Surabaya (ANTARA Sumsel) - Sekitar 750 peserta dari berbagai aliran mengikuti Kongres Nasional Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME) pada 25-28 November 2012 di Surabaya, Jatim.

Kongres yang dijembatani oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini bertema "Revitalisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, Komunitas Adat dan Tradisi Bagi Pembangunan Karakter dan Jatidir Bangsa di Era Global".

Hal ini dilakukan karena Komunitas Adat dan Tradisi Kepercayaan Terhadap Tuhan YME di Indonesia menyadari masih menghadapi berbagai sandungan, prasangka negatif dan minimnya pengakuan. Termasuk anggapan tidak ber-Tuhan dan percaya tahayul, kata Wakil Kemendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti di sela pembukaan kongres di Surabaya, Minggu malam.

"Ini merupakan bukti komitmen pemerintah kepada Komunitas Adat dan Penghayat. Sudah saatnya semua prasangka buruk terhadap komunitas ini dihilangkan. Mari semua memastikan bahwa tidak ada lagi praktik diskriminasi terhadap mereka," kata Wiendu Nuryanti.

Menurut dia, bangsa ini telah memberikan pengakuan hukum bagi komunitas tradisi dan adat dengan dibuatnya piranti hukum. Hal tersebut sesuai yang tertera dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelayanan Komunitas Adat.

"Sehingga dalam berkegiatan sudah diaturan dalam perundang-undangan yang berlaku," ujar mantan Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) Yogjakarta tersebut.

Pihaknya berharap, melalui kongres ini mampu melahirkan rekomendasi yang dapat dijadikan pijakan dan hasilnya untuk menciptakan program dan kebijakan yang dibutuhkan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf berharap kongres nasional komunitas adat mampu memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

"Percaya kepada Tuhan YME itu konsekuensinya berbuat baik. Dari sini semuanya berharap muncul beberapa komunitas berbeda dalam menghayati kebaikan," paparnya.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul juga mengatakan, dari berbagai macam komunitas yang ada, tentu memiliki satu tujuan, yakni mencapai kejayaan dan menjunjung martabat bangsa.

"Inilah yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Inilah Indonesia," tukas mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut.

Sementara itu, dalam rangkaian jadwal ikut menjadi pembicara diantaranya Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Ahmad Sadikin dan Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepanji. Kemudian, sejumlah ilmuwan, peneliti, praktisi dan tokoh organisasi nonpemerintah.
(pso-165/C004)

Editor: Awi
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarasumsel.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar