional dan bisnis sehingga secara bertahap akan dilakukan revitalisasi dan penambahan pabrik baru dengan teknologi modern.
PT Pupuk Indonesia bersama tujuh anak perusahaan sekarang ini mengoperasikan 14 pabrik urea dan 13 pabrik amonia di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan dengan kapasitas produksi 12,5 juta ton pupuk dan 7,5 juta ton amonia.
"Selain di PT Pusri Palembang, saat ini juga sedang berlangsung pembangunan satu pabrik baru proyek revitalisasi PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) 5," ujar Arifin.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pusri Musthofa menjelaskan bahwa pembangunan pabrik Pusri II-B direncanakan berlangsung selama 34 bulan.
Pabrik Pusri II yang dinilai sudah tidak efisien lagi memiliki kapasitas 450.000 ton per tahun. Dengan adanya pabrik baru, Pusri II-B akan menambah produksi sebesar 457.500 ton per tahun.
Dijelaskannya, perusahaan pupuk di Bumi Sriwijaya ini memiliki pabrik urea paling tua di dunia, yakni pabrik Pusri II yang dibangun pada tahun 1974.
Untuk meningkatkan produksi dan pengembangan bisnis, pihaknya berupaya secara bertahap melakukan revitalisasi pabrik tua dengan prioritas revitalisasi pabrik urea paling tua di dunia tersebut.
PT Pusri sekarang ini memiliki empat unit pabrik dengan total kapasitas produksi mencapai 2,262 juta ton per tahun. Namun, karena kondisinya sudah berusia tua, beberapa tahun terakhir kemampuan produksinya tidak bisa maksimal lagi .
Keempat pabrik PT Pusri rata-rata usianya 35 tahun ke atas, padahal secara teknis idealnya usia pabrik pupuk paling lama 20 tahun sudah harus dilakukan revitalisasi.
"Jika prosesnya pembangunan pabrik baru proyek revitalisasi yang dimulai sejak April 2013 itu berjalan sesuai rencana, pabrik baru tersebut diperkirakan sudah mulai berproduksi pada Desember 2015 dan mampu mendongkrak produksi urea hingga 2,61 juta ton per tahun," ujar Musthofa pula.
Revitalisasi Bertahap
Manajemen PT Pusri Palembang berupaya melakukan revitalisasi semua pabrik tua. Namun, karena dana yang dibutuhkan sangat besar dilakukan secara bertahap dengan perioritas pabrik yang dinilai paling kurang efisien dari sisi bisnis.
Revitalisasi pabrik tua perlu segera dilakukan guna mencegah terjadinya penurunan kinerja perusahaan yang didirikan di kawasan Sungai Lais Jalan Mayor Zen Palembang pada tanggal 24 Desember 1959 itu.
Dirut PT Pusri Musthofa menjelaskan bahwa pada awal didirikan perusahaan tersebut hanya memiliki satu unit pabrik dengan kapasitas produksi 100 ribu ton urea per tahun.
Seiring dengan perkembangan perusahaan dilakukan penambahan tiga pabrik baru dan revitalisasi satu pabrik sepanjang tahun 1972 hingga 1994.
Setelah mencapai kejayaan pada tahun 1994, perusahaan tersebut tidak lagi melakukan pembangunan pabrik baru.
Produsen urea pertama di Indonesia itu semula menilai cukup memiliki empat pabrik dengan total kapasitas produksi terpasang mencapai 2,262 juta ton per tahun dan berupaya memanfaatkan pabrik yang ada secara optimal guna memenuhi kebutuhan pupuk petani dalam negeri dan ekspor.
Namun, seiring dengan permintaan pupuk urea dalam dan luar negeri terus meningkat, dan pada tahun ini momentum yang tepat untuk merealisasikan pembangunan pabrik baru yang lebih modern dan efisien.
Sementara itu, Manajer Humas PT Pusri Sulfa Ganie menjelaskan kondisi keempat pabrik tersebut kini kondisinya sudah tua, rata-rata usianya 35 tahun ke atas, sedangkan idealnya usia pabrik pupuk maksimal 20 tahun.
"Semua pabrik PT Pusri di Palembang kondisinya memprihatinkan karena sudah berusia tua. Pabrik yang usianya relatif paling muda adalah pabrik Pusri I-B yang dibangun pada tahun 1994," ujar mantan Kepala Pemasaran Pusri Sumsel itu.
Kondisi pabrik yang sudah berusia tua mengakibatkan kegiatan produksi tidak bisa lagi maksimal sehingga target produksi pupuk urea beberapa tahun terakhir tidak pernah tercapai.
Untuk menjaga kegiatan produksi tetap berjalan dengan baik, PT Pusri berupaya secara bertahap melakukan revitalisasi pabrik tua.
"Secara bertahap semua pabrik akan direvitalisasi sehingga ke depan perusahaan pupuk urea kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini bisa kembali berproduksi secara maksimal," ujarnya.
Melalui revitalisasi salah satu dari tiga pabrik itu semoga kinerja perusahaan pupuk yang pada tanggal 24 Desember 2013 genap berusia 54 tahun ini meningkat sesuai dengan harapan, dan menjadikan PT Pusri kembali jaya ketika menjadi produsen urea pertama di Indonesia, kata Manajer Humas PT Pusri itu. (Y009)
Upaya tersebut mendapat dukungan manajemen PT Pupuk Indonesia selaku perusahaan holding pupuk di Tanah Air dengan secara bertahap merealisasikan revitalisasi pabrik tua yang sudah tidak efisien lagi.
Proyek revitalisasi pabrik tua itu direalisasikan dengan dilakukannya pemancangan konstruksi pertama (groundbreaking) pabrik baru proyek revitalisasi Pusri II-B di Palembang, pada hari Senin (8/4/2013).
Acara "groundbreaking" proyek revitalisasi pabrik tua tersebut dilakukan langsung Menteri BUMN Dahlan Iskan didampingi Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Arifin Tasrif dan Direktur Utama PT Pusri Musthofa.
Menteri BUMN Dahlan Iskan memuji direksi Perseroan Terbatas Pupuk Sriwidjaja (PT Pusri) yang mampu merealisasikan pembangunan proyek revitalisasi pabrik tua dengan nilai investasi Rp7,4 triliun.
"Revitalisasi pabrik Pusri II dengan pabrik baru Pusri II-B yang dibiayai tujuh bank lokal dan asing, yaitu BCA, BNI, BRI, Bank Mandiri, Bank Jawa Barat, Bank Sumsel Babel, dan Bank UOB Indonesia dengan menggunakan skema 'club deal' merupakan sebuah trobosan luar biasa," ujar Dahlan Iskan.
Langkah BUMN pupuk ini akan terus didukung dan diharapkan beberapa tahun ke depan tidak ada lagi pabrik tua dan bisa menjadikan PT Pusri lebih maju dan berkembang pesat menjadi perusahaan yang mampu bersaing di dunia internasional, katanya.
Dukungan itu diungkapkan pula oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Arifin Tasrif pada kesempatan menghadiri acara "groundbreaking" pabrik baru proyek revitalisasi itu.
Menurut Arifin, seluruh anak perusahaan akan didorong membangun pabrik baru yang lebih modern dan efisien seperti yang dilakukan PT Pusri.
Pabrik baru Pusri II-B akan menggunakan teknologi KBR Purifier Technology untuk pabrik amonia dan teknologi Aces 21 milik Toyo dan Pusri sebagai co-licencor untuk pabrik urea.
Pabrik baru tersebut memliki kapasitas produksi amonia mencapai 2.000 ton per hari atau 660.000 ton per tahun dan kapasitas pabrik urea 2.750 ton per hari atau 907.500 ton per tahun.
Pabrik dengan teknologi baru itu, selain ramah lingkungan juga menghemat bahan baku gas, dengan rasio pemakaian gas per ton produk 31,49 MMBTU per ton amonia dan 21,18 MMBTU per ton urea.
Jika dibandingkan dengan pabrik Pusri II yang memiliki rasio pemakaian gas per ton produk 49,24 MMBTU/ton amonia dan 36.05 MMBTU/ton urea, akan dihemat pemakaian gas sebesar 14,87 MMBTU/ton urea.
Untuk mengoptimalkan pemakaian gas sebagai bahan baku pabrik maka bahan bakar pembangkit steam dan listrik yang sebelumnya pada pabrik lama menggunakan gas kini pabrik baru Pusri II-B diganti dengan batu bara.
Dengan terus dilakukannya revitalisasi pabrik tua dan dibangun pabrik baru yang lebih modern diharapkan peningkatan permintaan pupuk dalam negeri dapat diimbangi dan jumlah pupuk yang bisa diekspor lebih banyak lagi, katanya.
Kondisi pabrik pupuk dan amonia di Indonesia sebagian besar sudah berusia tua dan kurang efisien dari sisi operasional dan bisnis sehingga secara bertahap akan dilakukan revitalisasi dan penambahan pabrik baru dengan teknologi modern.
PT Pupuk Indonesia bersama tujuh anak perusahaan sekarang ini mengoperasikan 14 pabrik urea dan 13 pabrik amonia di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan dengan kapasitas produksi 12,5 juta ton pupuk dan 7,5 juta ton amonia.
"Selain di PT Pusri Palembang, saat ini juga sedang berlangsung pembangunan satu pabrik baru proyek revitalisasi PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) 5," ujar Arifin.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pusri Musthofa menjelaskan bahwa pembangunan pabrik Pusri II-B direncanakan berlangsung selama 34 bulan.
Pabrik Pusri II yang dinilai sudah tidak efisien lagi memiliki kapasitas 450.000 ton per tahun. Dengan adanya pabrik baru, Pusri II-B akan menambah produksi sebesar 457.500 ton per tahun.
Dijelaskannya, perusahaan pupuk di Bumi Sriwijaya ini memiliki pabrik urea paling tua di dunia, yakni pabrik Pusri II yang dibangun pada tahun 1974.
Untuk meningkatkan produksi dan pengembangan bisnis, pihaknya berupaya secara bertahap melakukan revitalisasi pabrik tua dengan prioritas revitalisasi pabrik urea paling tua di dunia tersebut.
PT Pusri sekarang ini memiliki empat unit pabrik dengan total kapasitas produksi mencapai 2,262 juta ton per tahun. Namun, karena kondisinya sudah berusia tua, beberapa tahun terakhir kemampuan produksinya tidak bisa maksimal lagi .
Keempat pabrik PT Pusri rata-rata usianya 35 tahun ke atas, padahal secara teknis idealnya usia pabrik pupuk paling lama 20 tahun sudah harus dilakukan revitalisasi.
"Jika prosesnya pembangunan pabrik baru proyek revitalisasi yang dimulai sejak April 2013 itu berjalan sesuai rencana, pabrik baru tersebut diperkirakan sudah mulai berproduksi pada Desember 2015 dan mampu mendongkrak produksi urea hingga 2,61 juta ton per tahun," ujar Musthofa pula.
Revitalisasi Bertahap
Manajemen PT Pusri Palembang berupaya melakukan revitalisasi semua pabrik tua. Namun, karena dana yang dibutuhkan sangat besar dilakukan secara bertahap dengan perioritas pabrik yang dinilai paling kurang efisien dari sisi bisnis.
Revitalisasi pabrik tua perlu segera dilakukan guna mencegah terjadinya penurunan kinerja perusahaan yang didirikan di kawasan Sungai Lais Jalan Mayor Zen Palembang pada tanggal 24 Desember 1959 itu.
Dirut PT Pusri Musthofa menjelaskan bahwa pada awal didirikan perusahaan tersebut hanya memiliki satu unit pabrik dengan kapasitas produksi 100 ribu ton urea per tahun.
Seiring dengan perkembangan perusahaan dilakukan penambahan tiga pabrik baru dan revitalisasi satu pabrik sepanjang tahun 1972 hingga 1994.
Setelah mencapai kejayaan pada tahun 1994, perusahaan tersebut tidak lagi melakukan pembangunan pabrik baru.
Produsen urea pertama di Indonesia itu semula menilai cukup memiliki empat pabrik dengan total kapasitas produksi terpasang mencapai 2,262 juta ton per tahun dan berupaya memanfaatkan pabrik yang ada secara optimal guna memenuhi kebutuhan pupuk petani dalam negeri dan ekspor.
Namun, seiring dengan permintaan pupuk urea dalam dan luar negeri terus meningkat, dan pada tahun ini momentum yang tepat untuk merealisasikan pembangunan pabrik baru yang lebih modern dan efisien.
Sementara itu, Manajer Humas PT Pusri Sulfa Ganie menjelaskan kondisi keempat pabrik tersebut kini kondisinya sudah tua, rata-rata usianya 35 tahun ke atas, sedangkan idealnya usia pabrik pupuk maksimal 20 tahun.
"Semua pabrik PT Pusri di Palembang kondisinya memprihatinkan karena sudah berusia tua. Pabrik yang usianya relatif paling muda adalah pabrik Pusri I-B yang dibangun pada tahun 1994," ujar mantan Kepala Pemasaran Pusri Sumsel itu.
Kondisi pabrik yang sudah berusia tua mengakibatkan kegiatan produksi tidak bisa lagi maksimal sehingga target produksi pupuk urea beberapa tahun terakhir tidak pernah tercapai.
Untuk menjaga kegiatan produksi tetap berjalan dengan baik, PT Pusri berupaya secara bertahap melakukan revitalisasi pabrik tua.
"Secara bertahap semua pabrik akan direvitalisasi sehingga ke depan perusahaan pupuk urea kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini bisa kembali berproduksi secara maksimal," ujarnya.
Melalui revitalisasi salah satu dari tiga pabrik itu semoga kinerja perusahaan pupuk yang pada tanggal 24 Desember 2013 genap berusia 54 tahun ini meningkat sesuai dengan harapan, dan menjadikan PT Pusri kembali jaya ketika menjadi produsen urea pertama di Indonesia, kata Manajer Humas PT Pusri itu. (Y009)
Pewarta : Oleh Yudi Abdullah
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pusri pastikan stok dan penyaluran pupuk bersubsidi aman hadapi musim kemarau
24 August 2026 12:28 WIB
Pusri gelar Pesta Rakyat HUT ke-81 RI bersama warga Kampung Sehati Palembang
19 August 2026 10:47 WIB
Dorong UMKM binaan naik kelas, Pusri gaet Kemenkum Sumsel lindungi hak cipta dan merek
07 August 2026 6:46 WIB
PUSRI raih penghargaan distinction In Program Excellence pada SDG Innovation 2026
05 August 2026 20:39 WIB
Pusri Palembang beri pengobatan gratis bagi 1.700 warga melalui Klinik Sehati
22 July 2026 15:13 WIB
Terpopuler - Artikel
Lihat Juga
Kisah inspiratif Suhartini: Berdayakan perempuan desa lewat inovasi olahan pinang
05 August 2026 14:39 WIB
Catatan jurnalis ANTARA dari Xizang: Mengenal obat tradisional Tibet dan terapi Lum
01 August 2026 10:38 WIB