Palembang, 19/4 (Antara) - Pengurus Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Dan Gas Bumi (Hiswanamigas) Kota Palembang, Sumatera Selatan, berupaya meningkatkan pengawasan agen dan pangkalan gas elpiji ukuran tiga kilogram, guna menghindari terjadinya penyimpangan pendisitribusian barang bersubsidi itu.

"Dengan pengawasan ketat itu jika terjadi penyimpangan pendiistribusian gas elpiji tiga kg kepada masyarakat yang tidak berhak bisa segera dilakukan penertiban, kata Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Dan Gas Bumi (Hiswanamigas) kota setempat Alfis Syahrin di Palembang, Jumat.

Dijelaskan, beberapa waktu lalu pihaknya telah melakukan penertiban terhadap tiga agen gas elpiji tiga kg yang kedapatan melakukan pendistribusian bahan bakar bersubsidi itu kepada pengelola usaha rumah makan.

Pendistribusian kepada  pengusaha yang tergolong industri berskala menengah ke atas merupakan pelanggaran sehingga perlu dilakukan tindakan penertiban berupa mengurangi alokasi jatah pasokan terhadap agen bersangkutan.  

Setelah diberikan sanksi pengurangan alokasi pasokan, diharapkan agen bersangkutan dapat melakukan tugasnya mendistribusikan gas elpiji bersubsidi itu secara tepat kepada masyarakat kalangan bawah.

Selain melakukan pengawasan ketat pendisitribusian bahan bakar bersubsidi itu, pihaknya juga mengingatkan kepada agen dan pangkalan gas elpiji tiga kg untuk menjualnya kepada masyarakat dengan harga yang telah ditetapkan maksimal Rp14.000 per tabung, kata Alfis.

Sebelumnya sejumlah warga Palembang mengharapkan kepada pihak PT  Pertamina melakukan penertiban dan pengawasan secara serius peredaran gas elpii terutama tabung ukuran tiga kilogram, karena akhir-akhir ini diperdagangkan di atas harga eceran tertinggi.

"Sesuai ketentuan harga gas elpiji tiga kg tidak boleh dijual melebihi batas ketentuan yang telah ditetapkan Pertamina, namun kenyataannya di lapangan terjadi penyimpangan, namun terkesan dibiarkan saja," ujar Riki salah seorang warga Perumnas Sako Kenten.  

Menurut dia, harga gas elpiji isi tiga kg di wilayah permukiman sekarang ini mencapai Rp20.000 per tabung, padahal biasanya paling mahal Rp14.000 per tabung.

Tingginya harga gas elpiji akhir-akhir ini dipengaruhi sulitnya mendapatkan barang bersubsidi itu di tingkat pangkalan gas elpiji resmi binaan Pertamina dan warung penyedia kebutuhan pokok yang ada di sekitar lingkungan permukiman penduduk setempat, kata warga kesal.

Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar