Palembang (ANTARA Sumsel) - Generasi muda harus akrab serta memahami mengenai makna slogan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional "dua anak cukup" agar ketika berkeluarga telah memiliki kemantapan mengenai rencana masa depan.

"Slogan "dua anak cukup" harus benar-benar tertanam dibenak para generasi muda agar ketika berkeluarga sudah mematapkan niat hanya memiliki dua anak saja. Pola pikir seperti ini sangat penting untuk menekan angka pertumbuhan penduduk yang angkanya semakin mengkhawatirkan," ujar Asisten Pemerintah Provinsi Sumsel Ahmad Najib seusai membuka acara workshop pembuatan film dokumenter di Aula Pasca Sarjana Unsri, Palembang, Jumat.

Ia mengemukakan, generasi muda saat ini menjadi perhatian utama pemerintah dalam menekan angka pertumbuhan penduduk karena mendominasi dari total jumlah penduduk.

"Penduduk dunia berdasarkan data tahun 2011 telah mencapai tujuh miliar jiwa, sementara Indonesia sendiri pada 2010 telah mencapai 247 juta jiwa. Artinya, jika tidak bahu membahu melakukan upaya bersama maka seluruh penduduk dunia akan ditimpa kemalangan," ujarnya.



Ia melanjutkan, Sumsel sendiri yang terdiri dari 7,45 juta jiwa juga bekerja keras dalam menekan laju pertambahan penduduk, salah satunya dengan fokus membidik generasi muda.

"Jumlah remaja di Indonesia mencapai 46 juta jiwa atau 27,6 persen dari total jumlah penduduk, sementara di Sumsel sendiri mencapai 1,3 juta jiwa. Jadi sangatlah wajar kiranya segala hal yang berkaitan dengan remaja menjadi perhatian utama pemerintah," katanya.

Apalagi, ia menambahkan, kalangan remaja (15-20 tahun) sangat rentan terhadap berbagai persoalan seperti narkoba, HIV/Aids, dan pergaulan sex bebas.

"Malahan berdasarkan data BPS, sebanyak 95 ribu remaja di Sumsel rentan mengalami perkawinan di usia muda atau dibawah 19 tahun, meski sementara ini berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 sudah menyamai target nasional yakni mencapai angka 20 tahun," katanya.

Menurutnya, pola pengedukasian terhadap remaja juga harus diperbarui yakni dengan lebih aktif melibatkan remaja dalam berbagai kegiatan.

"Remaja masa kini jelas berbeda dengan era tahun-tahun sebelumnya. Mereka lebih aktif dan memiliki akses terhadap informasi lebih muda, artinya BKKBN harus menemukan inovasi baru salah satunya dengan menggelar lomba pembuatan film dokumenter," ujarnya.

Tidak Boleh Buru-buru Menikah

Sementara, Deputi Bidang Advokasi dan Informasi BKKBN Pusat Hardianto mengatakan, terjadi pembekakan jumlah penduduk usia remaja dalam beberapa tahun terakhir sehingga pemerintah fokus membidik kelompok ini.

"Pencerahan yang gencar dilakukan pemerintah yakni memberikan pemahaman kepada pelajar agar tidak usah buru-buru menikah. Artinya, mereka harus fokus menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu, jika hingga strata satu artinya hingga usia sekitar 24 tahun baru akan menikah sehingga rentan untuk memiliki anak bagi perempuan semakin berkurang," katanya.

Ia tak membantah terjadi pergeseran nilai di masyarakat terutama di perkotaan sehingga terjadi peningkatan angka pernikahan usia remaja (15-19 tahun).

Berdasarkan hasil SDKI 2012 diketahui jumlah anak remaja yang melakukan pernikahan dini sebanyak 48 per seribu perkawinan.

Meski sudah menurun dari sebelumnya yakni 51 per seribu perkawinan, namun angka ini masih jauh dari target 2014 yakni 31 per seribu perkawinan.

"Memang berat untuk mencapainya, tapi BKKBN optimistis dengan aktif menggarap kalangan generasi muda akan berdampak langsung pada penurunan angka perkawinan usia remaja," katanya.

Salah satu kegiatannya seperti yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Sumatara Selatan berupa mengajak pelajar dan mahasiswa menjadi generasi muda berencana dengan mengikuti kompetisi pembuatan film dokumenter dalam ajang "Eagle Junior Documentary Camp 2013", Mei-Juni 2013.

Editor: Parni
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar