Minggu, 25 Juni 2017

Daun tempuyung obat batu kandung kemih

id Daun tempuyung, obat, batu kandung kemih, rektor Universitas Padjadjaran, Unpad, Prof Dr Med Tri Hanggono Achmad,
Daun tempuyung obat batu kandung kemih
Daun Tempuyung (Istimewa)
Bandung (Antarasumsel.com) - Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Dr Med Tri Hanggono Achmad memberikan gelar guru besar bagi Prof Dr Diah Dhiyanawati Djunaedi, MSi dalam bidang Ilmu Biokimia dan Biologi Molekuler pada Fakultas Kedokteran (FK) Unpad karena telah meneliti tanaman obat tradisional, yakni daun tempuyung untuk batu saluran kemih,
Berdasarkan siaran pers, Biro Humas Protokoler Unpad, Sabtu, Prof Dr Diah Dhiyanawati Djunaedi membacakan orasi ilmiah berjudul "Kajian Etnofarmakologi Tumbuhan Untuk Mengatasi Batu Kandung Kemih".

Dalam orasinya Prof Diah menyampaikan ada beragam tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk batu saluran kemih, salah satunya tempuyung.

Daun tempuyung diyakini dapat memberikan dua efek sinergis dalam proses pengobatan penyakit batu kemih, yaitu dapat menekan perkembangan berat batu dan dapat meluruhkan batu yang telah ada.

Dalam penelitiannya, Prof Diah mengevaluasi aktivitas anti batu kandung kemih melalui uji in vitro dan in vivo dan selain daun tempuyung ia juga meneliti efektivitas daun kumis kucing dan herba meniran.

"Dari ketiga tumbuhan tersebut, daun tempuyunglah yang memiliki efek secara signifikan untuk pengobatan batu saluran kemih," katanya.

Penelitian dilakukan pada batu oksalat di dalam kandung kemih dengan model batu oksalat yang terinduksi di dalam kandung kemih tikus Galur Wistar jantan yang dibuat dengan metode matriks asam glikolat. Uji aktivitas anti batu dibagi dalam dua upaya perlakuan, yaitu upaya pencegahan dan upaya pengobatan.

"Kedua efek sinergis ini merupakan hal baru yang terungkap oleh penelitian ini, disamping kemampuan diuretiknya yang membantu melarutkan dan mengeluarkan melalui urinasi," kata dia.

Selanjutnya, penelitian pun ditujukan untuk menentukan senyawa aktif yang terkandung dalam tempuyung melalui proses fraksinasi. "Dari penelitian ini diperoleh metode baku yang singkat dan cepat untuk isolasi dan pemurnian luteolin dan apigenin dari daun tempuyung," katanya.

Selain pembuktian farmakologi, penelitian ini juga telah melalui dukungan uji biokimia medik dan menurut Prof Diah, uji biokima berperan penting dalam bidang kedokteran modern.

"Uji biokima pada uji tumbuhan obat tradisional berperan sebagai parameter keamanan, termasuk khasiat, dari tumbuhan uji, baik dalam uji preklinik maupun klinik," katanya.

Untuk mengetahui keamanan pemanfaatan daun tempuyung sebagai anti batu kandung kemih, dilakukan uji toksisitas akut dari sediaan dekok daun tempuyung. Dari hasil uji tersebut, dapat disimpulkan bahwa dekok atau air rebusan daun tempuyung relatif aman terhadap organ hati dan ginjal.

"Dalam penelitian data empirik tradisional dari tumbuhan obat untuk penyakit batu ginjal dan batu kandung kemih telah dibuktikan secara eksperimen farmakologi dan keamanan praklinik telah diuji dengan dukungan uji biokimia medik. Hal ini menunjukkan, Ilmu Biokimia khususnya Biokimia Medik berhubungan dengan kesehatan dan penyakit manusia yang dapat memberikan landasan untuk mendukung diagnosis dan pemanfaatan obat tradisional," kata Prof Diah.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga