Senin, 25 September 2017

Forum DAS Sumsel kunjungi Kawasan Gambut OKI

id Forum Daerah Aliran Sungai, kawasan hutan, lahan gambut, Ogan Komering Ilir, Syafrul Yunardy, Prof Robiyanto H Susanto
Forum DAS Sumsel kunjungi Kawasan Gambut OKI
Prof Robiyanto H Susanto memberikan penjelasan kepada peserta Field Trip Manajemen Terpadu Lahan Gambut di salah satu perkebunan sawit PT Bumi Andalas Permai Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel, Kamis (23/2). (Antarasumsel.com/Dolly Rosana/17)
Ogan Komering Ilir, Sumsel (Antarasumsel.com) - Sejumlah anggota Forum Daerah Aliran Sungai Sumatera Selatan yang terdiri atas multi pihak mengunjungi kawasan hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kamis.

Kunjungan lapangan ini melihat langsung pemanfaatan gambut oleh masyarakat, perusahaan, dan pemerintah untuk produksi dan konservasi.

Tim yang terdiri dari akademisi, LSM, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), pemerintah, peneliti, balai litbang ini mengunjungi Suaka Margasatwa Padang Sugihan di Jalur 21, Desa Sidomulyo Kecamatan Muara Padang, lahan perusahaan PT Sriwijaya Palm Oil.

Ketua Forum DAS Sumsel Syafrul Yunardy mengatakan kunjungan langsung ini merupakan rangkaian kegiatan Fokus Group Discussion 23-24 Februari yang diikuti oleh berbagai pihak terkait.

"Forum DAS ingin anggota melihat langsung bagaimana sebenarnya lahan gambut itu. Harapannya akan menumbuhkan semangat untuk ambil peran dalam pengelolaan gambut," kata dia.

Ia mengatakan, lahan gambut menjadi perhatian Forum DAS karena pada 2015 lalu terjadi kebakaran hutan dan lahan yang cukup hebat di Sumsel. Setidaknya 700 ribu hektare terbakar pada tahun itu.

"Forum DAS konsen bagaimana pengelolaan gambut, ini jelas ada yang salah karena terjadi kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 lalu," kata dia.

Ia melanjutkan, dari kunjungan ini, anggota tim dapat melihat sendiri bahwa gambut dimanfaatkan oleh banyak pihak, mulai dari masyarakat hingga perusahaan perkebunan.

"Gambut memiliki peran yang signifikan di kehidupan masyarakat, bukan hanya dari sisi lingkungan tapi juga sosial maupun ekonomi. Tentunya hal ini membutuhkan kesamaan persepsi dari berbagai pihak agar menemukan pola pengelolaan gambut yang cocok," kata dia.

Peserta wakil dari akademisi dan Badan Restorasi Gambut, Prof Robiyanto H Susanto mengatakan pemerintah telah menemukan skema untuk restorasi gambut pasca kebakaran 2015.

"Ada 3R, restorasi hidrologi, revegetasi atau penanaman kembali dan revitalisasi atau pemberdayaan masyarakat. Kesemuanya ini harus jalan dalam satu kesatuan, dan untuk itu perlu sinergi dari banyak pihak," kata dia.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga