"Cinta itu seperti anak-anak, harus apa adanya. Cinta juga harus kuat seperti Brontosaurus ..."

 Itu sepenggal kalimat yang lebih kurang menutup cerita di film besutan Fajar Nugros yang mengambil judul buku karya Raditya Dika berjudul Cinta Brontosaurus.

Cerita dimulai saat Dika (Raditya Dika) masih mengenakan seragam putih merah, berkacamata dengan fram hitam, dan rambut ikal tebal cenderung kribo yang sedang resah dan gelisah mencari cara mengutarakan perasaannya kepada rekan satu kelasnya.

Setelah mendapat penolakan berulang kali akhirnya Dika berhasil menalklukan hati seorang anak perempuan di kelas nya dengan memberikan boneka. Namun dalam dua hari, cinta monyet itu pun kandas.

Cerita lantas melompat ke masa kini, di mana Dika telah bertransformasi menjadi jejaka muda dengan pekerjaan sebagai  penulis yang buku-bukunya kurang laku.

Pada masa ini lah ia galau. Bukan hanya bukunya yang sulit laku tetapi ia pun belum dapat memenuhi harapan kedua orang tuanya untuk dapat memberikan seorang cucu. Karena itu, kedua orangnya menurunkan standar dari ingin segera menimang cucu menjadi ingin seorang pacar dihadirkan di tengah keluarga.

Secara singkat digambarkan bagaimana peristiwa Dika putus dengan pacar-pacarnya. Secara singkat namun jelas ia ingin menggambarkan dari sisi laki-laki bagaimana sulitnya memahami seorang perempuan.

Gambaran bahwa perempuan sulit dimengerti bagi seorang laki-laki juga ia terjemahkan melalui karakter Kosasih, agen sekaligus teman baiknya yang digambarkan begitu menghamba pada sang kekasih bernama Wanda.

Ada rasa trauma namun pada saat bersamaan ia galau karena tidak pernah memiliki hubungan lebih dari enam bulan dengan seorang perempuan dan kini tidak kunjung memperoleh kekasih yang pas. Kegalauan tersebut bahkan membuat dirinya berpikir dirinya sebenarnya tidak menyukai lawan jenis.

Sampai akhirnya ia berkenalan  dengan seorang perempuan muda bernama Jesica di sebuah restoran. Perkenalan yang menurut mereka aneh karena berawal dari membahas bulu ketek tersebut akhirnya berlanjut.

Penjajakan dimulai, perkenalan keluarga dilakukan, menemukan  keanehan-keanehan di diri masing-masing hingga keanehan dalam keluarga masing-masing. Semua berjalan lancar dan hubungan yang sudah naik status menjadi pacaran berjalan mulus.

Sampai pada saat menghadiri pernikahan si teman karib, Kosasih dan Wanda, tanpa sengaja Jesica mendengar perbincangan Dika dengan teman-teman lainya yang mengatakan bahwa sang kekasih masih percaya pada istilah cinta kadaluarsa.

Seperti pertanyaan-pertanyaan umum yang terjadi saat bertemu teman lama di sebuah pernikahan, Dika pun ditanya kapan ia menikah. Sialnya Jesica mendengar jawaban Dika yang menyebutkan bahwa dirinya sanksi hubungannya dengan sang kekasih akan berakhir di pelaminan.

Jesica marah dan mulai berubah sikap dari sebelumnya  seorang kekasih yang begitu memahami pasangan prianya menjadi tuan dari sang kekasih. Label "pesuruh" pun akhirnya di dapat Dika.

Sama dengan hubungan-hubungan percintaan lainnya, kisah Dika dan Jesica pun mengalami putus sambung. Sampai satu saat sang adik yang duduk di sekolah dasar dan juga sedang galau dengan cinta monyetnya menjawab pertanyaan Dika kenapa bisa sayang dengan teman satu sekolahnya.

"Apa perlu ada penjelasan kalau kita sayang dengan  seseorang," jawab sang adik.

Semua ala Dika
Alasan Raditya Dika alias Dika  menulis buku berjudul Cinta Brontosaurus yang merupakan kumpulan cerpen karena ia tidak menemukan buka seperti itu di toko buku.

Alasan Dika setuju membuat film bergenre drama komedi berjudul sama dengan nama bukunya karena terlalu banyak film hantu yang berisi pada dan dada.

Tidak peduli apakah film tersebut akan disukai atau tidak namun ia mengaku puas dan suka dengan film yang ceritanya ia sebutkan berbeda dengan cerita dalam buku yang telah ia tulis.

"Saya suka dengan film ini. Insya Allah saya yakin paling tidak ada satu orang diluar sana yang juga suka dengan film ini," ujar dia pada pemutaran perdana film Cinta Brontosaurus di Planet Hollywood, Jakarta, Senin (6/5).  

Alasan ia memilih Brontosaurus (dinosaurus pemakan tumbuhan) karena memiliki postur tubuh terbesar dibanding dinosaurus lain. Ini sebagai simbol bahwa cinta pada seseorang harus lah kuat meski mendapat halangan yang besar dan bertubi-tubi.

Beberapa adegan yang mungkin akan membuat penonton masih tidak habis pikir saat selesai menonton film drama komedi ini yakni saat Jesica dan Dika tiba-tiba sudah berada di atas atap sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) daerah Cinere sambil makan mie instant saat kencan pertama.

Terasa aneh karena tidak dijelaskan bagaimana mereka bisa naik hingga berada di atas sana, bagaimana mereka diizinkan oleh si pemilik SPBU kecuali orang tua mereka pemilik stasiun pengisian bahan bakar tersebut.

Hal lain yang perlu dicermati pada adegan sama yakni jutaan bintang tampak begitu jelas di atas SPBU di bilangan Cinere tersebut layaknya mereka sedang berada di dalam planetarium.

Beberapa penonton tertawa namun ada pula yang terdengar bingung pada agedan dan kalimat  saat ayah Dika (diperankan Bucek Deep) mengatakan di depan istri, kelima anaknya (termasuk Dika), dan Jesica agar pasangan muda ini segera melanjutkan ke jenjang pernikahan, agar alat kelamin putranya tidak hanya difungsikan untuk mengeluarkan air seni saja.

Adegan menggelitik dan masih terdengar nyata tetapi mungkin jarang dijumpai yakni saat Kosasih harus mengulang membacakan ijab kabul karena Wanda si calon istri tidak mau menerima barang KW sebagai mas kawin. Pernikahan berlanjut setelah mereka sepakat mas kawin berupa produk fashion asli dibayar dengan cara dicicil.

Film yang seharusnya sudah diputar untuk publik pada 8 Mei mendatang diproduksi oleh Starvision Plus.    

Film ini diproduseri Chand Parwez Servia dan Fiaz Servia. Penulis naskah sekaligus pemeran pria utama Raditya Dika dengan panggilan Dika, sedangkan pemeran lain yakni Eriska Rein sebagai Jesica sebagai kekasih Dika, Tyas Mirasih sebagai istri dari agen penulis Dika bernama Kosasih, Pamela Bowie mantan kekasih Dika, Ronny P Tjandra sebagai seorang produser yang berniat memfilmkan buku Cinta Brontosaurus.

Film galau ala Raditya Dika ini cukup membuat mood penonton yang keluar dari bioskop menjadi baik. Paling tidak penonton di Jakarta yang harus menghadapi kemacetan ibukota pascamenonton film tersebut tidak uring-uringan.

Editor: Awi
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar