Medan (ANTARA Sumsel) - Permintaan kopi dari Amerika Serikat dan Jepang ke Indonesia semakin menguat dan itu membuat harga ekspor bertahan lumayan tinggi di kisaran 3,9 dolar AS per kg di tengah mulai banyaknya produksi akibat masuk masa panen.

"Bertahan tinginya harga ekspor membuat perdagangan komoditas itu kembali menguntungkan apalagi harga kopi di pasar lokal tren menurun menjadi Rp32.000,00-Rp33.000,00 per kg dampak masuknya masa panen," kata Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, Andryanus Simarmata, di Medan, Senin.

Sebelumnya, eksportir kesulitan mengekspor karena harga lokal hampir sama dengan penjualan ke luar negeri disusul permintaan yang tren melemah.

Harga lokal sempat di kisaran Rp40.000-Rp41.000 per kg atau hampir sama dengan harga ekspor.

"Eksportir mulai lega, menguatnya permintaan dengan harga yang bertahan mahal membuat pengusaha sudah berani bertransaksi setelah sebelumnya banyak melakukan tindakan 'wait and see' (menunggu dan melihat)," katanya.

Andryanus menyebutkan, permintaan kopi yang paling banyak dewasa ini berasal dari Amerika Serikat dan Jepang.

Petani kopi di Sidikalang, Romel Sembiring mengakui, harga kopi di tingkat petani menurun sekitar Rp1.000 per kg atau menjadi Rp14.000 per kg untuk Robusta dan Rp13.500 per kg jenis Arabika.

Harga Robusta lebih mahal karena permintaan lebih tinggi di tengah produksi yang tidak banyak.

Romel mengakui turunnya harga karena produksi semakin menyusul masuk panen yang sudah mulai terlihat di akhir Februari.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Suharno menyebutkan, ekspor kopi yang tergabung dengan komoditas teh dan rempah-rempah pada awal tahun ini masih menurun 19,45 persen dari periode sama tahun lalu.

Kalau tahun 2012 sudah mencapai  68,208 juta dolar AS, maka tahun ini, nilai ekspor golongan barang itu 54,943 juta dolar AS.

Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar