Sumsel samakan atlet transfer dan putra daerah
Jumat, 24 Mei 2013 16:40 WIB
Atlet judo Sumsel Peter Taslim memberikan usulan pada acara dengar pendapat antara atlet, pelatih, dan pengurus, bersama Sekretaris KONI Sumsel Maryamah, Bendahara KONI Sumsel Dwiyani Dharma Putri, Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan Prestasi KONI S
Palembang (ANTARA Sumsel) - KONI Provinsi Sumatera Selatan menyamakan pola pembinaan, serta fasilitas bagi atlet transfer dan putra daerah sendiri untuk menemukan keselarasan dalam menjalankan program latihan menuju PON XIX di Jawa Barat 2016.
"Ke depan tidak ada lagi perbedaan antara atlet elite dan atlet putra daerah sendiri. Tolak ukur hanya pada medali yang diperoleh saat PON Riau lalu," kata Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan Prestasi KONI Sumsel Ahmad Rizal seusai memimpin acara dengar pendapat antara atlet, pelatih, dan pengurus, di Palembang, Jumat.
Pertemuan itu dihadiri perwakilan atlet elite, Rizal Samsir (atlet taekwondo), Peter Taslim (atlet judo), Wisnu Aji (atlet menembak), Lucky Ramdhani dan Lukman Ahmadi (pelatih anggar), Sekretaris KONI Maryamah, dan Bendahara KONI Sumsel Dwiyani Dharma Putri.
Ia mengemukakan, para atlet peraih medali PON akan tergabung dalam satu program pembinaan yakni Pusat Latihan Provinsi Sumsel menuju PON Jabar yang dimulai 1 Maret 2013 dengan diikuti 90 atlet dari 16 cabang olahraga.
Dalam program itu, atlet peraih medali emas mendapatkan uang pembinaan yang meliputi uang saku dan gizi sebesar Rp3,5 juta, medali perak Rp3 juta, dan medali perunggu Rp2,5 juta.
"Hal ini telah disampaikan kepada atlet elite, dan KONI menunggu respon apakah siap melanjutkan kontrak dengan Sumsel atau tidak," ujarnya.
Sebanyak 16 atlet terdata masuk dalam atlet elite yang beberapa diantaranya merupakan putra daerah sendiri, Maharani Ardhi (Menembak), Wisnu Aji (menembak), Peter Taslim (taekwondo), Jauhari Johan (atletik). Putra daerah itu dianggap telah setara dengan atlet transfer kategori elite.
Ke-16 atlet itu mendapatkan uang saku lebih besar dibandingkan putra daerah yang tergabung dalam program menuju PON Riau lalu.
Meski tergolong program atlet andalan, namun pada kenyataan tidak seluruhnya mendapatkan medali emas. Bahkan, putra daerah sendiri menjadi penyumbang medali terbanyak pada PON lalu.
Menanggapi hal itu, Rizal menyatakan fakta ini yang menjadi salah satu alasan penyamaan antara atlet elite dan putra daerah sendiri.
"Pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau tahun 2012 yang menempatkan daerah ini pada urutan 14 (10 emas, 14 perak, 29 perunggu) dari 33 provinsi. Program ini diharapkan mendongkrak prestasi Sumsel pada kancah internasional," katanya.
"Ke depan tidak ada lagi perbedaan antara atlet elite dan atlet putra daerah sendiri. Tolak ukur hanya pada medali yang diperoleh saat PON Riau lalu," kata Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan Prestasi KONI Sumsel Ahmad Rizal seusai memimpin acara dengar pendapat antara atlet, pelatih, dan pengurus, di Palembang, Jumat.
Pertemuan itu dihadiri perwakilan atlet elite, Rizal Samsir (atlet taekwondo), Peter Taslim (atlet judo), Wisnu Aji (atlet menembak), Lucky Ramdhani dan Lukman Ahmadi (pelatih anggar), Sekretaris KONI Maryamah, dan Bendahara KONI Sumsel Dwiyani Dharma Putri.
Ia mengemukakan, para atlet peraih medali PON akan tergabung dalam satu program pembinaan yakni Pusat Latihan Provinsi Sumsel menuju PON Jabar yang dimulai 1 Maret 2013 dengan diikuti 90 atlet dari 16 cabang olahraga.
Dalam program itu, atlet peraih medali emas mendapatkan uang pembinaan yang meliputi uang saku dan gizi sebesar Rp3,5 juta, medali perak Rp3 juta, dan medali perunggu Rp2,5 juta.
"Hal ini telah disampaikan kepada atlet elite, dan KONI menunggu respon apakah siap melanjutkan kontrak dengan Sumsel atau tidak," ujarnya.
Sebanyak 16 atlet terdata masuk dalam atlet elite yang beberapa diantaranya merupakan putra daerah sendiri, Maharani Ardhi (Menembak), Wisnu Aji (menembak), Peter Taslim (taekwondo), Jauhari Johan (atletik). Putra daerah itu dianggap telah setara dengan atlet transfer kategori elite.
Ke-16 atlet itu mendapatkan uang saku lebih besar dibandingkan putra daerah yang tergabung dalam program menuju PON Riau lalu.
Meski tergolong program atlet andalan, namun pada kenyataan tidak seluruhnya mendapatkan medali emas. Bahkan, putra daerah sendiri menjadi penyumbang medali terbanyak pada PON lalu.
Menanggapi hal itu, Rizal menyatakan fakta ini yang menjadi salah satu alasan penyamaan antara atlet elite dan putra daerah sendiri.
"Pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau tahun 2012 yang menempatkan daerah ini pada urutan 14 (10 emas, 14 perak, 29 perunggu) dari 33 provinsi. Program ini diharapkan mendongkrak prestasi Sumsel pada kancah internasional," katanya.
Pewarta : Pewarta : Dolly Rosana
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Atlet taekwondo Sumsel sabet enam medali di Thailand, bidik prestasi internasional
14 August 2026 20:22 WIB
Cetak atlet berbakat, Bupati Temanggung resmikan kelas khusus olahraga di SMP N 2
17 July 2026 8:24 WIB
Terpopuler - Olahraga
Lihat Juga
Dewa United tahan imbang Bhayangkara FC 2-2 pada pekan kedua Super League
11 September 2026 21:22 WIB
Liga Champions: Ferran Torres "hattrick", PSG libas Slovan Bratislava 6-1
10 September 2026 9:09 WIB
Mourinho puji performa Trent Alexander-Arnold pada posisi baru di Real Madrid
09 September 2026 15:03 WIB