Padi puso di Sumsel 0,11 persen
Minggu, 30 September 2012 19:44 WIB
Lahan sawah petani mulai kekeringan terancam gagal panen (ANTARA FOTO)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Luas areal tanaman padi yang mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan dan banjir di Sumatera Selatan hanya sekitar 0,11 persen.
"Tanaman padi yang puso akibat banjir dan kekeringan itu kalau dilihat dari luas sasaran tanam 854.702 hektare berarti hanya 0,11 persen," kata Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Selatan (Sumsel) Antoni Alam di Palembang, Minggu.
Menurut dia, total luas tanaman padi mengalami puso akibat kekeringan dan banjir sejak Januari sampai 18 September 2012 tercatat seluas 1.195,7 hektare.
Rinciannya tanaman padi puso akibat kekeringan seluas 464,2 hektare dan terkena banjir seluas 731,5 hektare, katanya.
Ia mengatakan, pada musim kemarau itu terlihat dampaknya mulai Juli, Agustus dan September.
Sementara pengaruhnya ke tingkat pendapatan petani kini justru harga beras dan gabah cukup baik.
Di daerah Sirah Pulau Padang misalnya harga gabah Rp4.200 per kilogram, sedangkan beras Rp6.800 per kilogram.
Jadi, bila dilihat dari sisi pendapatan petani tidak menurun, karena harga cukup bagus dan tinggi sehingga sekarang banyak petani yang lahannya tidak bisa tanam justru ditanami, ujarnya.
Ia menyatakan, upaya yang sudah dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau, pihaknya sudah menyampaikan surat dua kali yakni pada Juni dan awal Juli ke kabupaten/kota guna mensosialisasikan kepada petani.
Mengantisipasi dampak kemarau itu salah satunya dengan mengatur pola tanam, kemudian mengatur sistem tanam dan menghitung jadwal tanam yang tepat.
Daerah yang mengalami tanaman padi puso cukup luas yaitu di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu Selatan, dan Musi Rawas sehingga pihaknya mengusulkan ke pusat guna mendapat bantuan penanggulangan gagal panen tersebut.(Sus)
"Tanaman padi yang puso akibat banjir dan kekeringan itu kalau dilihat dari luas sasaran tanam 854.702 hektare berarti hanya 0,11 persen," kata Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Selatan (Sumsel) Antoni Alam di Palembang, Minggu.
Menurut dia, total luas tanaman padi mengalami puso akibat kekeringan dan banjir sejak Januari sampai 18 September 2012 tercatat seluas 1.195,7 hektare.
Rinciannya tanaman padi puso akibat kekeringan seluas 464,2 hektare dan terkena banjir seluas 731,5 hektare, katanya.
Ia mengatakan, pada musim kemarau itu terlihat dampaknya mulai Juli, Agustus dan September.
Sementara pengaruhnya ke tingkat pendapatan petani kini justru harga beras dan gabah cukup baik.
Di daerah Sirah Pulau Padang misalnya harga gabah Rp4.200 per kilogram, sedangkan beras Rp6.800 per kilogram.
Jadi, bila dilihat dari sisi pendapatan petani tidak menurun, karena harga cukup bagus dan tinggi sehingga sekarang banyak petani yang lahannya tidak bisa tanam justru ditanami, ujarnya.
Ia menyatakan, upaya yang sudah dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau, pihaknya sudah menyampaikan surat dua kali yakni pada Juni dan awal Juli ke kabupaten/kota guna mensosialisasikan kepada petani.
Mengantisipasi dampak kemarau itu salah satunya dengan mengatur pola tanam, kemudian mengatur sistem tanam dan menghitung jadwal tanam yang tepat.
Daerah yang mengalami tanaman padi puso cukup luas yaitu di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu Selatan, dan Musi Rawas sehingga pihaknya mengusulkan ke pusat guna mendapat bantuan penanggulangan gagal panen tersebut.(Sus)
Pewarta :
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkot Palembang bentuk Tim Reaksi Cepat tangani kabut asap dan kekeringan
02 September 2026 11:08 WIB
Terpopuler - Info Sumsel
Lihat Juga
Kabupaten Muara Enim diproyeksikan jadi daerah penopang industri bioetanol
28 September 2026 9:17 WIB
Kilang Plaju Palembang salurkan bantuan logistik dan sembako bagi korban gempa NTT
27 September 2026 12:44 WIB
PNM Palembang salurkan bantuan sumur bor dan menara air di Tungkal Jaya Muba
25 September 2026 19:46 WIB
Kolaborasi TNI AU dan APP Group perkuat penanganan karhutla di Sumatera Selatan
25 September 2026 19:38 WIB